Penulisan Kata Serapan Arab

Posted on 2 Oktober 2007. Filed under: Bahasaku-Bahasamu |

Penulisan kata serapan Arab menjadi makalah pembuka dari Martin Moentadhim S.M., anggota pendiri Forum Bahasa Media Massa. Makalah ini disampaikan pada acara buka puasa bersama di harian Kompas, Selasa 2/10, pukul 15.00 WIB. Berikut ini makalah lengkapnya.

APA PERSOALAN inti yang kita — kaum persuratkabaran — hadapi dalam menuliskan kata serapan dari bahasa Arab? Kalau kita mau jujur, itu sebenarnya terletak semata-mata pada pedoman transliterasi Arab-Indonesia. Masalahnya ialah pemerintah, dalam hal ini Pusat Bahasa, mengikuti kecenderungan internasional, sedangkan mayoritas masyarakat muslim yang sangat berkepentingan dalam menjaga perasaan beragamanya masih menggunakan pedoman alih-aksara era tahun 1950-an, yang saya lebih suka menyebutnya Pedoman Arifin Temyang (PAT).

Dengan merujuk pada “sebagian” ketentuan International Standard Organization (ISO), Menteri Agama (Menag) dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI pada tanggal 22 Januari 1988 mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menag-Mendibud mengenai Sistem Transliterasi Arab-Indonesia. Kesulitannya ialah SKB berdasarkan ISO ini menggunakan huruf yang tidak bisa diketik meski kita menggunakan komputer canggih sekalipun.

Pada sisi lain, kaum cendekiawan Islam sering juga menggunakan caranya sendiri. Universitas Islam Negeri (UIN, dulu: Institut Agama Islam Negeri = IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (SHJ), misalnya, untuk para penyusun disertasi, sampai tahun 2006, masih menggunakan Pedoman Transliterasi Program Pasca-Sarjana IAIN SHJ tahun akademik 2000-2001.

Apa arti perbedaan ini?

Karena ISO/SKB menggunakan huruf dengan tanda baca yang tidak bisa diketik dengan mudah, maka berbagai jenis s dalam bahasa Arab berubah menjadi s biasa. Tampaknya inilah “tujuan terselubung” Pusat Bahasa yang ingin menjaga agar bahasa Indonesia tetap sederhana, baik dalam ejaan maupun kaidah. Demikian juga aksara d, t, dan z.

Padahal, bagi cendekiawan muslim, penyamarataan itu mengaburkan arti atau bahkan mengubah maknanya sama sekali. Walhasil, pada akhirnya, ISO/SKB Menag-Mendikbud tidak berterima di kalangan mayoritas muslim Republik Indonesia sampai sekarang.

Masih ada satu lagi masalah ejaan ini. Ada kecenderungan internasional, termasuk di Malaysia, yang mengalihaksarakan “syin” dengan “shin”. Contohnya yang terpampang di depan mata bila kita ke kantor bank tertentu ialah syar’i ditulis menjadi shar’i.

Terus terang, karena menghormati “perasaan mayoritas” tersebut, sampai hari ini saya tidak akan pernah berani menulis Al-Qur’an dengan istilah “Alquran” seperti yang disarankan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), apalagi “Alkoran” sebagai terjemahan dari istilah Prancis: l’Koran. Bahkan, dalam menyunting buku tertentu, saya tetap menggunakan kata Jum’at alih-alih dari “Jumat” KBBI. Padahal, bagi kita sebagai orang pers, persoalannya bisa disederhanakan: berpedomanlah pada KBBI.

Tentang deretan huruf Arab yang diterima oleh ISO dan SKB tanpa perubahan dari ejaan yang digunakan sebelumnya, saya ada satu ganjalan, yakni tentang huruf qåf: Kenapa pada setiap kata serapan Arab yang mengandung huruf q, aksara tersebut diubah menjadi k? Stt, hurufnya diterima, tapi tidak digunakan, seperti huruf Latin x. Misalnya:

istiqåmah – istikamah (KBBI, 1996: 390 kolom 1),

qånaah – kanaah,

Iråq – Irak,

Qåtar – Katar, dan

Laylat al-Qådr (harfiah: malam kebesaran atau malam penentuan) — Laélatulkadar.

Khusus untuk “kalbu’ dari “qålbu”, saya tidak akan persoalkan lagi, meski “kalb” (kaf lam bak) dalam bahasa Arab berarti “anjing”. Demikian juga kata: mukadimah (muqåddimah), maklumat, hakikat, dan tarekat. Dalam kasus ini, mestinya kata “korban” juga mencakup pengertian “qurban”.

Sebenarnya ada faktor sejarah dalam penulisan kata serapan Arab menjadi kata bahasa Indonesia. Dulu, pada masanya, bahasa Melayu bahkan ditulis dengan huruf Arab. Jadilah, apa yang kita sebut huruf Jawi {hurufnya Arab gundul (tanpa haråkat/jabarjèr) bahasanya Melayu) atau khususnya di kalangan pesantren: huruf pegon (hurufnya Arab gundul bahasanya Jåwå). Baru setelah orang Eropa: Portugal, Belanda, dan Inggris menjajah Indonesia, maka kita mulai menulis dengan huruf Latin, dan mau tak mau harus membuat pedoman alihaksara, termasuk dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia.

Faktor sejarah? Saya yakin, hampir seratus persen, Anda pasti tidak akan percaya kalau saya katakan bahwa kata “rakyat” itu serapan dari bahasa Arab. Dalam perkara kuno ini, saya akan mencontohkan betapa kata yang mengandung huruf “dl” dalam bahasa Arab berubah menjadi “l” atau “d” dalam bahasa Indonesia dan kita tidak pernah mempersoalkannya lagi. Sekadar contoh:

ridlå – rela. Tetapi, belakangan ada kebutuhan untuk menggunakan bahasa Arab ridlå begitu saja, tetapi kita menulisnya: ridho; Misalnya: ridho Ållåh atau keridloan Ållåh. St, bagaimana kalau kita menulisnya: rela Allah atau kerelaan Allah saja? Takut ada makna yang hilang?

dluhur (Arab) – luhur (Jawa) dan lohor (Indonesia).

Qådli – kadi. Anehnya, ketika Gan Si Cang diislamkan kembali oleh Mawlana Mahdum Ibrahim alias Sunan Bonang dan diberi nama baru berbahasa Arab: Qådli Zaka, sebutan dalam bahasa Jawa yang muncul setelah Gan Si Cang menjadi wali ialah Sunan Kalijågå atau dalam bahasa Indonesia: Sunan Kalijaga. Dan sejak itu percayalah orang bahwa Beliau itu asli Jawa. Padahal, ayahnya, Haji Gan Eng Cu, muslim Hanafi asal Cempå (di Annam atau Vietnam Selatan), yang adalah “dutabesar” Cina Dinasti Ming di Manila, yang kemudian dipindahkan menjadi “duta besar” di Tuban. Karena keberhasilannya membina hubungan baik dengan Måjåpahit, Maharani Suhita (k. 1400-1401 dan 1429-1447) memberinya gelar kebangsawanan aryå lengkap dengan tanah lunggu-nya dan jadilah ia Aryå Téjå, dengan gelar pemerintahanan Tumenggung Wil(w)åtiktå. Dengan demikian, selain dutabesar Ming, ia berfungsi rangkap sebagai “adipati” dan “syahbandar” Tuban, serta kaptèn (kepala) komunitas Cina muslim Hanafi di Måjåpahit. Anaknya yang lain, Gan Eng Wan alias Aryå Sugåndå, adalah bupati tanah perdikan (tepatnya: tanah mahkota) Tumapel.

Råmadlån – Puasa atau Ramadan.

hadlir – hadir.

Sepanjang pengalaman saya sebagai editor berita pada tahun 1981-1998 dan editor buku pada tahun 1999-2002 di Kantor Berita Antara dan penerbit Antara Pustaka Utama (APU) Jakarta, terus terang saja, saya lebih suka mengambil sikap sendiri ketimbang mempedomani Style Book Antara. Yang saya paling keberatan ialah penulisan nama orang dan negara Arab. Sekadar contoh:

Ketua Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan Kelompok Fattah: Yassèr Arafat, saya lebih suka menulisnya: Yassir Arafat. (Sama dengan kasus ini: negara Israil, alih-alih dari Israèl.)

Nama Presiden Libia Kolonel Muammer Khadhafy (dari ejaan Arab-Prancis), saya lebih suka menulisnya: Muammar Qåddafi setelah saya tahu Beliau berasal dari desa Qåddaf.

Kota Muscat ternyata ditulis dalam huruf Arab: Masqåt.

Saya berharap alih aksara nama orang dan negara Arab hendaknya langsung dari huruf dan bahasa Arab, bukan melalui ejaan internasional atau bahasa asing lain, misalnya bahasa Inggris atau Prancis, bahkan dari bahasa daerah, khususnya Jawa. Sekadar contoh:

Ismet Abdul Meguid – Ismath ‘Abd al-Majid (‘ dipakai karena ‘ dari ‘ain diterima).

Farouq Cader – Faruq Qådir.

Sèh Abdulkadir Jaélani — Syaikh ‘Abd al-Qådir al-Jillani (karena Beliau dari kota Jillan).

Abdullah bin Abdulkadir – ‘Abd Ållåh bin ‘Abd al-Qådir.

Belakangan, setelah saya pensiun dan terseret masuk “dunia lain” dan membeli dua buku rujukan, masing-masing karya J. Spencer Trimingham, Madzhab Sufi, dan Dr. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama, saya semakin terdorong untuk menulis secara alihaksara, walau terpaksa menulisnya dengan huruf miring. Artinya: sedapat mungkin saya cari tulisan Arabnya. Kenapa? Saya tidak mau terjerambab dalam salah arti dan tersesat dalam cara berpikir.

Saya menjadi kian hati-hati dengan istilah Arab setelah saya membaca sederetan buku Jåwå, terutama 12 jilid Centhini,[vi] Wirid Hidayat Jati R.M.Ng. Rånggåwarsitå, Darmågandhul, dan Gatholoco, yang secara serampangan menulis kutipan ayat Al-Qur’an dan istilah teknis tashåwwuf (KBBI: tasawuf, Buya HAMKA: tasauf) atau thåriqåt (tarekat) yang pada akhirnya menimbulkan salah paham berkepanjangan yang menjatuhkan martabat orang Jåwå. Sekadar contoh dari Martabat Tujuh:

amarah – al-nafs al-ammaråh (harfiah: jiwa yang tak menumbuhkan),

aluamah atau luwamah atau hawamah — al-nafs al-lawwamah (harfiah: jiwa yang tersalahkan),

mulhamah atau mulhimah – al-nafs al-mulhamah (harfiah: jiwa yang berwahyu),

mutmainah – al-nafs al-muthma’innah (harfiah: jiwa yang tentram),

radiyah – al-nafs al-rådliyyah (harfiah: jiwa yang berpuas diri),

mardiyah – al-nafs al-mardliyyah (harfiah: jiwa yang direlakan), dan

insan kamil – al-nafs al-kamilah (harfiah: jiwa sempurna).

Terakhir, saya ingin mengingatkan, meski saya mengajak Anda menulis kata Arab dengan cara alihaksara, mohon jangan Anda terlalu ber-fasih-fasih-ria, sehingga malah membuat Anda salah ucap dan dengan demikian, salah makna. Saya titip satu kata saja tentang ini: “sah” ucapkanlah “sah”, jangan Anda lisankan “syah”, karena kata yang saya sebut terakhir ini berarti “raja”.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

3 Tanggapan to “Penulisan Kata Serapan Arab”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

kenpa kuk penulisan seperti Az-Zahra itu dikasih strip ( tanda minus )dan setelah itu huruf besar maknaya apaan mohon penjelasanya

Saya kira itu pengaruh bahasa Arab. Mirip penulisan Al-Qur’an. Itu sebabnya Pusat bahasa merekomendasi penulisan: Alkuran. Seharusnya Az-Zahra ditulis: Azzahra.

Az-Zahra? Saya membedakan antara kata yang sebenarnya dan kata “sandang”. “Az” itu kan “al” = “the” (English) atau “itu” dalam bahasa Indonesia.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: