Panduan Penulisan Buku

Posted on 25 Mei 2007. Filed under: Percik Pengalaman |

Pengantar 

Sesungguhnya penulis naskah dapat mempercepat proses penerbitan buku di sebuah penerbit. Namun, barangkali penulis tidak tahu bagaimana caranya, apalagi jika calon penulis, baru pertama kali menulis naskah. Itulah sebabnya, saya perlu menyampaikan panduan penulisan buku, khususnya bagi calon penulis yang belum tahu sama sekali bagaimana membantu penerbit (editor penerbit). Dengan demikian, saya harapkan calon penulis naskah menyusun naskah berdasarkan panduan ini.

 

Kelengkapan Naskah

          Kadang-kadang buku agak lama terbit karena ketidaksiapan naskah dari penulis. Ketidaksiapan itu bisa berupa kurang lengkapnya unsur naskah. Bisa pula karena banyak kalimat yang “tidak jalan” atau tidak logis. Boleh jadi pula karena penulis kurang memerhatikan ejaan naskah, kata, istilah, tata bahasa dan substansi naskah. Sebuah naskah terdiri atas sejumlah unsur. Unsur-unsur itu secara berurutan adalah sebagai berikut:

1) halaman judul naskah (cover depan);

2) halaman prancis (judul inti/judul tidak lengkap);

3) halaman pelanggaran hak cipta;

4) halaman judul utama (judul lengkap);

5) halaman hak cipta;

6) halaman persembahan (dedikasi);

7)  daftar isi;

8) daftar tabel/gambar/lambang/ilustrasi;

9) prakata/kata pengantar;

10) kata pendahuluan;

11) bab-bab (Bab 1—Bab …);

12) daftar kata asing;

13) daftar istilah;

14) daftar pustaka;

15) lampiran;

16) indeks; dan

17) biografi singkat.

Wajib dan Tidak Wajib 

     Unsur-unsur kelengkapan naskah itu Anda tulislah secara lengkap. Namun, tidak berarti semua naskah wajib memuat unsur-unsur tersebut. Hal ini bergantung pada naskah yang Anda tulis. Adakalanya, sebuah naskah tidak memerlukan unsur nomor 8, yaitu daftar tabel/singkatan/lambang/ilustrasi/gambar. Jika demikian, unsur nomor 8 tidak perlu Anda cantumkan dalam Daftar Isi. Adakalanya, sebuah naskah atau buku tanpa indeks. Jika demikian, indeks tak perlu Anda tuliskan dalam Daftar Isi. Demikian pula dengan unsur lain yang tak ada dalam naskah; unsur itu tak perlu Anda masukkan ke dalam Daftar Isi.            Atas dasar itu, sebuah bab sebaiknya Anda bagi menjadi beberapa bagian yang lazim disebut subbab. Jika diperlukan, subbab ini masih bisa Anda bagi menjadi sub-subbab.

          Untuk memudahkan pembaca, sebaiknya subbab dan sub-subbab ini Anda beri nomor urut. Selain pada bab-bab bersangkutan, nomor-nomor ini tentu akan tercermin pula pada Daftar Isi buku.

          Nomor untuk judul bab sebaiknya Anda gunakan angka Arab (1, 2, 3, dan seterusnya), bukan angka Romawi (I, II, III,  dan seterusnya).  Demikian pula untuk subbab atau sub-subbab; sebaiknya Anda gunakan angka Arab.

Tanpa Kelengkapan Naskah 

            Di samping itu, kadang-kadang penulis menyerahkan naskah ke penerbit tanpa Daftar Isi. Hal ini tentu akan menyulitkan penerbit ketika hendak mempertimbangkan naskah itu. Dengan sangat terpaksa, editor penerbit harus melihat bab-bab naskah itu ke dalam berikut subbab-subbbabnya.            Kalau naskah itu disetujui oleh penerbit untuk diterbitkan, editor penerbitlah nanti yang harus menyusun Daftar Isi itu. Hal ini tentu akan menambah beban si editor, padahal pekerjaan itu bisa Anda lakukan sebelum naskah Anda tawarkan  ke penerbit.            Daftar Isi  mencerminkan isi buku secara ringkas dan menyeluruh. Dengan memerhatikan Daftar Isi saja, orang sudah tahu kandungan dan jangkauan sebuah buku.

            Untuk memudahkan pembaca, sebaiknya Daftar Isi Anda beri nomor urut dan jangan Anda biarkan “gundul” alias tak bernomor urut. Sebaiknya nomor urut yang Anda gunakan, yakni angka Arab; bukan angka Romawi. Jika satu bab ada subbabnya, gunakan juga angka Arab.

Penutup 

Panduan ini tentu saja saya buat dari sudut pandang penerbit. Andaikata ada hal-hal yang luput dari panduan ini (karena perbedaan  sudut pandang), tentu saja masih bisa Anda tambahkan guna menyempurnakan panduan ini pada masa mendatang.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “Panduan Penulisan Buku”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

terima kasih panduannya.

Prosedur yang telah dikemukakan semuanya telah saya pahami kami pahami dan lakukan dalam penulisan sebuah buku yang kami sedang susun namun kami ingin informasi lebih lanjut mengenai langkah-langkah atau prosedur yang perlu kami lakukan untuk penerbitan buku yang kami susun,harap diberi informasi selanjutnya, terima kasih

Prosedur yang telah dikemukakan semuanya telah saya pahami dan lakukan dalam penulisan sebuah buku yang kami sedang susun namun kami ingin informasi lebih lanjut mengenai langkah-langkah atau prosedur yang perlu kami lakukan untuk penerbitan buku yang kami susun,harap diberi informasi selanjutnya, terima kasih

Langkah-langkah selanjutnya, silakan kirim naskah ke bagian sekretariat redaksi. Pertama, susun rapi naskah. Kedua, cetak atau print naskah. Ketiga, kirim naskah segera ke sekretariat redaksi. Keempat, kirim naskah tanpa soft copy atau CD. Kelima, tunggulah saat naskah diterima oleh redaksi sekitar tiga bulan maksimal.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: