Profil Tokoh Pimpinan yang Mumpuni

Posted on 20 Mei 2007. Filed under: Karangan Khas |

          Cerita seputar serbaneka kepemimpinan tak ‘kan ada habis-habisnya. Program pendidikan dan pelatihan kepemimpinan, misalnya di manapun kerap meraih intensitas peminat yang tinggi. Lembaga pendidikan yang menyoroti teori kepemimpinan juga selalu menarik perhatian bagi lulusan sarjana untuk mencapai posisi struktural yang strategis. Saya pun tertarik mempelajari apa dan bagaimana sosok profil tokoh pemimpin yang mumpuni. Oleh karena itu, saya menyoroti cara seseorang menjadi pemimpin yang baik dan efektif.

          Setali tiga uang dengan model speed and quality dalam dunia penerbit. Penerbit yang baik dan efektif berkaitan dengan kiat atau trik penerbit menyiasati penerbitan dengan cepat dan baik (bermutu).

          Latar belakang pimpinan berkarakter berkaitan dengan keberhasilan memberdayakan orang lain. Oleh karena itu, pemimpin jenis ini persyaratannya cuma satu, ia wajib menyelesaikan terlebih dahulu urusan atau kepentingan pribadi. Egosentrisme mohon jauhkan dengan sukarela, buanglah ke dasar laut, biar citra kepemimpinan yang baik dan efektif, sukses ia miliki. Demikian prasyarat pimpinan yang mumpuni.

          Boleh percaya, boleh enggak percaya, asumsinya bahwa seorang pemimpin yang berhasil berkat bakat, anugerah atau takdir, sifat kepemimpinan demikian, ada sejak manusia bergerak-gerak dalam kandungan sang ibunda. Walaupun seseorang berkali-kali ikut kursus dan sekolah kepemimpinan, tetap muncul persoalan, manalah mungkin sifat kepemimpinan berhasil ia raih tanpa bakat! Pendapat ini menepis anggapan, pemimpin sebagai hasil belajar, berlatih, dan berintrospeksi tiada henti.          
Ada cerita rekan saya mengurai, alkisah muncullah seseorang yang menempatkan diri sebagai pimpinan. Obsesi menjadi pemimpin sangat tinggi. Penempatan dirinya menjadi seorang pimpinan menggebu-gebu. Dalam perkembangan hasrat hati meraih citra pimpinan ternyata ia tega sikut
sana sikut sini. Namun, saat ini ia pun berhasil meraih jabatan struktural. Entah ia berhasil lantaran ia amat menginginkan status pemimpin yang melekat erat pada dirinya, entah ia mengejar posisi dan kekuasaan tanpa mengindahkan opini orang lain. Ambisinya semakin berkobar-kobar, entusiasme sangat tinggi hingga cenderung egosentris.

          Pakar kepemimpinan dunia, John Maxwell menegaskan, semua orang punya potensi menjadi pemimpin dengan serbaneka derajat bakat. Namun, potensi ini wajib tumbuh-kembang atas inisiatif pribadi pemiliknya. Derajat tumbuh-kembang kepemimpinan menjadi embrio bisnis kepercayaan-bisnis kepemimpinan-bisnis integritas dan kejujuran, dan bisnis karakter profil tokoh.

          Kembali pada ilustrasi dari rekan saya, di suatu perusahaan, konon pengembangan sumber daya manusianya rela mengeluarkan sejumlah biaya tinggi untuk membayar bisnis kepemimpinan. Kata Julian Benda, untuk membangun moral saja diperlukan sejumlah biaya. Masuk akal kalau bisnis kepemimpinan tak ’kan habis-habisnya, tak ‘kan ada kedaluarsa. Apalagi pada satu periode tertentu kinerja perusahaan dianggap merosot drastis. Keuntungan melorot tajam, kondisi cash flow atau arus kas perusahaan mendekati titik kritis. Kebijakan yang kerap diambil selain merumahkan seseorang yang negatif kinerjanya, juga mengirim pimpinan ikut pendidikan dan latihan kepemimpinan. Padahal, pembelajaran kepemimpinan bukan hanya berlangsung saat performance perusahaan melorot, jeblok, melainkan juga ketika kinerja perusahaan dengan model pimpinan dan performance perusahaan semakin sukses. Oleh karena itu, tradisi belajar terus-menerus wajib hukumnya berlangsung tanpa henti. Bagi pemimpin yang efektif dan baik, ia selalu belajar sehingga tak ’kan ada rumus kata “selesai”. Ia berlangsung manakala kondisi perusahaan ada di papan atas dan di posisi terbawah sekalipun.           Kembali pada sharing pengalaman rekan saya di atas, alkisah profil tokoh seputar rekan kerja yang ambisius itu, kerap terjadi saat permintaan jadi pimpinan terpenuhi. Namun, ternyata pada saat itu pula kata “selesai”, benar-benar perjuangan meraih derajat kepemimpinannya juga “selesai”. Ia sibuk dengan diri sendiri dan lupa melayani kepentingan anak buah. Ia terbenam dalam lumpur kemakmuran diri sendiri. Alamak, wharakadah, puri gonggo kelelawar tidak mengherankan ada pimpinan berstatus cuma seumur jagung periodenya. Belum sampai dua belas bulan, bahkan kurang dari sembilan bulan muncul tanda-tanda bakat kepemimpinan dan cara memimpin yang baik dan efektif, ternyata cuma nol besar.*** 

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: