Warisan Budaya Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia

Posted on 11 Juli 2007. Filed under: Berita |

Seminar Warisan Budaya Indonesia 6Seminar Warisan Budaya Indonesia 4Seminar Warisan Budaya Indonesia 3Seminar Warisan Budaya Indonesia 2Produk Budaya Indonesia (e)Produk Budaya Indonesia (d)Produk Budaya Indonesia (c)Produk Budaya Indonesia (b)Seminar Warisan Budaya Indonesia 5

Orkestra produk budaya Indonesia yang berkolaborasi membentuk citra Indonesia bernilai tambah tengah jadi pusat perhatian. Pekan Produk Budaya Indonesia 2007, demikian jargon cara mengenal Indonesia dengan lebih baik di Balai Sidang Jakarta, 11–15 Juli. Namun, bagaimana cara mencapainya dengan tantangan globalisasi dunia dan budaya Indonesia sebagai produk dalam negeri yang bernilai jual? Mari Elka Pangestu, Menteri Perdagangan dan moderator Bunga Rampai Produk Budaya Indonesia untuk Dunia menyampaikan simpulan menarik bahwa warisan budaya Indonesia sebagai modal dasar telah terpenuhi. Apakah ada peran pemerintah untuk memperluas creative entrepreneur seperti pementasan I La Galigo yang awalnya nonkomersial tetapi ternyata kita bisa mengemasnya luarbiasa?

Produk Budaya Indonesia (a) Seminar Warisan Budaya Indonesia 1Seminar Warisan Budaya Indonesia 7

Seminar, lokakarya, dan dialog pada Pekan Produk Budaya Indonesia, Rabu 11/7 di Ruang Cenderawasih berlangsung mulai pukul 9.30–18.00 WIB. Menurut Mari Elka Pangestu, moderator peran HAKI sangat penting sebagai upaya merekam produk karya intelektual budaya Indonesia. “Yang terpenting bukan omdo,” tegasnya seraya menambahkan, sebagaimana yang dituturkan oleh Jero Wacik, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang menyampaikan materi “Warisan Budaya untuk Citra dan Kesejahteraan Bangsa”, mulai saat ini jangan omong doang, kita sudah mulai menjalankan, implementasi.” Makalah lengkap Ir. Jero Wacik, S.E., Menteri Kebudayaan dan Pariwisata disampaikan pada seminar Pekan Produk Budaya, 11/7 di  Balai Sidang Jakarta, pukul 14.30–15.30 WIB.

Pendahuluan

Setelah bersama-sama melewati tiga gelombang peradaban maka kini Indonesia bersama bangsa-bangsa lain di dunia mulai memasuki gelombang ke empat yaitu gelombang kebudayaan. Telah kita saksikan bersama bahwa gelombang pertanian, gelombang industri dan gelombang teknologi informasi telah banyak membawa manfaat dan kemajuan bagi peradaban umat manusia. Oleh sebab itu, sudah sewajarnya apabila kita pun berusaha memahami bagaimana caranya memanfaatkan gelombang ke empat ini bagi kemajuan peradaban dunia umumnya dan kemajuan peradaban Indonesia sebagai bangsa pada khususnya.

 

Di dalam memasuki gelombang ke empat ini, gelombang kebudayaan, maka sesungguhnya kita, bangsa Indonesia, memiliki posisi yang sangat menguntungkan dan sangat potensial untuk dapat berperan besar dalam mengangkat peradaban baik di Indonesia mau pun di dunia. Posisi yang baik ini diperoleh dari warisan budaya yang berasal dari ratusan suku bangsa yang tersebar pada ribuan pulau di seluruh Tanah Air.

 

Maka persoalannya adalah bagaimana agar dapat memanfaatkan secara optimal karunia Tuhan yang telah diberikan kepada kita ini sebagai bangsa Indonesia? Manfaat dalam arti dapat membangun citra bangsa yang positif dan memberikan nilai tambah secara ekonomi untuk kesejahteraan.

 

Kebudayaan sebagai sebuah siklus

Sebelum menguraikan manfaat dan cara memanfaatkan warisan budaya maka perlu dipahami terlebih dahulu hakikat kehidupan dari sebuah karya budaya. Seperti juga kehidupan manusia dan seluruh mahkluk ciptaan Tuhan di muka bumi ini maka kebudayaan (termasuk karya budaya) akan mengikuti sebuah siklus kehidupan yang terdiri dari tiga fase, bersifat pasti dan tidak terhindarkan.

 

Fase pertama adalah fase ketika karya budaya itu diciptakan atau disebut saja fase penciptaan. Di sinilah putik dan kelopak-kelopak bunga mulai bermekaran. Dengan berbagai kreativitas dan gagasannya, para budayawan dan seniman kita menciptakan sebuah karya budaya apa pun bentuknya baik bahasa, tarian, pakaian, makanan, nyanyian, candi, bahkan teknologi. Adalah tugas kita bersama, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk menyediakan lahan yang seluas-luasnya bagi proses penciptaan karya budaya ini.

 

Fase kedua adalah fase ketika karya budaya itu tampil dan dikembangkan. Fase ini fase ketika lukisan-lukisan dipamerkan, puisi dibacakan, film ditayangkan, tarian dipentaskan, makanan disajikan, atau lagu dinyanyikan. Inilah saatnya bunga itu mekar dengan sempurna. Yang diperlukan di sini adalah menyediakan panggung dan medium yang sebanyak-banyaknya guna memberi ruang bagi tampil serta berkembangnya karya-karya budaya tersebut. Fase ini dapat berumur panjang atau beramur pendek bagi sebuah karya budaya. Kolaborasi dan revitalisasi adalah sebagian cara-cara kita untuk memperpanjang masa berkembangnya sebuah karya budaya.

 

Fase ketiga adalah fase ketika karya budaya itu memasuki masa kepunahannya. Masa ketika karya budaya tersebut punah karena tertinggal oleh kemajuan teknologi, ketiadaan minat dari para pewaris atau penerusnya, dan ditinggalkan oleh penontonnya. Ini mungkin “menyedihkan” tetapi inilah keniscayaan kehidupan. Sesuatu yang tidak bisa tidak pasti terjadi pada setiap ciptaan manusia. Bunga itu telah kuncup untuk kemudian menjadi layu dan jatuh ke tanah. Di sinilah tugas kita yang baru muncul yaitu menyimpan karya budaya itu ke dalam museum dengan baik atau mendokumentasikannya dalam bentuk buku atau film-film.

 

Warisan budaya untuk citra bangsa

Sebuah bangsa dikenal melalui budaya. Ungkapan ini memberi makna bahwa begitu pentingnya budaya bagi sebuah bangsa. Budaya adalah identitas bangsa. Dengan kebudayaannyalah sebuah bangsa menampilkan dirinya, menampilkan citranya, di tengah-tengah pergaulan antarbangsa di dunia. Oleh sebab itu, patut direnungkan bagaimana agar karya budaya dan warisan budaya yang kita miliki dapat memberikan identitas dan citra yang positif?

 

Dengan memahanii ketiga fase kehidupan di atas maka jelas bahwa salah satu jalan untuk mengangkat citra bangsa melalui kebudayaan adalah dengan melakukan intervensi di setiap fase kebudayaan tersebut.

 

Ini berarti bahwa di dalam fase menciptakan sebuah karya budaya, apa pun bentuknya, seyogianya diisi dengan muatan nilai-nilai yang positif yang sudah lama dimiliki bangsa ini seperti keharmonisan, keteraturan, perdamaian, keindahan, dan penghormatan kepada keberagaman serta persatuan bangsa. Hendaknya prinsip-prinsip inilah yang menjadi pegangan bagi setiap seniman atau budayawan ketika mereka menciptakan karya-karyanya. Karena apa yang mereka ciptakan akan menentukan citra yang akan dipersepsi oleh bangsa lain.

 

Ini berarti pula bahwa di dalam fase menampilkan dan mengembangkan karya budaya hendaknya dipikirkan cara-cara yang kreatif dan progresif agar citra yang sudah dibangun lewat karya budaya yang baik ini dapat dikenal secara luas di bangsa-bangsa lain. Tak kenal maka tak sayang hendaknya menjadi pedoman untuk lebih mau dan mampu menampilkan citra bangsa lewat karya-karya budaya.

 

Akhirnya, di dalam menghadapi fase kepunahannya maka warisan budaya yang telah memberikan citra yang baik ini hendaknya disimpan dengan sebaik-baiknya agar dapat ditonton dan disaksikan oleh generasi penerus bangsa ini dan juga bangsa-bangsa lain di dunia.

 

Warisan budaya untuk kesejahteraan

Pemikiran bahwa kebudayaan hanyalah bersentuhan dengan ide-ide dan jauh dari kesejahteraan kiranya sudah perlu ditinggalkan. Sesungguhnya di dalam menciptakan atau pun menikmati suatu karya budaya sudah ada kesejahteraan yaitu kesejahteraan batin. Sebuah kepuasan dari pencipta, penampil atau penontonnya yang bersifat batiniah yang seringkali tidak dapat dipertukarkan dengan materi. Akan tetapi, lebih jauh lagi, sesungguhnya kebudayaan sangatlah dekat dengan kesejahteraan dalam pengertian lebih umum yaitu kesejahteraan lahiriah baik berupa uang atau materi lainnya.

 

Bangsa-bangsa lain telah lama memulai yang disebut industri produk budaya. Mereka menyebutnya dengan berbagai nama seperti culture content industry, creative industry, heritage industry. Pada intinya yang dimaksud industri produk budaya tersebut adalah industri yang memanfaatkan kebudayaan sebagai komoditas yang mampu memberikan nilai ekonomis dengan bersumber pada emosi, kreativitas dan imajinasi manusia. Yang belum banyak diketahui orang bahwa dari sisi pertumbuhan dan jangkauan pasarnya industri produk budaya ini mampu bersaing bahkan dapat mengalahkan berbagai industri konvensional.

 

Akan halnya dengan Indonesia maka keragaman budaya yang kita miliki merupakan kekayaan yang tidak ternilai harganya. Ribuan warisan budaya yang kita miliki akan dapat dijadikan daya tarik yang kuat bagi kedatangan wisatawan. Kunjungan wisatawan ke salah satu warisan budaya selalu memberikan efek langsung dan seketika bagi masyarakat sekitar warisan budaya atau para pemilik kebudayaan tersebut. Replika atau tiruan warisan budaya dapat menjadi sumber penghasilan bagi para pengrajinnya. Untuk itu memang diperlukan pengelolaan yang cermat, kreatif dan enterpreunership sehingga warisan-warisan budaya yang kita miliki dapat memberikan kesejahteraan yang besar bagi rakyat dan bangsa. Untuk itu pula kita harus cerdas dalam menghadapi persoalan klasik yaitu situasi dilematis antara keinginan melestarikan sebuah warisan budaya dan keinginan untuk memanfaatkannya guna mendatangkan kesejahteraan ekonomis. Di sinilah kita harus pandai-pandai memisahkan mana karya budaya atau warisan budaya yang bersifat spiritual dengan yang bersifat profan.

 

Penutup

Sebagai kesimpulan akhlr maka kunci keberhasilan di dalam memanfaatkan warisan budaya untuk citra dan kesejahteraan adalah bagaimana agar kita mencintai warisan dan karya budaya bangsa sendiri. Bagaimana agar kita merasa bangga menjadi diri sendiri dan tidak bangga karena menjadi orang lain. Untuk itu kita patut bersyukur bahwa hasil survey sebuah harian terkemuka menyatakan bahwa aspek kehidupan yang paling dibanggakan orang Indonesia adalah kebudayaannya.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: