Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia Kerap Berunsur Politis

Posted on 3 Oktober 2007. Filed under: Bahasaku-Bahasamu |

Penulisan unsur serapan dan transliterasi kata dari bahasa Arab selalu menarik. Selain menarik, unsur kata dan istilah Arab tak ada habisnya dikupas. Namun, pungutan bahasa Arab dalam bahasa Indonesia kerap berhubungan erat dengan ranah keagamaan — yang di Indonesia beralaskan politis. Oleh karena itu, persoalan pungutan kata dan istilah Arab kerap melenceng dari unsur ilmiah. Akibatnya, menurut Drs. Aliudin Wahyudin, pengajar bahasa Arab dari Universitas Indonesia ini menggarisbawahi perlunya pemahaman masyarakat bangsa dan negara Republik Indonesia untuk menyikapi dengan bijak.

Minal aidzin wal faidzin dan halal bilhalal sebagai kata dan istilah, ternyata ini pungutan bahasa Arab yang kreatif buatan orang Indonesia. Di negara Arab, kata Drs. Aliudin Wahyudin, tak ada kata dan istilah itu. “Banggalah kita karena kreatif asli orang Indonesia menemukan kata yang di negara asalnya sendiri tidak ada kata dan istilah itu.”

Sejumlah kata Arab menurut catatan Drs. Aliudin Wahyudin dari harian, majalah, dan tayangan televisi bervariasi. Misalnya akidah, aqidah; Al-Quran, al-Quran, Alquran; Asar, ashar (waktu asar); Dai, da’I; Dakwah, da’wah; Dzikir, zikir; Fardu, fardhu, fardlu; Hadis, hadith, hadits; Istigfar, istigfar; Iktikaf, i’tikaf; Istikharah, istikhoroh, istikarah; Istighatsah, istighotsah; Istighatsah, istighotsah; istigasah; Intigadhah, intigadhoh, intifadah; Shalat, sholat, salat; Syiah, Syi’ah; Shohih, sahih.

Di samping sejumlah kata Arab yang tertera pada media massa, Drs. Aliudin Wahyudin menggarisbawahi bahwa pemakaian kata-kata Arab hendaknya berpegang pada Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi terbaru. Dalam catatannya ada 15 entri A, sembilan entri B, 12 entri D, 15 entri F, sembilan entri G, 12 entri H, 22 entri I, sembilan entri J, 30 entri K, tiga entri L, 28 entri M, empat entri N, 14 entri R, 20 entri S, tujuh entri T, lima entri U, tujuh entri W, enam entri Y, dan tujuh entri Z. Bagi pemakai, di luar kekecualian atas permintaan lembaga keagamaan seperti majelis ulama Indonesia, rujukan kata-kata Arab tetap mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Yang terpenting dari serapan dan transliterasi bahasa Arab dalam bahasa Indonesia, pemakaiannya konsisten. Kalau unsur politis jadi pertimbangan, ya pakailah kata itu secara konsisten, pesan Drs. Aliudin Wahyudin di hadapan empat puluh peserta diskusi bahasa di harian Kompas, Jakarta, Selasa 2/10. Acara diskusi dimulai pukul 15.00 dan ditutup dengan buka puasa bersama. Trias Kuncahyono, Wakil Pemimpin Redaksi Kompas berkenan membuka diskusi bahasa yang dimoderatori oleh Thahir D. Asmadi, Ketua Umum Forum Bahasa Media Massa.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia Kerap Berunsur Politis”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: