Bahasa Hukum, Mengejar Ketinggalan, Pongah dengan Sombong

Posted on 4 Oktober 2007. Filed under: Bahasaku-Bahasamu |

Dalam sesi diskusi, seminar, dan lokakarya kebahasaan, bahasa hukum sering dikecualikan dari ranah kebahasaan. Kebanyakan orang mafhum kalau bahasa hukum dikecualikan. Bebas dari aturan kebahasaan, entah baku entah nonbaku. Pada sesi yang lain pembawa acara dan pejabat negara kerap menyampaikan wacana mengejar ketinggalan. Selain itu, frasa pongah dengan sombong ternyata menjadi bahan diskusi yang menarik. Simaklah isi pernyataan berikut ini.

 

Bahasa hukum

Materi muatan perundang-undangan mengandung asas:a. pengayoman;b. kemanusiaan;c. kebangsaan;d. kekeluargaan;e. kenusantaraan;f. bhineka tunggal ika;g. keadilan;h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan;i. ketertiban dan kepastian hukum; danj. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. 

Kaidah bahasa dalam undang-undang adalah sebagai berikut.

 1. Ayat dan pasal dalam undang-undang harus eksplisit, dan tidak boleh implisit.

2. Bahasa undang-undang harus monosemantis, dan jangan ambigu (jangan tafsir ganda).

3. Bahasa hukum harus tunduk juga ke hukum bahasa.  

Frasa mengejar ketinggalan

Pertanyaannya mungkinkah kita mengejar ketinggalan? Dapatkah sesuatu yang sudah tertinggal jauh di belakang itu, lalu dikejar. Bagaimana mungkin ketinggalan itu harus dikejar. Biasanya orang mengejar sesuatu karena sesuatu yang dikejar ada di depan atau ada pada masa depan, bukan ada di belakang, apalagi pada masa lalunya. Memang tidak dapat disangkal bahwa orang yang mengejar sesuatu karena ia ketinggalan dari sesuatu yang dikejar. Oleh karena itu, ia harus mengejar sesuatu karena ia ketinggalan dari sesuatu yang dikejar. Ia harus mengejar sesuatu; ia yang menjadikannya tertinggal. Namun, ia bukan mengejar sesuatu yang tertinggal atau bukan mengejar sesuatu yang ketingggalan. Orang sedang mengejar kemajuan yang dicapai oleh orang lain supaya orang yang mengejar itu bisa sama dengan orang lain yang dikejar. 

Frasa pongah dengan sombong

Orang yang pongah terasa lebih sombong daripada orang yang sombong. Orang yang pongah tidak memilki apa-apa tentang apa yang dipongahkannya. Namun, orang yang sombong masih memiliki apa-apa yang disombongkannya itu. Orang yang pongah terasa “lebih kosong”, “lebih tidak punya apa-apa”, atau “lebih pongah” daripada orang yang sombong, misalnya. Ia hanya mempongahkan kekayaan orang tuanya.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Bahasa Hukum, Mengejar Ketinggalan, Pongah dengan Sombong”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

sebenarnya bahasa hukum itu ndak perlu rumit koq, menjadi rumit karena dibuat oleh para politisi


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: