Etika Politik Berbasis Kepercayaan

Posted on 17 Mei 2007. Filed under: Karangan Khas |

“Kalau kesalahan saya dianggap berat dan memenuhi standar korupsi, kemudian saya dipenjara 10 tahun, misalnya, ya ndak masalah. Cuma, yang (korupsi) bertriliun-triliun juga harus dihukum berabad-abad,” demikian mantan Ketua Partai Amanat Nasional, Amien Rais, di Jogjakarta Selasa 15/5 ketika mengungkapkan isi pernyataan siap masuk penjara jika pengadilan menyatakan bersalah dalam kasus dana nonbujeter Departemen Perikanan dan Kelautan. 

Dalam kaitan dengan “Kejujuran Amien Rais”, Editorial Media Indonesia Rabu 16/5  menyatakan, kalau Amien Rais nanti masuk bui karena kejujurannya, lalu bagaimana dengan yang menerima tapi tidak mengakui? Di manakah mereka yang lain meletakkan nilai kejujuran dan keterusterangan? 

Pada hemat saya, sikap jujur jauh dari hitungan matematis. Kalau saya jujur, hendaknya yang lain jujur. Isi pernyataan ini berpikir jalan pintas. Mentalitas menerabas. Saya lebih melihat kejujuran sebagai fondasi kepercayaan dengan beretika politik elegan. Isi penyataan yang menganggap “politik itu kotor” menjadi “politik itu bersih, politik itu jujur”, yang lebih bermakna bahwa politik itu membangun kepercayaan. Cermin politisi berbudaya menerabas ada di mana-mana. Jadi, muncul atribut politik itu kotor. Oleh karena itu, kejujuran pada saat ini bagi politisi setali tiga uang dengan etika politik berbasis kepercayaan.  

Bagi politisi lain yang mengingkari kejujuran maknanya menjadi luas. Kejujuran bermakna kepercayaan. Ketidakjujuran bermakna ketidakpercayaan. Oleh karena itu, sikap jujur dalam beretika politik menjadi basis kepercayaan yang tangguh untuk menggalang dukungan massa. Hanya partai politik yang tangguh berbasis kepercayaan layak dan pantas maju ikut pemilihan umum 2009. Hanya politisi yang mendapat kepercayaan masyarakat bangsa dan negara Republik Indonesia, ia pantas membangun etika politik berbasis kepercayaan. 

Dalam dunia pers, kepercayaan publik sulit ditawar-tawar lagi. Eksistensi pers bernafas panjang terbukti pada pers yang berfondasi kokoh pada unsur kepercayaan.  Dengan kata lain, bisnis pers yang sehat adalah bisnis pers berbasis kepercayaan dan kejujuran. Oleh karena itu, pers yang bernafas pendek identik dengan pers yang jauh dari fondasi kejujuran. Pers penuh kebohongan siap-siap menggali lubang kubur sendiri. Lantas, politisi yang membangun partai penuh kebohongan, siap-siap menutup lubang kubur sendiri.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “Etika Politik Berbasis Kepercayaan”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

Ya, komentar Amien Rais jadi berkesan tidak tulus, tapi pamrih 🙂

para caleg harus mengikuti pembelajaran khusus ttg tata cara pengelolaan negara dan masyarakat (tidak boleh maju buta). aku tawarkan teokrasi spiritual sbagai bekal para caleg sebagai wakil rakyat


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: