Mengemas Seni Pertunjukan Berdaya Jual

Posted on 19 Juli 2007. Filed under: Makalah |

Budaya industri seni pertunjukan mau tak mau merasuki budaya masyarakat bangsa dan negara Republik Indonesia. Mau menonton asal ada saweran, mau menikmati budaya sakral dan budaya khas Nusantara asal berbayar. Penonton barulah boleh menikmati seni pertunjukan. Kultur industrial mulai masuk dalam kemasan dan paket hiburan yang berdaya tarik yang bernilai jual. Pola bayar-membayar untuk menonton seni pertunjukkan ini, meski akhirnya menuai protes karena saban pentas kerap diperjualbelikan dan diperdagangkan justru menimbulkan ketegangan. Mau kemana seni industri dan seni pertunjukan di Indonesia ini? Jawaban dari Butet Kartaredjasa, pemakalah berjuluk “Seni Pertunjukan dan Kultur Industrial?” (Kamis 12/7 pukul 10.00 WIB di Ruang Merak Balai Sidang Jakarta pada Pekan Produk Budaya Indonesia) boleh jadi cocok dengan kondisi seni pertunjukan dan kultur industrial saat ini.

Yang pertama-tama perlu dicermati ketika membicarakan perihal hubungan antara seni pertunjukan dengan laju perkembangan industrial adalah pembedaan antara seni pertunjukan sebagai aktivitas atau proses dan seni pertunjukan sebagai produk. Memang antara proses dan produk seharusnya tidak terpisah. Tapi di sini yang harus dibedakan dengan jelas adalah bahwa proses dalam seni pertunjukan mengacu pada aktivitas sosial atau aktivitas yang memiliki akar kuat dalam kultur masyarakat tradisional kita. Di sini seni pertunjukan merupakan bagian dari budaya tradisional seperti dalam ritual-ritual keagamaan atau upacara tradisional yang lain.

Dalam aktivitas tradisional semacam itu, seni pertunjukan sama sekali berbeda dengan aktivitas dalam kebudayaan industrial. Upaya komodifikasi terhadap seni pertunjukan sebagai proses dapat dikatakan nyaris mustahil karena kegiatan sosial semacam itu merupakan bagian dari pemenuhan kebutuhan komunal masyarakat tempat seni tersebut tumbuh. Seni pertunjukan tidak akan mati jika masyarakat penyangga yang tradisional itu masih hidup, ini dapat kita jumpai dalam berbagai seni pertunjukan tradisional di Jawa, Bali, dan berbagai suku yang lain.

Wayang kulit adalah contoh yang paling bagus. Hingga hari ini pergelaran wayang kulit tidak pernah mati dan para dalang wayang kulit masih terus bertahan di tengah gempuran industri hiburan modern. Salah satu menyebab bertahannya pertunjukan wayang kulit adalah pola kehidupan tradisional yang kuat meski para penonton sudah memasuki cara hidup modern. Upaya modifikasi atau pemoderan gaya pertunjukan wayang kulit (dengan instrumen musik dan bintang tamu selebritis misalnya) hanya berguna sebagai aksen. Istilah Jawanya hanya sebagai penglaris. Selebihnya wayang kulit tetap bertahan dengan pola tradisional, mulai dari pakem cerita hingga bangunan aksesori yang dibutuhkan dalam musik atau plot yang sudah menjadi baku.

Wayang kulit di Jawa (Tengah) masih menjadi bagian dari upacara sosial yang penting. Artinya, wayang kulit tidak hanya dilihat sebagai produk, melainkan bagian dari ekspresi dan artikulasi sosial-budaya para penonton. Dia memiliki akar yang kuat dalam kesadaran para penonton. Wayang kulit juga masih menjadi bagian penting dari kebudayaan lisan masyarakat Jawa. Dalam kasus wayang kulit, antara proses dan produk sama sama penting. Proses dalam arti bahwa wayang kulit adalah seni pertunjukan lisan yang hidup dan tumbuh dalam masyarakat dalam budaya lisan yang kuat. Sementara produknya (pertunjukan wayang kulit) itu merupakan perwujudan dari budaya lisan Jawa yang sampai sekarang belum tergantikan oleh seni pertunjukan modern yang ada.

Seni pertunjukan modern (drama, film, sinetron) yang diproduksi oleh industri hiburan di Indonesia selama ini selalu menggunakan bahasa Indonesia, sementara masyarakat kita dalam kehidupan sehari-hari masih banyak yang menggunakan bahasa daerah masing-masing. Artinya, seni pertunjukan modern belum menjadi bagian (proses) berbahasa masyarakat di daerah-daerah. Maka, seni pertunjukan semacam ini hanya dapat diambil sebagai produk, dan bukan sebagai proses.

Dalam budaya industrial yang mementingkan produk massal, seni pertunjukan hams dilihat sebagai produk. Dalam kebudayaan tradisional seni pertunjukan lebih dilihat sebagai proses. Maka, jika berbicara bagaimana membangkitkan seni pertunjukan sebagai bagian dari industri, kita harus mengambil sebagai produk. Maka jika orang menciptakan seni pertunjukan dalam budaya industrial, orientasinya juga produk.

Pertanyaannya adalah, bagaimana memproduk seni pertunjukan melulu sebagai produk jika tidak didukung oleh proses yang kuat? Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa seni pertunjukan sebagai seni (kreatif) akan menghadapi bahaya jika harus memenuhi arus percepatan produksi massal dalam kecepatan tinggi. Banyak seniman seni pertunjukan (berbasis seni tradisi atau seni modern) yang akhirnya menjadi mekanis akibat memenuhi tuntutan percepatan produksi. Para seniman menjadi kehabisan energi dan ide sehingga hanya mengulang-ulang produk.

Asasnya kemudian bukan pada kreativitas orisinal, melainkan pada reproduksi. Suatu produk akan direpro terus-menerus, kalau perlu dibuat ulang dengan versi baru, begitu seterusnya, agar memenuhi target (kejar tayang). Jika kemudian suatu produk dirasa sudah habis daya jual, maka dibuang saja lalu menciptakan bentuk lain yang belum tentu suatu inovasi baru. Masyarakat industrial pada dasarnya memang tidak peduli dengan orisinalitas. Sesuatu yang hari ini ngetrend dan dianggap baru, besok sudah usang dan dilupakan. Maka besoknya orang memerlukan sesuatu yang baru, meski hal itu hanya pengulangan dari yang lama. Kebaruan bukan pada isi, melainkan pada kemasan.

Itulah asas reproduksi dalam budaya industrial. Yang penting adalah tampilan atau kemasan, dan bukan substansi atau saripati atau isi di balik kemasan itu. Sebenarnya watak manusia industrial dalam hal ini tidak berbeda jauh dengan watak masyarakat tradisional (budaya lisan) yang cepat melupakan sesuatu dan besok mengunyah sesuatu yang lain. Besoknya lagi sudah bosan dan lupa dengan sesuatu itu, lalu melupakannya lagi. Begitu seterusnya.

Jadi, seni pertunjukan yang cocok dengan budaya industrial adalah seni pertunjukan yang mamu menyesuaikan diri dengan kebutuhan, yaitu seni pertunjukan yang mampu mengubah-ubah format dengan cepat sesuai tuntutan selera dan percepatan produksi secara massal. Untuk memproduksi seni pertunjukan semacam ini dibutuhkan proses yang berbeda dengan seni pertunjukan tradisional seperti yang dicontohkan dengan wayang kulit itu. Dari dulu, wayang kulit itu ya begitu-begitu saja. Tapi justru karena masyarakat penonton hidup di alam budaya lisan, maka tetap hidup.

Tapi dalam budaya industrial yang dibutuhkan adalah kecepatan. Dan itu hanya dapat dipenuhi dengan mereproduksi kemasan. Memang kadang dibutuhkan inovasi atau penemuan besar secara estetik-kreatif, tapi itu tidak selalu dapat dipenuhi. Penemuan besar tidak dapat dibuat tiap hari. Maka, jika ada penemuan besar, harganya sangat mahal. Kreativitas menjadi sangat berharga. Dan setelah kreativitas diperoleh, maka harus terus direproduksi ulang dengan tampilan atau kemasan yang berbeda-beda, disesuaikan dengan perkembangan selera konsumen.    

Itulah perbedaan pertama antara seni pertunjukan tradisional dan seni pertunjukan modern. Seringkali produsen seni pertunjukan yang berbasis seni murni yang mengandalkan kreativitas murni akan terengah-engah mengejar tuntutan produksi dalam industri hiburan modern. Kaum seniman ini tidak terbiasa dengan irama industri hiburan yang menuntut kecepatan. Lebih dari itu, cara bekerja mereka memang memiliki basis yang berbeda: kaum seniman murni berorientasi pada penemuan artistik (yang tidak dapat dibuat setiap hari) sementara kaum industrialis berorientasi pada reproduksi format atau kemasan.

Teater Citra

Tapi zaman ini adalah zaman kemasan. Image atau citra lebih penting ketimbang isi. Nah, di titik ini sebenarnya seni pertunjukan dapat menjadi komoditas yang menjanjikan. Kaum politisi membutuhkan citra yang bagus ketika tampil di media atau di depan khalayak. Kaum bisnisman membutuhkan penampilan atau performance yang oke. Mulai dari tampilan fisik hingga kekuatan mental untuk melakukan persuasi atau membangun human relation yang mumpuni. Tapi sayangnya mereka tidak pernah belajar atau dikursus teater atau dasar-dasar akting, misalnya. Akting di sini bukan untuk meningkatkan kemampuan berpura-pura atau berbohong atau mengkamuflase, melainkan kemampuan untuk mendorong ke puncak performa dirinya. Mereka jarang mendapat pelatihan bicara dengan baik, kemampuan vokal, gestur tubuh, konsentrasi, hingga improvisasi. Bahkan para artis film dan sinetron atau penyanyi jarang yang berlatih dasar-dasar seni pertunjukan (teater) dengan benar. Akibatnya sebagai pelaku seni pertunjukan mereka menjadi pating blasur, alias berantakan.

Politikus dan bisnisman pada dasarnya adalah para pelaku seni pertunjukan kita hari ini. Tapi mereka bukan aktor-aktor yang bagus. Mereka tidak menyadari bahwa zaman sekarang adalah zaman teater citra. Para aktor ini tidak menyadari bahwa mereka harus menguasai bahasa lisan yang baik, padahal masyarakat kita masih hidup dalam budaya lisan yang kuat. Jika sampai saat ini, seni pertunjukan bukan hanya sebagai produk tapi juga sebagai proses. Dalam budaya atau zaman citra (image) ini, kemampuan artikulasi (pengucapan) bahasa lisan menjadi sangat penting. Juga kemampuan visual (mematut-matut diri), termasuk kemudian melatih gestur tubuh, kemampuan improvisasi dan seterusnya. Zaman citra adalah zaman seni pertunjukan. Zaman kejayaan penampilan atau kemasan.

Beberapa Kesimpulan

Dengan uraian pendek di atas, beberapa kesimpulan dapat kita ambil. Pertama, seni pertunjukan tradisional sangat seuai dengan watak tradisional masyarakat. Di situ antara proses dan produk sama-sama memiliki dasar pijakan yang mengakar kuat.

Kedua, budaya industrial mementingkan produk yang massal. Tapi hingga sekarang, seni pertunjukan modern dalam budaya industrial di Indonesia belum ditopang oleh proses yang kuat. Kreativitas tetap penting di sini, tapi yang lebih penting adalah menciptakan reproduksi kemasan. Kreativitas bukan pada penemuan estetika murni, melainkan bagaimana
menciptakan format atau kemasan yang terus diperbarui sesuai tuntutan selera konsumen. Proses yang menopang kreativitas (dalam hal reproduksi) tersebut belum kuat sehingga tidak mampu memenuhi kecepatan dan kebutuhan industrial yang cepat dan skala besar itu. Seringkali seni pertunjukan modern tidak ditopang oleh tim kreatif yang kuat sehingga ide-ide reproduksi menjadi cepat habis dan kering.

Ketiga, di zaman teater citra (image) ini, seni pertunjukan (seperti ilmu teater misalnya) belum menjadi bagian penting dari para pelakunya. Para ahli citra seperti tim sukses calon presiden atau calon gubernur atau calon bupati misalnya dapat memanfaatkan seni pertunjukkan untuk memoles jago-jagonya. Begitu juga di bidang komunikasi massa seperti produsen seni hiburan modern dan para pemasar (marketer) di bidang periklanan mialnya, belum secara sungguh-sungguh memanfaatkan dan mendayagunakan seni pertunjukan secara maksimal.

Keempat, industri seni pertunjukan modern berkembang kian pesat, tapi software-nya tidak disiapkan dengan memadai. Dunia sekarang, entah itu politik, bisnis, media massa seperti televisi adalah sebuah panggung pertunjukan raksasa yang mengandalkan budaya lisan. Tapi sayangnya para pelaku hanya bermodal dengkul alias mengandalkan bakat alam belaka. Seni pertunjukan sebagai ilmu (yang dapat dijual) dalam industri seni pertunjukan belum dimanfaatkan secara sungguh-sungguh. Padahal, Indonesia sangat kaya dengan tradisi seni pertunjukan dari setiap etnik atau budaya lokal yang ada. Jika masyarakat kita masih kuat dengan budaya lisannya, kenapa banyak aktor di panggung industri hiburan maupun politik yang tidak bisa bicara dengan bagus, artikulatif yang enak ditonton? Kenapa kita semua kalau berbicara selalu pating blasur? Padahal, kita dibesarkan dengan budaya lisan, dan bukan budaya tulis? Itu semua karena kita tidak pernah memanfaatkan seni teater sebagai bagian dari seni pertunjukan.

Itu hanya sebuah contoh kecil, masih banyak hal-hal lain yang lebih buruk. Banyak hal yang lebih pating blasur pada kehidupan kita. Jika demikian, lalu bagaimana kita akan bicara soal budaya industrial, termasuk dalam seni pertunjukan?

Intinya, kita ini memiliki lahan dan potensi yang sangat besar, tapi lagi-lagi, semua dikelola degan acak-acakan. Masih mending ada pengelolaan. Yang terjadi bahkan tanpa pengelolaan. Yang acak-acakan itu menjadi semakin tidak jelas. Inilah zaman ketidakjelasan dalam segala hal. Zaman kekaburan dan kekacauan. Mana mungkin kita mau membangun budaya industrial, termasuk dalam bidang industri seni pertunjukan jika cara berpikir kita masih acak-acakan semacam itu? Bukankan budaya industrial menuntut suatu sistematika, strategi, perencanaan dan kecepatan yang penuh perhitungan?

Jadi, bagi saya, adalah hil yang mustahal/membangun atau membangkitkan seni pertunjukan dalam irama industrial yang benar-benar sementara watak kita sangat bertentangan dengan tuntutan budaya industrial itu sendiri. Maksud saya, mana mungkin membangun budaya industrial (dalam seni pertunjukan) sementara kita tidak memiliki modal disiplin yang dituntut oleh budaya industrial tersebut. Artinya, mana mungkin menciptakan produk sementara kita tidak mampu memenuhi syarat-syarat proses dibalik produk tersebut.

Ya, oleh karena itu, saya sebagai salah satu pelaku (sebagai orang agraris) yang acak-acakan, yang dapat saya lakukan hanyalah melakukan tarik ulur, kadang saya menjadi manusia industrial, kadang kembali ke habitat saya sebagai manusia tradisional, kadang menjadi kedua-duanya, atau kadang tidak menjadi kedua-duanya. Saya keluar masuk saja, ke sana ke sini, merangkum semua yang ada pada diri saya yang kacau ini untuk menjadi manusia sok modern dan industrial. Seni pertunjukan dan tradisi lisan bagi saya ternyata wahana atau sarana untuk keluar masuk itu. Kadang saya menulis kadang mbacot sana-sini, ngamen ini itu atau dalam istilah kerennya membuat pertunjukkan monolog. Kadang saya berada dalam budaya tulis, kadang budaya lisan. Semuanya bagi saya enak-enak saja. Tidak ada pertentangan atau kontradiksi atau apa pun namanya di situ. Itulah seni pertunjukan bagi saya. Dan lebih dari itu, ternyata keluar masuk, habis masuk terus dikeluarkan itu memang enak. Nggak percaya? Coba saja.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: