Menyampaikan Pesan Buku 40 Tahun Oom Pasikom

Posted on 5 Juli 2007. Filed under: Resensi |

Malang-melintang dalam dunia karikatur di koran Kompas, membuat GM Sudarta semakin menikmati karyanya. Empat puluh tahun berkiprah kian melekat dalam benak pembaca bahwa Kompas identik dengan GM Sudarta. Selama kurun waktu itu ada 4020 karya, dan yang dibukukan sejumlah 400 karikatur. Seperti dahulu Sinar Harapan identik dengan karikaturis Pramono, kini orang ingin tahu bagaimana GM Sudarta  konsisten mengungkap isi hati masyarakat melalui karikatur? 

Asyik menandatangani buku “4o Tahun Oom Pasikom, Peristiwa dalam Kartun Tahun 1967–2007”, GM Sudarta menuliskan, untuk Advelino Nasution, ibu Prima Widi Hatmi, Bapak Pamusuk Eneste sembari menerakan 5 Juli 2007 di bawah tanda tangan. Sejumlah pengagum karya dan pembeli buku seharga delapan puluh ribu rupiah dengan ketebalan xxiv + 272 halaman. Di hadapan sejumlah pengunjung pameran kartunnya, Kamis siang 5/7 itu GM Sudarta kedatangan peminat yang minta tanda tangan bukunya. Buku ini ia persembahkan bagi ketiga anak kesayangan dan istri seperti yang tertera  “untuk Kinara, Damar, Sekar, dan untuk mereka yang kucintai dan yang kutangisi.”

“Harga buku kayaknya dibulatkan ke atas, jadi 80.000,00. Kalau di Toko Buku Gramedia kata Patris dari Penerbit Buku Kompas jadi 78.000,00. Selisih Rp2.000,00 tapi TANPA tanda tangan GM,” ujar Pamusuk Eneste bangga memperoleh tanda tangan GM Sudarta seraya menambahkan, harga buku 80.000,00. Diskon 20% (dibulatkan). Hitung-hitung tanda tangan GM-lah yang Rp2.000,00 itu.” Penerbit buku Kompas, selain menjual buku Oom Pasikom juga menggelar display buku-buku terbitan yang lain dengan diskon khusus.

Kompas tanpa Oom Pasikom, bukanlah Kompas. Oom Pasikom adalah kelengkapan Kompas yang eksistensial. Ooo Pasikom merupakan bagian yang integral dari keberadaan Kompas, demikian Jakob Oetama, Pemimpin Umum Kompas menuliskan Kata Pengantar berjuluk “Oom Pasikom 40 Tahun?!” sambil berpesan, silakan ikuti biografi GM Sudarta yang berupa rangkaian karikatur Oom Pasikom, ekspresi karyanya selama 40 tahun di Kompas ini.

GM Sudarta dilahirkan di Klaten, 20 September 1945. Ia mengenyam pendidikan di ASRI Jogjakarta 1965-1967. Sejak itu, ia bergabung dengan harian Kompas. Karikaturnya sejak 1967–2007 menurut GM Sudarta mencapai angka 4020. Ada 400 karikatur yang dibukukan pada saat ini. “Kelak saya akan membuat buku menurut urutannya, sejumlah 4020, ‘kan karikatur ini menyampaikan pesan dan sejarah bangsa,” tegas GM Sudarta setelah menandatangani sejumlah buku di Bentara Budaya Jakarta. Menurut GM Sudarta, suatu saat nanti ia akan menerbitkan ke 4020 karikatur itu dalam urutan sejarahnya. “Jadi, halaman bukunya enggak tebal. Yang penting sesuai dengan urutan peristiwa demi peristiwa sejarah bangsa,” tukas ayah dengan dua anak kembar ini mantap.

“Kritik Jenaka, Senyum Kecut” dari pengantar Suryopratomo menegaskan GM Sudarta dikenal sebagai karikaturis besar. Namanya tidak hanya dikenal di Tanah Air, Indonesia, melainkan juga di banyak negara. “GM Sudarta bukan hanya konsisten dalam berkarya, tetapi karyanya selalu dinantikan oleh banyak orang karena pesannya selalu tepat. Karikaturnya tidak hanya membuat orang tersenyum untuk kemudian membenarkannya, tetapi juga membuat orang yang menjadi sasaran kritiknya pun ikut tersenyum, meski kecut.”

Tidak bisa dimungkiri, konsistensi dan jam terbang membuat GM Sudarta semakin matang. Pesan-pesan yang ia sampaikan semakin berkualitas dan menyiratkan kematangan dalam gambar-gambarnya. Karikatur GM Sudarta dan Kompas ibarat ikan dan air, kata Suryopratomo, Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Kompas seraya menambahkan, keberadaan keduanya saling melengkapi. GM Sudarta bisa menyampaikan karya-karyanya melalui Kompas, sebaliknya Kompas mendapatkan karya-karya yang bermutu.

Menurut Suryopratomo kemajuan di dunia teknologi tidak membuat GM Sudarta ikut hanyut. Ia tetap konsisten dalam cara menuangkan karyanya, tidak tersentuh sama sekali oleh teknologi. Seperti karya pertamanya, karikatur GM Sudarta dituangkan ke dalam kertas gambar dengan tarikan pensilnya yang khas. “Itu ia lakukan dari manapun ia berada. GM Sudarta memilih mengirimkan gambar melalui kargo udara daripada harus mengirimkan melalui data komunikasi karena ia tidak ingin ada sedikit pun distorsi.”

Redaktur Senior Kompas, Ninok Leksono menyatakan dalam Kata Pengantar bahwa secara luas dan mendalam karikatur GM Sudarta memotret rentetan tragedi yang dialami oleh bangsa Indonesia.

Darta, demikian kartunis kenamaan ini akrab disapa, menerima penghargaan Life Time Achievement Award. Karyanya dari sudut pandang teknis dan artistik mencapai standar excellence. Karikatur Darta, kata Ninok Leksono, hadir sebagai perpaduan antara “gamblangnya pesan yang ingin disampaikan” dan “keelokan seni” yang tercipta dari tangan sosok berkelas empu.

Berasal dari bahasa Italia cairicatare atau caircate yang berarti “melebih-lebihkan” (exaggerate), karikatur Oom Pasikom menghadirkan penderitaan warga masyarakat tatkala harus berhadapan dengan kekuasaan, atau dengan birokrasi yang melelahkan.

Menurut Direktur Kompas Cyber Media ini, Darta juga mengikuti perkembangan teknologi yang terkait dengan penerbitan karikatur. Perhatian terhadap soal ini juga memperlihatkan sosok GM Sudarta yang akademis. Dari teknik cetak tinggi dengan klise timah, ke percetakan offset Kompas sejak 1972. Dengan teknik lama, kemampuan menggambar karikatur terbatas, hanya dengan garis-garis sederhana. “Bandingkan dengan Oom Pasikom abad ke-21 yang kadang tampil dengan arsir, dengan bagian gambar penuh gradasi, satu kali dengan montase, lain hari dengan bayangan foto,” ujar Ninok Leksono, pengajar jurusan hubungan internasional fakultas ilmu sosial dan ilmu politik Universitas Indonesia.

“Oom Pasikom berkontribusi dalam membuat umur Kompas panjang,” kata Anggota Dewan Riset Nasional ini seraya menambahkan hingga hari ini terus membuat Kompas tampil lebih menawan, dengan membebaskan sebagian dari halaman opini dari deretan huruf, untuk memberi kesempatan gambar menjalankan misinya: mengomunikasikan isi hari orang banyak yang lazimnya terpendam rapat di hati, khususnya ketika tak cukup ruang terbuka untuk berbicara.

Pameran 40 Tahun Oom Pasikom berlangsung di tujuh kota. Berawal dari Bentara Budaya Jakarta 4–12 Juli, Bentara Budaya Jogjakarta 4–10 Agustus, Kantor Perpustakaan Umum dan Arsip Kota Malang 21–29 Agustus, Balai Pemuda Surabaya 8–14 September, Danes Art Veranda Denpasar 19–28 Oktober, Galeri Semarang 4–14 November, dan berakhir di Galeri Soemardja Bandung 18–27 Januari 2008.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: