Memasuki Belantara Kerja Intelektual

Posted on 8 Mei 2007. Filed under: Karangan Khas |

Pada 1970-an sangat gampang kita mencari naskah untuk penerbitan buku. Pengarang tumbuh dan kembang di seantero Nusantara. Naskah berdatangan dari pengarang. Mulai pengarang berkategori pemula, pengarang tingkat madya, sampai dengan pengarang utama.

Peran penting penerbit sangat terasa. Salah satu sebagai peran itu sering disebut perantara atau sering saya dengar disebut sebagai perpanjangan tangan antara pembaca dan pengarang. Pengarang menyampaikan ide dan gagasan asli, lantas penerbit menyalurkan dan menyebarluaskan ide dan gagasan secepat-cepatnya. Cukup sampai pada tahap ini, hasilnya sungguh luarbiasa. Ide dan gagasan pengarang orisinal segera dengan cepat dibukukan.

Akan tetapi, penerbitan buku dengan frekuensi yang cepat belum dianggap cukup memadai. Hasilnya masih jauh dari kesan memuaskan. Ada yang belum lengkap kalau naskah menjadi buku hanya dengan tempo cepat, tanpa kualitas yang mumpuni. Akibatnya, mulai memasuki era buku berkualitas, sebaiknya juga berpadu dengan berjalannya waktu sesuai dengan jadwal penerbitan. Kata dan istilah yang saya baca menyebut perubahan itu speed and quality atau kecepatan dan kebaikan. Antara kata cepat dan mutu perlahan-lahan mulai memasuki masa keemasan penerbitan buku. Penerbitan buku yang lambat dan jauh dari hasil yang baik, lama-kelamaan berguguran, tutup, dan ditinggalkan oleh pembaca. Hal itu berlangsung terus-menerus sampai pada 1990-an. Penerbit yang bertahan dengan cepat dan baik semakin tampak kekokohannya. Padahal, badai krisis moneter pada 1997 melanda, bahkan muncul dan mengganggu perekonomian masyarakat bangsa dan negara Republik Indonesia.

Saat ini kerja intelektual memasuki fase industri. Semua serbacepat dan serbabaik. Cepat dan baik menjadi kekuatan kerja intelektual yang mumpuni. Karena memasuki fase industri, unsur-unsur penopang kerja intelektualnya pun wajib kokoh. Simaklah unsur-unsurnya penopang kekokohannya seperti berikut ini.

a. Penulis
b. Penerjemah
c. Ilustrator
d. Perancang
e. Pencetak
f. Penjual
g. Perpustakaan
h. Pendidik dan Orangtua
i. Media massa
j. Pengguna buku

Atas dasar itu, memasuki belantara kerja intelektual saat ini mendapat tempat yang layak dan pantas di hati pembaca. Tak ada kerja intelektual yang tertutup dalam penyampaian ide dan gagasan. Ada interaksi antara pembaca dan pengarang, antara pembaca dan penerbit, dan antara pengarang dan penerbit. Interaksi ini membuahkan proses komunikasi yang baik. Semakin baik proses komunikasi, semakin memuaskan hasil penerbitan bukunya. Namun, untuk menunjang ketiga komponen utama dalam proses komunikasi, ada tiga bagian pokok yang wajib masuk dalam jajaran manajemen penerbitan. Ketiga bagian ini meliputi bagian redaksi (editorial), bagian produksi, dan bagian pemasaran. Meski demikian, ada pula bagian administrasi keuangan sebagai pendukung kerja yang memerlukan insentif memadai.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Memasuki Belantara Kerja Intelektual”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

visit my blog
http://jerzz.wordpress.com/
ingin tukeran link mohon konfirmasi di blog saya


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: