Menembus Batas Buku Terlaris

Posted on 31 Mei 2007. Filed under: Berita |

Rhenald Kasali mengurai pengalaman menjual buku atau mengampanyekan buku “Change” dan “Re-Code” dengan penuh empati di hadapan 118 peserta Sarasehan Nasional di hotel Santika Jakarta, 30/5. Pokok masalah uraiannya berjuluk “Menembus Batas Best Seller“.

Bermula dari problem. Problem utamanya dari mitos bahwa penerbit mencetak buku sejumlah lima ribu eksemplar, dan biasanya kalau agak ragu, penerbit mencetak sejumlah tiga ribu eksemplar. Masalahnya semakin berkembang pada pencapaian angka yang melebihi lima ribuan, kalau penerbit sudah memasuki program digital printing mampu meningkatkan eksemplar pencetakan jauh melewati angka kebiasaan cetak.

Problem kedua bahwa buku sulit dimengerti, kering, promo ada di tangan penerbit, isi kurang dapat dipahami (banyak akademisi yang menulis sekadar mengejar KUM), dan penulis populer cenderung mengkompilasi pikiran-pikiran lepas. “Buku Change mampu mencapai angka 65 ribu eksemplar dalam waktu dua bulan,” tandas Rhenald seraya menegaskan, penulis pun harus mengangkat karyanya.

Problem ketiga terletak pada jaringan toko buku, warung dan gudang besar, larangan membuka sampul plastik buku yang dikemas dalam plastik, promosi tradisional (jarang dilakukan), cover dan desain (cenderung purba, tidak menarik), gaji editor dan desainer di penerbit yang rendah, selectivity rendah, story telling jarang dilakukan, dan royalty terlalu kecil, pajak besar, bonus pun tidak ada. “Jaringan khusus buku teks tidak jauh lokasinya dengan kampus, begitulah idealnya,” tegas Rhenald mantap sembari menambahkan, “saat ini jaringan toko buku kita jaringan campur aduk.”

Kalau buku diplastik cover-nya, bikin saya malas beli buku, kata Rhenald. Kalau yang membuat cover bukunya, Rhenald saat ini membuat sendiri dengan pertimbangan desainer penerbit tidak mempelajari perilaku konsumen. “Belakangan saya bikin cover sendiri karena perilaku konsumen tidak dipelajari desainer,” ucap Rhenald. Ia pun mengurai lebih lanjut hal-ikhwal buku lamanya yang pernah Grafiti cetak. Namun, sejak ia pisah dengan Tempo, lalu buku saya tidak diiklankan lagi, saya pun menarik buku itu. Oleh karena itu, saran Rhenald sebaiknya penerbit buku membuat jaringan media yang kuat. Jadi, ada sinergisme.

No pain, no gain,” itu pepatah lama yang jadi landasan pijakan menembus batas buku terlaris model Rhenald Kasali. Apa yang dapat kita lakukan? Tanya Rhenald. Beginilah caranya, menembus mitos dengan buku-buku bermutu. Change contohnya. Gunakan dua tipe. Tipe pertama “the Reality”, cover, desain, dan isi. Tipe kedua “the Role of Writer”, sama pentingnya dengan penerbit dan self promotion. “Sama seperti pelukis yang memerlukan galeri, seorang penulis perlu dikenal luas,” ujar Rhenald dan menambahkan, karya yang bagus itu bermanfaat tinggi.

Berikut ini contoh-contoh buku terlaris versi Rhenald Kasali.

1. Isi buku (desain) dan cover menarik;

2. Aktif diresensi oleh majalah, koran, tabloid, koran daerah;

3. Beriklan;

4. Berpromosi lewat spanduk, baliho;

5. Aktif mengadakan events (seminar), book signing;

6. Aktif diberitakan oleh wartawan;

7. Promo multimedia seperti di restoran Furama atas buku Re-Code dengan memberi diskon penerbit dari Furama Restoran;

Sementara itu, Rhenald Kasali mengungkap problem untuk buku-buku perguruan tinggi, antara lain

a. supply side (jarang ada karya spektakuler, penulisan ilmiah, kering, kurang dikemas, miskin penelitian penting, kualitas editor payah, tidak ada promotor atau impres sariat untuk the best talent).

b. demand side (almamaterisme dan kiblat hanya pada lulusan kampus sendiri, buku asing dan terjemahan, standar internasional, mahasiswa tidak baca buku (hanya baca catatan kuliah), metode pengajaran (FCL –> PCL), tiga jenis bacaan mahasiswa, seperti text book, reference, journal/majalah).

c. publisher’s side (royalti minim — dulu dosen menulis dapat insentif — , perang terhadap pembajakan tidak serius, pajak, tidak ada promosi/tidak mendatangi pelanggan, tidak ada toko buku spesialis yang besar, tidak ada insentif untuk pengajar, masalah-masalah pokoknya: poor design/cover, lamban, market knowledge).

Jadi, menembus batas buku terlaris simpulannya bahwa penerbit dan penulis sama-sama marketing oriented; inovasi pada dua hal: product dan process, kesejahteraan internal penerbit penting mendapat perhatian, produk harus digerakkan dan diceritakan, peremajaan internal menjadi sangat penting, dan toko buku berubahlah! Demikian pesan Rhenald Kasali, Ph.D. pada Sarasehan Nasional Peningkatan dan Pengembangan Potensi Penerbit Perguruan Tinggi di Hotel Santika, Jakarta, 30 Mei 2007.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: