Prof. Dr. H. E. Zaenal Arifin, M.Hum.: Kondisi Kebahasaan Masa Kini

Posted on 24 Mei 2007. Filed under: Apa&Siapa |

Belakangan ini, setelah Sumpah Pemuda berlalu 78 tahun, dan lebih-lebih pada masa yang akan datang, ada kekhawatiran bahwa kaidah bahasa nasional kita, tidak lagi dijunjung dan dihormati setinggi-tingginya oleh masyarakat Indonesia, tetapi malah sebaliknya, yaitu makin kurang diperhatikan atau bahkan diremehkan oleh pemiliknya sendiri, demikian kondisi kebahasaan masa kini yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. E. Zaenal Arifin, M.Hum., 59 tahun pada pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Linguistik bidang Morfologi dan Sintaksis di Universitas Nasional, Jakarta, April 2007.

Pak Zaenal, panggilan akrabnya mengurai contoh penggunaan bahasa yang kurang tertib. “Kondisi ini seakan-akan melecehkan norma yang berlaku,” tambah Guru Besar Linguistik ini.

“Bagi ibu-ibu yang membeli ayam di pasar harus diikat kakinya supaya tidak bergerak-gerak.” Kesalahan dalam kalimat ini ada kata bagi yang akan menghilangkan subjek. Belum lagi segi pernalarannya. “Coba bagaimana jadinya jika kaki ibu-ibu yang membeli ayam harus diikat,” ujar ayah empat anak, suami dari Hajjah Komariah, sembari menambahkan, dalam era persaingan global, selain kaidah bahasa banyak diterabas, bahasa Indonesia juga diganggu oleh bahasa asing yang tidak diperlukan.

Ketua Umum Yayasan Pendidikan Islam Al-Mukarrim di Desa Neglasari, Tasikmalaya, Jawa Barat sejak 2001 ini menegaskan, kata asing dalam tajuk acara radio dan televisi serta dalam surat kabar dan majalah secara tidak disadari sudah “mengusir” bahasa pribumi. Padahal, kata asing itu sudah mempunyai padanan dalam bahasa Indonesia. “Dalam era sekarang ini, banyak aturan bahasa yang diterabas, seperti lampu merah yang diterobos oleh sopir angkutan kota karena kebetulan tidak ada polisi di sana,” tutur pengasuh rubrik “Gerbang Bahasa” pada Jurnal Ilmiah The Habibie Center, sejak 2005.

“Itulah sebabnya, Pusat Bahasa berjuang keras untuk dapat mengusulkan Undang-Undang Bahasa ke parlemen,” ujar pendamping bahasa dalam pembahasan rancangan undang-undang di DPR, seperti UU TNI, UU Guru dan Dosen, UU Penanaman Modal, UU Perjalanan Ibadah Haji.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: