Serbaneka Masalah Kata dan Istilah Ponsel

Posted on 16 Februari 2007. Filed under: Bahasaku-Bahasamu |

Ulasan seputar telepon selular kian bervariasi. Sejumlah persoalan kata dan istilah telepon selular pun bermunculan. Masalahnya, bagaimana mengurangi penggunaan kata dan istilah asing dengan berbahasa Indonesia pada media yang mengulas telepon selular?

Kritik pertama muncul dari pembaca. Yang dikritik adalah kata dan istilah asing yang membingungkan. Kritikan biasanya ditujukan kepada kalangan pers. Kritikan bertambah runyam kalau kata dan istilah asing yang dipergunakan membuat kacau pembaca dalam berbahasa Indonesia. Ibarat benang kusut, ujung permasalahan kebahasaan susah dicari lagi inti persoalannya.

Kata dan istilah asing seputar telepon selular (ponsel) pun tak lepas dari pengkritik. Apalagi akhir-akhir ini kata dan istilah asing sering dipakai dengan cara yang dipaksakan. Tak ada keinginan penulisnya untuk bersungguh-sungguh menemukan padanan kata dan istilah Indonesia yang cocok. Padahal, bahasa pers yang dipergunakan dalam penerbitannya adalah bahasa Indonesia.

Sebagai contoh, majalah Selular dengan moto Trend Gaya Hidup Digital, boleh jadi belum pernah memunculkan permasalahan kata dan istilah asing. Perhatikan contoh judul-judulnya seperti berikut ini: Nikmatnya Couzy Style, Surfing Asyik!, Si Kecil untuk Tampil Cool dan Trendy, Revolusi Pop Jornada: Fast, Secure, Be Ready!, How Low Can You Go?, “Eurosource Europe” Charity in Action, dan Welcome 3G (Selular No. 19/II/10/01).

Frekuensi tinggi dalam penulisan kata dan istilah asing itu cenderung memperkuat anggapan, bahasa pers sebagai “perusak” bahasa Indonesia. Pertanyaannya adalah benarkah atribut perusak bahasa melekat pada bahasa pers?

Aspek kesadaran mau tak mau ikut berperan untuk menghindari pemunculan kata dan istilah asing yang tidak diperlukan. Kesadaran berkaitan dengan kepedulian. Kesadaran berbahasa dengan baik dapat mencerdaskan pembacanya. Namun, orang pers sering berkilah, faktor keterbatasan waktu penulisan sebagai faktor utama kekacauan berbahasa. Media massa dibatasi dengan tenggat penulisan. Alasan ini sesungguhnya sulit diterima. Bukankah ada redaktur bahasa yang berguna untuk mengoreksi naskah? Jika redaktur bahasa tidak ada, bukankah sumber tertulis sebagai rujukan bahasa cukup banyak tersedia. Misalnya, ada yang memiliki buku pedoman, seperti Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Ada pula yang memiliki buku gaya selingkung (house style) dan kamus.

Khusus penerbitan gaya selingkung, ada contoh buku yang patut ditiru. Di kalangan redaksi intern suratkabar beredar Buku Pintar Wartawan Kompas. Isinya antara lain kata dan istilah asing yang diindonesiakan. Kecuali itu, di toko buku juga beredar Misalkan Anda Wartawan Tempo. Buku ini, saduran dari buku aslinya Feature Writing for Newspaper karya Daniel R. Williamson. Isi bukunya sering dimanfaatkan oleh calon wartawan.

Kompas dan Tempo berhasil menerbitkan buku semacam gaya selingkung. Pada kenyataannya penerbitan ini didukung oleh pimpinan lembaga persnya. Di televisi, ada contoh lain seperti di bagian penerjemahan programming RCTI. Televisi swasta pertama ini pernah memiliki pemerhati konsep terjemahan dengan tepat. Di lembaga pers yang lain juga mulai muncul kebijakan perlunya dibentuk Redaktur Bahasa. Namun, sebagian besar di kalangan pers lebih banyak pimpinan yang tidak mau peduli terhadap perkembangan bahasa Indonesia.

Bahasa Antarmedia

Lima belas tahun yang lalu, tepatnya 1992 Slamet Djabarudi dan Goenawan Mohamad dari majalah Tempo (dan harian Kompas) mengundang editor bahasa antarmedia. Agenda pertemuan berjudul Rapat Bahasa (kemudian menjadi “Forum Kajian Bahasa Antarmedia”). Pembahasannya berkisar pada masalah yang sering muncul dalam soal kebahasaan. Landasan pertemuan terletak pada keprihatinan atas kata-kata atau istilah-istilah asing di media massa. Sebagian besar media massa (baik cetak maupun elektronik) jarang yang memperhatikan padanan kata dan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia yang baik (tepat) dan benar.

Respons peserta sangat antusias. Ada dialog. Ada peserta yang memunculkan persoalan atau mendiskusikan materi yang dipersoalkan dengan mengacu pada kamus. Ada pula peserta yang membuat kata dan istilah yang disepakati, jika di kamus tidak ada. Pimpinan rapat mengadakan voting, jika belum ditemukan kata-kata yang disepakati dengan penundaan untuk sementara waktu. Untuk membuat keputusan akhir, peserta rapat mengagendakan pihak yang layak dimintai pertimbangan dan konsultasi.

Saat pembahasan padanan kata dan istilah, misalnya Prof. Dr. Anton M. Moeliono diundang. Dalam pembahasan singkatan dan akronim diundang Dr. Hasan Alwi, lalu untuk pembicaraan kata dan istilah asing diundang Basoeki Koesasi, staf pengajar bahasa Indonesia di Universitas Monash, Australia. Selain itu, Prof. Dr. Jacob Rais dari Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional diundang untuk memberi masukan tentang nama kota dan negara yang benar. Tak ketinggalan pula Mari Elka Pangestu, doktor dari Economics UC Davis, Amerika Serikat diundang untuk pembahasan kata dan istilah ekonomi. Suyono dari Persatuan Atletik Seluruh Indonesia untuk kata dan istilah olahraga atletik, Soeratmin, pelatih anggar nasional, dan Panuti Sudjiman dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia ikut menyumbang padanan kata dan istilah yang diperlukan.

Meski tim bahasa berusaha merujuk pada kamus, buku teks atau berkonsultasi dengan pakar dari disiplin ilmu tertentu, pilihan kata dan istilah Indonesia yang diambil kadang-kadang tidak enak dan dirasakan janggal. Harapannya hanya jika kata-kata itu sering digunakan, lama-kelamaan kejanggalan tadi hilang dengan sendirinya. Contohnya penggunaan kata canggih, makalah dan mantan. Kini ketiga kata itu sudah berterima bagi pemakai bahasa Indonesia.

Kata dan istilah asing yang lain, seperti doorprize (tiket/undangan berhadiah), lucky draw (lotre, undian), low profile (elak tampil), dan automatic teller machine (ATM) atau anjungan tunai mandiri (ATM). “Kebetulan kata asingnya disingkat ATM dan diindonesiakan menjadi ATM juga. Ini lebih gampang berterima,” ujar Anton M. Moeliono yang mengusulkan penggunaan istilah itu dalam Rapat Bahasa di majalah Tempo.

Usul kata atau istilah adakalanya berkaitan erat dengan isu yang berkembang dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Kata kolusi, nepotisme, reformasi dan arus bawah sebagai contoh kata yang populer. Lain halnya dengan kata yang muncul ketika kata itu sengaja dipopulerkan oleh media massa, seperti kata bersulang (toast), kudapan (snack), tekti/teknologi tinggi (high technology/hitech), dan masuk bursa (go public). Frekuensi pemakaiannya tinggi maka penggunaan kata atau istilah itu mudah berterima.

Kata dan Istilah Ponsel

Menurut pengamatan saya, jumlah pelanggan ponsel di Indonesia selama 2007 meningkat pesat. Sementara itu, jumlah pelanggan diproyeksikan mencapai jutaan orang..Jadi, artinya ada jutaan orang Indonesia yang mulai berkenalan dengan kata dan istilah asing seputar ponsel. Oleh karena itu, padanan kata dan istilah yang diperkenalkan senantiasa perlu merujuk pada bahasa Indonesia, bahasa daerah atau bahasa sanskerta.

Tujuan pengenalan kata dan istilah asing yang diindonesiakan agar bahasa Indonesia bukan hanya menjadi bahasa yang berpedoman jelas dan runtut, melainkan juga bahasa Indonesia kelak menjadi bahasa yang sesuai dengan tuntutan perkembangan ke arah kehidupan modern. Meskipun kata dan istilah asing, terutama yang berasal dari bahasa Inggris sukar dihindari dari pemodernan bahasa Indonesia, pemunculan kata dan istilah asing di dalam berbahasa Indonesia perlu dihindarkan. Pengungkapan kata dan istilah asing bagi gagasan dan pikiran yang dapat dinyatakan dalam bahasa Indonesia dapat menghambat bahasa Indonesia.

Respons positif itu sudah muncul dari kalangan pers. Selayaknya ditanggapi positif pula oleh peminat bahasa Indonesia. “Mari Kita Bicara”, demikian moto yang pernah dipakai oleh operator Satelindo. Lantas, bahasa pers juga dapat memperbaiki, meluruskan, dan mengembangkan bahasa Indonesia. Di sinilah muncul unsur “pendidikan” yang dapat dimainkan oleh pers. Dengan kata lain, belajar bahasa Indonesia dapat dilakukan bukan hanya di sekolah, melainkan juga belajar bahasa Indonesia dapat dilakukan melalui bahasa pers yang baik.

Selain kata dan istilah ponsel bertambah banyak, media massa yang mengulas ponsel juga bertambah, seperti tabloid Sinyal, PC Plus, Infokomputer, Telset, Trend&Telecomunication, Internet, T&t, Komputer Aktif, juga koran Kompas, Media Indonesia, dan situs Warta Ponsel.com, Selular.com, MyPonsel.com, PonselDirect.co.id. Untuk itu, saat ini diperlukan kamus yang diolah menurut kata dan istilah yang berkembang dalam perponselan. Daftar kata dan istilah ini diharapkan menjadi standar penulisan bagi media massa. Kata dan istilah yang diindonesiakan kelak dibukukan agar dapat dibaca oleh pemakai ponsel.

Kata dan istilah olahraga, teknologi, komputer, kedokteran/kesehatan, bisnis, manajemen, dan otomotif banyak yang diindonesiakan. Sekarang saatnya disusun kata dan istilah ponsel. Itulah salah satu bentuk kepedulian media massa seputar ponsel atas penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Upaya ini dilandasi dengan kesadaran, peran media massa dalam menggalakkan penggunaan bahasa Indonesia sangat besar pengaruhnya bagi lima jutaan pemakai ponsel di Republik Indonesia.

Berikut ini daftar kata dan istilah asing yang diindonesiakan dan yang belum diindonesiakan. Kata dan istilah asing yang belum ditemukan padanan katanya masih perlu dicari lagi.

Kata dan Istilah Asing yang Diindonesiakan

accesoris —> aksesoris

feature —> fitur

handphone —> telepon genggam; telepon selular

phone book —> buku telepon

ringtone —> nada dering

roaming —> jelajah

simple text —> teks simpel/sederhana

trendy —> trendi; menurut mode terakhir

voucher —> vocer

Kata dan Istilah Asing yang Belum Diindonesiakan

bezel

branding

built-in pixel editor

call divert

casing

charge (nge-charge)

comfort (model ini juga comfort dibawa ke mana-mana)

couzy (gaya hidup yang couzy)

(couzy dan corporate masuk dalam integrated digital office system)

cring

cute en nggemesin

download gambar

drop call dan blank spot area

dual LCD

enhancement

handset

incoming call dan outgoing call

invisible man

intelligent network Bluetooth

keypad

m-banking

message center

neckstrap

powerful

secure electronik transaction

standby time

starterpack

stylish (desain yang stylish)

surfing (ber-surfing)

tagline always connected always online with GPRS

total freedom with bluetooth

voice

voice mail

voice note

voice recognition dialing

voice recorder

voice switching

vibracall

vibrating alert

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Serbaneka Masalah Kata dan Istilah Ponsel”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

thanks ya,kbtulan bwt tambhan skripsi aku yg membahas borrowing handphone,klo bisa tambahin lg y + definisi yg lengkap


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: