Pergelaran Ilmu dan Inovasi Universitas Riset

Posted on 7 Agustus 2007. Filed under: Berita |

Bernostalgia menyaksikan serbaneka ilmu dan inovasi persembahan Universitas Indonesia sungguh mengasyikkan. Asyiknya lagi aktivitas mahasiswa dan staf pengajar memperlihatkan bahwa kampus ideal plus ajang bisnis intelektual kian marak. Sekarang tak lagi berjarak antara aktivitas kampus dan kebutuhan masyarakat bangsa dan negara Republik Indonesia. Namun, mampukah komunitas mahasiswa dan pengajar kampus semakin mengembangkan nilai tambah menjadi kekuatan idiil dan komersiil yang mumpuni? Memang menjadi panutan dan teladan baik bagi kampus lain niscaya jauh lebih sulit mempertahankannya. Demikian tantangan besar dari pergelaran ilmu dan inovasi karya komunitas kampus terbesar di Tanah Air yang siap menyebar ke seantero jagat raya.

Gelar Ilmu dan Inovasi UI (1)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (2)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (3)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (4)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (5)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (6)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (7)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (8)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (9)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (10)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (11)

Dies Natalis Universitas Indonesia (UI) ke-57 tanpa inovasi ilmu dan teknologi amatlah terasa sia-sia. Oleh karena itu, kegiatan yang menuntut upaya mewujudkan visi dan misi UI ini tak dibiarkan berlalu begitu saja. Visi UI sebagai universitas riset dengan memperkenalkan hasilnya merupakan pengabdian yang patut mendapat acungan jempol. Apalagi kegiatan ini dilambari bentuk pengabdian kepada masyarakat dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi (information communication and technology).

Pergelaran ilmu dan inovasi UI bertajuk “Pengembangan UI sebagai Science Park” berlangsung di Balairung UI, 6–8 Agustus. Melalui kegiatan ini, seluruh fakultas dan program pascasarjana UI menampilkan karya ilmiah dan inovasi pengajar dan mahasiswa. Kegiatan yang mendapat sambutan resmi SBY, Presiden RI, Senin pagi 6/8, pukul 9.00. Dengan pendampingan para menteri, SBY pukul 10.20 meresmikan pengembangan Universitas Indonesia menjadi Science Park. Selanjutnya, SBY menerima cenderamata berupa produk riset UI. Pada pukul 10.30 Dr. Mirna Adriani mendemokan software voice recognition and search engine. Perangkat software ini mampu menerjemahkan ucapan lisan SBY ke dalam teks yang otomatis tertera pada layar komputer.

Sementara itu, menurut Dra. Henny S. Widyaningsih, M.Si., Kepala Kantor Humas dan Protokol UI, presiden mencanangkan UI sebagai science park sebagai penanda langkah awal UI menjadi universitas riset melalui aktivitas penghimpunan sumber daya manusia, sarana dan prasarana.

Rektor UI, Prof. Dr. Usman Chatib Warsa, Sp.MK., Ph.D. melalui science park bertekad menggalang kemitraan antara akademisi, pemerintah dan kalangan dunia usaha. “Melalui konsep ini, UI sebagai universitas riset tidak hanya melakukan pengembangan riset, tetapi juga menciptakan peluang dalam penerapan temuan-temuan ilmiah dalam dunia industri dan bisnis,” tandas rektor UI ini mantap.

Gelar Ilmu dan Inovasi UI (12)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (13)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (14)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (15)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (16)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (17)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (18)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (19)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (20)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (21)

Berikut ini teks lengkap sambutan Rektor UI, Prof. Dr. Usman Chatib Warsa, Sp.MK., Ph.D. berjuluk “Menyinergikan Kalangan Akademisi, Pelaku Bisnis, dan Instansi Pemerintah dalam Pengembangan Ilmu di Universitas Indonesia”. 

Yang terhormat,

Presiden Republik Indonesia, para menteri Kabinet Indonesia Bersatu, ketua dan para anggota Majelis Wali Amanat UI, ketua dan para anggota Senat Akademik UI, ketua dan para anggota Majelis Dewan Guru Besar UI, para sesepuh dan tamu kehormatan UI, para pimpinan Universitas dan Fakultas, para staf pengajar, staf administrasi, mahasiswa yang kami banggakan, serta para undangan yang kami hormati. 

Bismillahirrahmanirrahim, Ass. Wr. Wb.,

selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua. 

Pada hari ini, saya sangat bersyukur ke hadirat Allah SWT, atas izin dan ridho-Nya kita dapat bertemu dan berkumpul pada acara “Gelar Ilmu dan Inovasi UI” 2007. Acara ini membuktikan bahwa Universitas Indonesia secara proaktif berupaya menjawab tuntutan kewajiban pasal 5 Peraturan Pemerintah RI No. 152 Tahun 2000 untuk berkontribusi pada perkembangan iptek di Indonesia dan berupaya menerapkan konsep penyinergian kalangan akademisi, pelaku bisnis dan instansi pemerintah (Academicians, Business People, dan Government Agencies: ABG), sebagai sebuah konsep integral yang membantu pengembangan ekonomi Indonesia dengan mengimplementasikan pengembangan ilmu daij inovasi ilmu. 

Upaya menghidupkan kembali sektor industri formal agar perekonomian nasional bergerak dan hidup kembali, harus disertai program peningkatan pengembangan riset di universitas secara lebih serius, yang akhimya mampu memberdayakan mayoritas rakyat republik ini. Dan hal ini, tentu tidak terlepas dari dukungan pemerintah dan kepercayaan dari sektor industri. Pasar produk industri dapat diciptakan melalui penyinergian antara industri dan dunia pendidikan. Pendidikan tinggi dapat melakukan berbagai inovasi melalui riset dan pengembangan (R&D) agar mampu menerjemahkan budaya masyarakat menjadi sebuah teknologi, yang kemudian akan mampu menciptakan pasar bagi produk. 

Obsesi terhadap pengembangan ilmu yang bersifat hitech, advanced, dan frontier hendaknya membumi agar tidak terkesan sebagai kegiatan riset yang melulu hanya untuk kepentingan eksistensi riset. Pada kenyataannya, inovasi produk penelitian yang berorientasi pasar serta aplikasi teknologi untuk pengembangan daerah masih minim. Kegiatan “Gelar Ilmu dan Inovasi UI” ini merupakan media aktualisasi kompetensi keilmuan dalam upaya mewujudkan konstruksi beton ringan. Dari ilmu komputer, UI telah berhasil membuat software pengenalan wajah yang didukung lembaga UI sebagai Universitas Riset yang menjadi pusat unggulan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya. 

Para hadirin yang saya muliakan,

Universitas Indonesia mempunyai tanggung jawab tidak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia melalui hasil riset aplikatifnya. Sasaran jangka pendek dari kebijakan umum arah pengembangan UI 2007—2012 adalah mewujudkan integrasi multi-fakultas menjadi satu-kesatuan universitas, pendidikan tinggi berbasis riset unggul, dan mewujudkan enterprising university dengan perolehan nilai tambah dari hasil kegiatan riset, pengabdian masyarakat, dan ventura komersial. Dalam upaya mencapai upaya itu, Universitas Indonesia mengembangkan sebuah konsep Science Park sebagai era baru pengembangan ilmu dan teknologi di Indonesia berbasis universitas sebagai inkubator ilmu dan bisnis. 

Science Park dalam bahasa Indonesia adalah Taman Ilmu atau Taman Widya, di mana ilmu pengetahuan bertumbuh dan berkembang dalam lingkungan intelektual dengan dukungan berbagai fasilitas akademik dan riset. Acuan UI Science Park adalah sebuah Science Park berbasis pendidikan tinggi (universitas) dengan modal 1) keilmuan multidisiplin, 2) kemampuan SDM periset, 3) fasilitas laboratorium sebagai inkubator ilmu dan bisnis yang mampu mengembangkan dan menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dimanfaatkan langsung untuk kesejahteraan masyarakat. Inkubator ilmu dan bisnis adalah tempat untuk menumbuhkembangkan ilmu, menghasilkan ilmu dan teknologi yang mempunyai nilai komersial/bisnis dan pemanfaatan oleh masyarakat untuk kesejahteraan. 

Prakarsa ini akan mengarahkan sumberdaya multidisiplin UI untuk sinkronisasi dan harmonisasi riset dari multidisiplin keilmuan yang ada di UI sehingga menghasilkan sinergi antarbidang ilmu. Dengan demikian, akan meningkatkan produktivitas hasil riset yang siap dikomersialkan atau dimanfaatkan langsung oleh masyarakat untuk kesejahteraannya. 

Para tamu, segenap warga besar UI, dan undangan yang kami muliakan,

sebagai modal dasar, Universitas Indonesia seperti dikutip dari harian The Times Inggris merupakan peringkat 250 perguruan tinggi terbaik dunia dari 520 universitas dan saat ini merupakan universitas terbaik di Indonesia yang disusul setelahnya adalah ITB (ke-258) dan UGM (ke-270). 

Dalam bidang akademik, UI telah memanfaatkan teknologi informasi dan telekomunikasi SIAK NG (sistem informasi akademik dan kemahasiswaan new generation), sambungan ke internet sebesar 30 Mbps, fasilitas video conference, penggunaan smart card untuk mahasiswa, fasilitas Hot Spot untuk sambungan internet nirkabel, pengembangan sistem manajemen mutu (QMS) di setiap lini pelayanan dengan prosedur baku yang berkualitas internasional.

Di bidang sumber daya manusia, UI memiliki 189 guru besar tetap, 1.930 tenaga akademik tetap, dan 39.035 mahasiswa yang terdaftar di semester gasal 2006/2007. 

Di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat, UI telah bertahap menata 94 pusat-pusat riset/pusat kajian dan 200 laboratorium multidisiplin di masing-masing fakultas. Di mana setiap tahunnya UI mempublikasikan lebih dari 90 artikel ilmiah terbaik dari berbagai bidang ilmu di jurnal ilmiah internasional yang memiliki peringkat Citation Index and Impact Factors serta ratusan artikel ilmiah di jurnal nasional terakreditasi. Selain staf pengajar, mahasiswa pun terarah atas nama UI berpartisipasi dalam penulisan karya ilmiah populer yang dimuat berbagai media massa nasional dan lokal, di mana hal ini merupakan bentuk kepedulian sosialisasi ilmu pada masyarakat secara langsung. Hal ini merupakan kekuatan luar biasa dalam pengembangan Science Park ke depan. 

Bapak Presiden RI dan para hadirin yang saya muliakan,

setiap tahunnya nilai riset tercatat di UI mengalami peningkatan. Tahun 2005 nilai riset berjumlah 350 juta, tahun 2006 adalah Rp1.006.000.000, nilai riset tahun 2007 yang berasal dari luar UI seperti hibah bersaing, rapid, riset kolaboratif, riset insentif, dosen muda dan kajian wanita mencapai 11.601.353.500, dari universitas seperti riset unggulan UI, riset infrastruktur, riset inovatif dan riset S2 dan S3 mencapai Rp6.075.653.895, jumlah kumulatif sementara s.d. Juli 2007 ditambah dengan dana riset di fakultas (pusat riset) dan estimasi dana riset dari masyarakat (skripsi, tesis, disertasi = 16.000/tahun) adalah Rp227.677.007.395. 

Jumlah ini masih dirasa kurang untuk bisa lebih fokus untuk bisa spesifik dalam jangka waktu pendek. UI Science Park dengan incubator ilmu dan bisnisnya akan meningkatkan produktivitas riset multidisiplin kolaboratif menjadi berlipat ganda dalam waktu yang lebih singkat. Untuk itu, UI memerlukan dana riset tambahan yang didedikasikan untuk produk tertentu sebesar 150 milyar setahun selama lima tahun. Oleh karena itu, kami mohon agar pemerintah dapat mendanai riset spesifik dengan memberi target dalam waktu kurun 5-7 tahun untuk dapat menghasilkan minimal 10 produk yang bernilai komersial tinggi dan dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat Indonesia. 

Beberapa bukti produk riset multidisiplin UI adalah Produk Alami dan Fitofarmaka dan Katalis Bahan Bakar otomotif pengganti BBM, aspal dan konstruksi beton ringan. Dari ilmu komputer, UI telah berhasil membuat software pengenalan wajah yang didukung berbagai bidang ilmu lainnya untuk dapat membantu pengembangan ilmu forensik dalam membantu pemberantasan teroris, dan mengidentifikasi korban bencana. Potensi produk riset lain di antaranya adalah teknologi kedokteran dan voice recognition untuk kepentingan teknologi komunikasi. UI menyediakan diri secara institusional untuk dimanfaatkan oleh presiden dan pemerintah Indonesia sebagai think tank pemikir, konseptor, pembuat program, memonitor dan evaluasi dari program pembangunan di Indonesia, mengingat UI memiliki keilmuan komplet dan berada di Jakarta sebagai jantung pemerintahan. 

Segala hasil penelitian dan inovasi UI kami dedikasikan kepada Indonesia.

Mohon niat baik kami ini dapat diterima oleh presiden RI untuk dimanfaatkan dalam membangun Indonesia. Kami memohon agar UI diberi kepercayaan untuk mengundang swasta, pengusaha nasional dan lembaga internasional untuk berinvestasi di UI Science Park sebagai incubator ilmu dan bisnis. Untuk itu, kami mohon bapak Presiden untuk meresmikan dan merestui rencana UI merealisasikan UI Science Park sebagai Science Park pertema di Indonesia. 

Kami mohon UI dipercaya untuk memberikan contoh dalam sistem pendidikan dan pendayagunaan SDM UI kepada universitas lainnya baik negeri maupun swasta dalam membangun citra positif dunia pendidikan yang berkontribusi langsung bagi pembangunan Indonesia. 

Kami mohon dukungan dan partisipasi civitas UI, dunia industri, masyarakat bisnis, dunia internasional, dan masyarakat luas lainnya untuk dapat bekerjasama membangun Indonesia melalui riset.

Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam upaya konseptualisasi, pengembangan, dan realisasi UI Science Park.

Semoga upaya ini menjadi bagian penting untuk bersama dalam sinergi mewujudkan cita-cita besar Universitas Indonesia menjadi universitas riset bertaraf internasional. 

Bapak/Ibu para undangan dan hadirin yang kami hormati. Semoga Allah SWT melimpahkan kepada kita kepedulian, kebersamaan, saling percaya satu dengan yang lain, kesabaran, kekuatan dan determinasi dalam upaya menghela UI dan bangsa ini ke tataran yang lebih maju, berkualitas, sejahtera, dan diperhitungkan dunia.

Wabillahi taufik wal hidayah, Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

Gelar Ilmu dan Inovasi UI (22)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (23)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (24)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (25)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (26)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (27)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (29)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (30)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (31)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (32)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (33)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (34)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (35)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (36)Gelar Ilmu dan Inovasi UI (37)

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

3 Tanggapan to “Pergelaran Ilmu dan Inovasi Universitas Riset”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

saya sangat tertarik dengan apa yang anda tulis dan sampaikan di atas.terus kembangkan dan selalu coba untuk menerapkan ilmu-ilmu yang anda dapatkan. mari kita bangun Indonesia tercinta kita ini dengan pengetahuan yang kita miliki agar supaya bisa terus maju maju dan maju.OK!

terima kasih

(Dikutip dari: materi Strategic Forum – QPlus Management Strategies 2008)

Strategi Filsafat Penelitian Milenium III
(Butanya Dasar Belajar Mengajar: Theory of Everything)
Oleh: Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. MEREKA (para peneliti – QZ) seakan-akan pelukis yang mengumpulkan tangan, kaki, kepala dan anggota-anggota lain bagi lukisannya dari macam-macam model. Masing-masing bagian dilukis dengan sangat bagus, tetapi tidak dihubungkan dengan satu tubuh sendiri, dan karena sama sekali tidak akan cocok satu sama lain, hasilnya akan lebih merupakan monster daripada manusia (Nicolas Copernicus).

APAKAH (ilmu) pengetahuan yang terkumpul, dipelajari, dimiliki dan diajarkan selama ini masih berupa monster? Bayangkan sosok gambaran seluruh (ilmu) pengetahuan semesta yang berserakan. Lebih kecil lagi, seluruhnya di satu pustaka. Lebih kecil lagi, di satu cabang ilmu. Lebih kecil lagi, di satu bidang ilmu. Lebih kecil lagi, satu hal sosok gambaran tentang semut, puisi, manajemen atau jembatan saja, terdiri atas potongan kacau banyak sekali. Potongan-potongan tulisan sangat bagus sampai buruk, jelas sampai kabur, dan benar sampai salah besar, yang tak menyatu, tumpang tindih dan bahkan saling bertentangan meski hal yang sama sekalipun. Ini membuat sulit siapa pun meneliti, belajar dan mengajarkan, ditandai dengan polemik panjang.

Mengapa bisa demikian? Ada analogi menarik cerita lima orang buta ingin mengetahui tentang seekor gajah, yang belum pernah tahu gambaran binatang itu. Selain buta, tubuh mereka berbeda-beda tinggi badannya. Mereka pun berbaris berjajar, menghadap seekor gajah besar yang di keluarkan pemiliknya dari kandang. Orang yang pertama agak tinggi badannya, maju meraba bagian depan memegang belalai dan mengatakan gajah itu seperti ular. Yang kedua sedang badannya, meraba mendapati bagian kaki dan mengatakan gajah seperti pohon kelapa. Yang ketiga tinggi badannya, memegang bagian kuping dan mengatakan gajah seperti daun talas. Yang keempat paling pendek badannya, maju di bawah perut gajah tidak memegang apa-apa dan mengatakan gajah seperti udara. Yang kelima pendek tubuhnya, maju meraba bagian belakang memegang ekor dan mengatakan gajah itu seperti pecut. Tentu, pemahaman gajah sesungguhnya dari kelima orang buta ini akan berbeda bila disodorkan gambar ukiran timbul atau patung kecil seekor gajah sebelumnya.

Seperti itulah, siapa pun yang hanya memahami satu sudut pandang cabang (ilmu) pengetahuan sebagai gambaran pemecahan suatu masalah, tanpa luasan pandang menyeluruh (ilmu) pengetahuan. Memang, merupakan hukum alam segala sesuatu yang seragam (besar sedikit jumlahnya) makin lama makin beragam (kecil banyak jumlahnya), dan pada tingkat kekacauan dibutuhkan sistem keteraturan untuk memahaminya sebagai satu kesatuan. Tetapi, nampak (hampir) mustahil (karena tenaga, waktu dan biaya terbatas) mempelajari seluruh cabang (ilmu) pengetahuan mendapatkan pemahaman luas dan dalam semesta untuk suatu masalah. Betapa beruntung dunia andai sosok kecil gambaran satu kesatuan the body of science itu ada. Gambaran rangkuman prinsip-prinsip satu kesamaaan semua hal dari sekian banyak perbedaan dalam semesta, sebuah Theory of Everything (TOE).

JIKA Anda tahu bagaimana alam semesta ini bekerja, Anda dapat mengaturnya (Stephen William Hawking).

Kemudian, bagaimanakah mengetahui seseorang (dan juga diri sendiri) sebenarnya tergolong buta (karena tanpa TOE) terhadap sosok (ilmu) pengetahuan dimiliki sekarang?

Dengan sopan dan rendah hati, semua peneliti, pengajar atau siapa pun bidang apa pun harus menanyakan: Apa prinsip dasar asumsi penelitian, belajar dan mengajar (ilmu) pengetahuan yang diteliti, dimiliki atau diberikan? Jika jawaban berupa kalimat retorika atau basa-basi, mungkin ia (dan kita) tergolong masih buta tentang the body of science hal bidang ilmu pengetahuan itu.

Lalu, apa rangkuman (kecil) prinsip dasar asumsi TOE dalam meneliti, belajar, mengajar dan mengelola ilmu pengetahuan hal apa pun?

KETIDAKMAMPUAN seseorang untuk menjelaskan idenya secara singkat, barangkali dapat merupakan tanda bahwa dia tidak mengetahui pokok persoalan secara jelas (C. Ray Johnson).

Ilmu pengetahuan (obyek empiris) dinyatakan benar ilmu pengetahuan selama asumsi dasar diakui, yaitu ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang teratur (systematic knowledge) (pernyataan yang diterima setelah abad XVII) (The Liang Gie, 1997:380). Tanpa asumsi dasar keyakinan adanya keteraturan ini, proses meneliti, belajar mengajar apa pun yang di bangun di atasnya hanyalah potongan-potongan pengetahuan yang tidak efektif, efesien dan produktif. Seperti pernyataan jernih ilmuwan Carl Sagan, bahwa jika kita hidup di atas sebuah planet di mana segala sesuatu tidak pernah berubah, sedikit sekali yang bisa dikerjakan. Tidak ada yang harus dibayangkan, dan tidak akan ada dorongan untuk bergerak menuju ilmu pengetahuan. Namun jika kita hidup di dalam dunia yang tidak bisa diramalkan di mana semua hal berubah secara acak atau dengan cara sangat rumit, kita juga tidak akan bisa menggambarkan semua keadaan. Di sini juga tidak ada ilmu pengetahuan. Tetapi kita hidup di dalam semesta yang berada di kedua keadaan ini. Di alam ini semua keadaan berubah, tetapi mengikuti pola, aturan, atau mengikuti yang kita katakan sebagai hukum-hukum alam.

Lebih jelas, prinsip dasar asumsi keteraturan ini diurai Jujun S. Suriasumantri (1977:7-9) dengan baik, yaitu obyek empiris (tertentu) itu serupa dengan lainnya seperti bentuk, struktur, sifat dan lain-lain, lalu (sifat) obyek tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu (meski pasti berubah dalam waktu lama yang berbeda-beda), serta tiap gejala obyek bukan bersifat kebetulan (namun memiliki pola tetap urutan sama atau sebab akibat). Akhirnya, saya memastikan rincian prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan ini dalam TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Science, bahwa definisi ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang memiliki susunan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang teratur. (Teratur pada TQZ Scientific System of Science adalah teratur sama dalam fungsi, jumlah, urutan, kaitan, dan paduan menyeluruh di semesta meski hal berbeda apa pun). Sebuah TOE, jawaban masalah dasar dan besar yang menghantui pikiran manusia selama dua ribu tahun atau dua millennium.

TEORI adalah sekelompok asumsi masuk akal dikemukakan untuk menjelaskan hubungan dua atau lebih fakta yang dapat diamati, menyediakan dasar mantap memperkirakan peristiwa masa depan (JAF Stoner).

TOE penting sekali dalam meneliti, belajar mengajar dan mengelola bidang apa pun. Memecahkan suatu masalah sulit, tetapi mengenali (fenomena) masalah lebih sulit lagi. Dengan mengetahui dan memahami TOE, sangat membantu mengenali bila berhadapan atau merasakannya. Misal, seseorang telah disodorkan gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan akan lebih mudah untuk mengambil kesimpulan jika suatu saat menghadapi (fenomena) satu atau banyak masalah, meski belum pernah dikenalnya. Jadi, fungsi TOE – pada TQZ Scientific System of Science tak lain sebuah paradigma scientific imagination benchmarking sistematis, berupa metode synectic kreatif menggunakan metafora dan analogi rinci menuntun suatu usaha memilih jalur proaktif terhadap suatu hal dengan memperhatikan fakta dan kemungkinan yang telah diidentifikasi dan dileluasakan, dengan lima dasar (posisi), fase (kualitas) dan level (sempurna). Suatu mental image atau model ilmiah analogi fenomena semesta dalam bentuk keteraturan yang dapat dipahami.

Contoh sederhana (meski sebagai TOE belum cukup teratur), jika gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan tubuh mahluk hidup sempurna memiliki kepala, dada, perut, tangan dan kaki, sedang lainnya berupa bagian tambahan tubuh. Maka, seseorang yang meyakini dan memahami keteraturan ini akan melihat persamaan fungsi tubuh pada ikan gabus, kupu-kupu, monyet, ular dan burung pipit, selain perbedaan bagian itu. Dengan prinsip dasar asumsi keteraturan itu, tubuh mahluk hidup akan lebih mudah diteliti, pelajari dan diajarkan dengan benar, bahkan terhadap mahluk hidup unik lain yang baru dilihat.

KARYA seorang ilmuwan berlandaskan keyakinan bahwa alam pada pokoknya teratur. Bukti yang menunjang keyakinan itu dapat dilihat dengan mata telanjang bukan hanya pada pola sarang lebah atau pola kulit kerang, tetapi ilmuwan juga menemukan keteraturan pada setiap tingkat kehidupan (Henry Margenau).

Bukti monster (ilmu) pengetahuan demikian besar, merugikan dan banyak di sekeliling. Contoh monster-monster itu, dalam seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah di mana-mana tidak menyuguh keteraturan. Misal, bahasan mencipta puisi, cara menulis, atau mendefinisikan sesuatu saja, tanpa jelas kepala, tangan, badan, perut, dan kakinya, bahkan tanpa memastikan yang dijelaskan itu adalah bagian kaki atau kepala. Atau lebih parah lagi, tidak diketahui apakah yang disajikan itu kaki, jari, atau gigi, karena jumlahnya demikian tidak tetap dan berbeda. (Perhatikan kesimpulan utama penyebab masalah dan pemecahannya bidang ilmu hal yang sama sekali pun, bisa satu, dua, tiga, empat, lima, enam, sembilan, tujuhbelas, limapuluhdua, dan seterusnya, belum lagi bicara keteraturan urutan dan kaitan antar penyebab atau antar pemecahan yang disebutkan itu). Apalagi membahas masalah mengenai cara mengatasi krisis pangan, krisis energi atau strategi keunggulan usaha (suatu organisasi, daerah, bahkan negara), pasti monster lebih mengerikan.

Contoh nyata monster raksasa, menunjukkan belum teraturnya kelompok ilmu sebagai ilmu pengetahuan. Deobold B. Van Dalen menyatakan, dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ilmu-ilmu sosial agak tertinggal di belakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-imu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam artian yang sepenuhnya. Di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu sosial akan berkembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. Menurut kalangan lain adalah tak dapat disangkal bahwa dewasa ini ilmu-ilmu sosial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. (Ilmu dalam Persfektif, Jujun S. Suriasumantri, 1977:134). Juga C.A. Van Peursen, dalam tahap perkembangan ilmu pengetahuan kemajuan bidang ilmu alam lebih besar daripada ilmu kehidupan, dan ilmu kehidupan lebih maju dari ilmu kebudayaan (Strategi Kebudayaan: 1976:184-185). Sedang di dunia akademi, berjuta-juta hasil penelitian seluruh dunia kurang berguna dan sukar maju karena berupa monster maha raksasa, tanpa TOE yang merangkai sebagai satu kesatuan the body of science.

Akhirnya, bagaimana mungkin (manusia) siapa pun yang terlibat proses meneliti, belajar, mengajar dan menggunakan ilmu pengetahuan sepanjang hidup dapat berpikir tenang, selama prinsip dasar asumsi keteraturan (ilmu) pengetahuannya belum beres? Sebab, jika prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan yang didapat dan diberikan saja kebenarannya meragukan, maka kredibilitas kemampuan, nilai, gelar (dan status) seseorang (dan organisasi) itu pun diragukan. Karena, sebenar atau setinggi apa pun nilai memuaskan didapat dari pendidikan dengan pelajaran bahan yang buruk atau salah, tetaplah buruk atau salah, (setelah mengetahui bagaimana kebenaran suatu hal itu) sebenarnya. Dan, tanpa keteraturan TOE, penelitian dan belajar mengajar, seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah terus menghasilkan monster di mana-mana. Banyak buang tenaga, waktu dan biaya percuma. Fatal dan mengerikan.

LEBIH baik menjadi manusia Socrates kritis yang tidak puas, daripada menjadi babi tolol yang puas (Henry Schmandt).

BAGAIMANA strategi Anda?
*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: