Menulis Sejarah, Jauhkan Pengandaian

Posted on 16 Februari 2007. Filed under: Artikel |

Saya belum pernah belajar khusus di fakultas sejarah apalagi mengajar sejarah. Namun, saya masih ingat pepatah lama sejarawan George Santayana, “Kalau orang tidak belajar dari peristiwa sejarah maka ia akan dikutuk untuk mengulangi lagi!”

Kata orang Perancis, “Sejarah itu berulang!” atau dalam pepatah bahasa Latin, Sejarah itu guru kehidupan. Kalau kata Bung Karno pada pidato terakhir sebagai Presiden RI, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!” yang oleh Menteri Penerangan, H. Harmoko disingkat menjadi “Jasmerah!”

Sebagai orang yang bekerja di penerbitan, saya mempunyai pengalaman menyunting naskah sejarah. Oleh karena itu, berikut ini saya sampaikan catatan-catatan perihal naskah sejarah. Silakan simak uraiannya. Semoga uraian ini berguna bagi Anda yang berminat menyusun buku sejarah.

Kegunaan Sejarah

Di masa lampau terletak masa kini dan pada masa kini terletak masa yang akan datang. Hidup atau kekinian merupakan suatu proses kehidupan. Kenapa seseorang hidup dengan tubuh dan keadaan tertentu merupakan buah dari hidup dan perbuatan orang tuanya. Demikian juga seorang anak yang di bangku SLTP karena pernah di SD dan kelak akan masuk SMU, lalu masuk ke perguruan tinggi.

Untuk memahami masa kini, kita perlu mempelajari masa lampau dan untuk memperoleh gambaran masa-masa yang akan datang, kita perlu mempelajari situasi sekarang.

Republik Indonesia sebagai negara kesatuan merupakan buah perjuangan atau sebagai reaksi atas penjajahan Belanda. Apakah kalau Belanda tidak menjajah, Republik Indonesia akan ada seperti sekarang ini? Barangkali tidak. Demikian pula pertanyaan kenapa kita bersatu? Ya, karena perasaan senasib-sepenanggungan sebagai orang terjajah yang mengalami diskriminasi dan tidak bebas. Ikatan kebangsaan atau nasionalisme Indonesia bukan terletak pada kesamaan suku, agama, budaya, atau wilayah, melainkan pada perasaan senasib-sepenanggungan. Karena faktor itulah, masyarakat bangsa dan negara Republik Indonesia dulu memiliki imajinasi kolektif terhadap suatu negara adil-makmur. Menghadapi proses disintegrasi perlu digali nilai-nilai yang menyatukan masyarakat menjadi bangsa Indonesia. Mungkin perlu dirumuskan kembali imajinasi kolektif yang menyatukan seperti membangun Indonesia yang demokratis dan pluralistik ketika keberagaman suku, agama, adat istiadat, budaya, dan wilayah dihargai. Dengan demikian, sejarah menjadi identitas pribadi dan identitas bersama. Suatu identitas nasional yang saat ini amat diperlukan untuk dikemukakan kembali.

Sejarah sebagai Fakta Peristiwa

Sejarah bukan deretan angka tahun, melainkan fakta peristiwa yang kompleks. Oleh karena itu, semakin singkat suatu sejarah semakin panjang kebohongan. Artinya, melukiskan kisah yang di dalamnya ada profil tokoh pastilah memerlukan uraian panjang-lebar. Meski ada keterbatasan sumber atau catatan sejarah, tetapi harus terus dicari dan disempurnakan.

Sebagai fakta peristiwa yang sekali terjadi atau dalam bahasa Jerman: einmalig tidak mengenal pengandaian atau kata seandainya. Seandainya Cleopatra berhidung pesek, apakah Marcus Antonius jatuh cinta kepadanya? Tidak tahu. Kata seandainya tidak bisa dijawab karena kenyataannya, Antonius kesengsem oleh ratu Mesir yang cantik-jelita, dan alamak sungguh aduhai lenggak-lenggoknya. Nah, fakta peristiwa pasti menarik. Itu pasti. Bayangkan saja kendala bahasa pada waktu itu. Antonius yang berbahasa Latin dengan orang Mesir yang berbahasa Aram atau Arab Kuno. Kok bisa ya jatuh hati?

Kalau sejarawan atau guru sejarah bisa mencari sumber-sumber informasi tentang bagaimananya fakta peristiwa pasti akan memukau pembaca, termasuk murid di kelas. Begitu juga pembicaraan tentang profil tokoh nasional. Bung Karno misalnya, pasti menarik untuk dibahas.

Soekarno mengalami serangkaian pembuangan dan hukuman penjara dari tiga Gubernur Jenderal Hindia Belanda sekaligus, de Graef, de Jongh, dan Tjarda van Starkenbourg-Stachouwer. Kesepian dan sakit karena terkena malaria, juga gangguan ginjal pasti sangat berat bagi Bung Karno, demikian ia akrab disapa ketika dibuang ke Ende. Namun, ia selalu bilang, “Soekarno itu kerikil kecil yang menjatuhkanmu. Bangun dan berlarilah kembali!”

Siapa orang yang bercita-cita menjadi presiden? Mungkin hanya ada dua, yaitu “orang gila” dan Bung Karno. Bung Karno, seperti diceritakan oleh Gatot Mangkupraja pada tahun 20-an ketika melewati kantor Gubernur Jenderal (sekarang Istana Negara) berkata: Suatu hari nanti I will be there! Ternyata memang benar, dia menjadi presiden pertama.

Demikian juga dengan tokoh-tokoh dunia yang lain. Sebut saja Napoleon Bonaparte. Suatu saat Kaisar Napoleon menjatuhkan hukuman mati kepada seorang opsir muda yang terbukti bersalah. Sebelum pisau guilottine memenggal leher, ibu opsir muda itu menghadap Napoleon. Sang ibu memohon ampun atas kesalahan yang dilakukan oleh sang anak tunggal. Napoleon mengatakan: “Dia tidak pantas mendapat pengampunan karena perbuatannya sudah keterlaluan!” Lalu sang ibu menukas: “Kaisar, kalau ia pantas menerima maka namanya bukan pengampunan. Justru karena ia tidak pantas menerima maka apa yang saya minta disebut pengampunan!” Lantas, kaisar membebaskan opsir muda.

Sejarah sebagai fakta peristiwa pasti menarik karena menyangkut orang atau fakta peristiwa yang sekali terjadi. Sejarah menyimpan tanda tanya dan rasa keingintahuan yang berjibun sehingga kalau murid sampai mengantuk saat pelajaran sejarah, pastilah ada sesuatu yang keliru dalam penyampaian isi pernyataannya!

Wawasan Sejarah

Pastilah tidak semua murid menjadi sejarawan atau guru sejarah. Namun, setiap murid wajib memiliki wawasan sejarah. Minimal, wawasan sejarah bagi diri sendiri. Siapa dirinya? Asal-usulnya? Mau kemana dia akan pergi atau akan sekolah? Wawasan ini juga membuat orang bersikap rasional dalam melihat suatu fakta peristiwa atau persoalan atau berita yang muncul. Apa yang dikatakan? Siapa yang mengatakan? Mengapa dia mengatakan hal itu atau melakukan sesuatu perbuatan? Kapan dia mengatakan? Apa kata orang lain? Apakah ada saksi? Apakah ada bukti?

Wawasan sejarah membuat orang kritis terhadap hidup dan pengalaman. Hal itu dapat ditanamkan secara amat intensif lewat pelajaran sejarah. Tugas para guru untuk membangkitkan sikap dan minat agar kritis. Sikap dan minat menimbulkan rasa ingin tahu yang besar sehingga mendorong anak untuk memiliki kebiasaan belajar. Perbandingan sumber berita (siapa yang mengatakan) akan membuat murid berlatih menguji logika fakta peristiwa sehingga tidak menelan mentah-mentah suatu berita atau desas-desus, isapan jempol, rumor, kabar burung, berita bohong, dan SPAM. Pertanyaan tentang apa yang akan terjadi membuat murid terbiasa mengadakan prediksi dan memperkirakan kondisi-kondisi yang harus diwujudkan agar fakta peristiwa dapat terjadi seperti diperkirakannya. Selain itu, rasa keingintahuan mampu menggerakkan minat baca murid yang luar biasa bukan hanya dalam bidang sejarah, melainkan juga dalam bidang-bidang lain. Misalnya, bagaimana seorang Archimedes menemukan hukum yang kemudian disebut Hukum Archimedes. Ternyata saat mandi dan nyemplung di bak, ia merasakan badannya terangkat oleh tekanan air.

Kenapa orang yang melakukan kekerasan seksual disebut sadis. Ternyata, kata sadis berasal dari nama seseorang yang perilakunya kejam. Ia bangsawan Perancis bernama Marquis de Sadde yang dengan gila menuliskan pengalaman-pengalaman menyakiti orang untuk memperoleh kepuasaan seksual. Demikian juga kata Maschokis atau orang yang senang kalau disakiti supaya mendapat kepuasan seksual. Kata itu pun berasal dari orang yang mengalami perlakukan yang sama dan berani menuliskan pengalaman. Ia bernama Frederich von Mashooch.

Nah, berdasarkan rasa keingintahuan yang dibangun dari pelajaran sejarah, murid dapat merambah ke bidang-bidang lain yang sesuai dengan minat. Ternyata wawasan sejarah berkaitan dengan semua bidang. Hal itu menjadi sarana untuk membangkitkan kebiasaan belajar pada murid-murid.

Sejarah Bertualang

De Graaf di kapal yang membawa dirinya ke negeri Belanda bertemu dengan Kapten kapal. Tuan De Graaf, kata Kapten itu, saya heran dengan Tuan. Betapa membosankan hidup Tuan. Bertahun-tahun Anda hanya duduk di kursi dan meneliti arsip. Praktis Anda tidak keluar kamar hanya untuk mempelajari catatan-catatan kuno. Hal itu berbeda dengan saya yang terus bepergian mengarungi samudera dengan kapal saya. Dengan lantang de Graaf menjawab: “Tuan Kapten, rute perjalanan Anda praktis sudah dipetakan. Tidak ada benua baru yang mesti ditemukan atau dicari sehingga Anda sebenarnya hanya pergi dari kota itu ke kota itu saja! Walaupun saya tidak beranjak dari kursi saya selama bertahun-tahun, tetapi saya tidak tahu mau dibawa kemanakah riset saya? Penjelajahan saya tidak hanya menyangkut lautan, melainkan juga waktu. Jadi, saya lebih bertualang dengan duduk di kursi saya daripada Anda!”

Percakapan antara de Graaf dan Kapten terjadi di pelabuhan Surabaya yang semakin meyakinkan sejarawan untuk terus menekuni penelitian. Banyak hal yang masih gelap dalam sejarah Republik Indonesia. Sebut saja masa kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa sekitar Abad X Masehi. Atau pada masa modern banyak hal yang masih misteri, seperti peristiwa G30S PKI, Supersemar, kerusuhan Mei 1998, Peristiwa Semanggi, dan kasus Timor Timur.

Pada sebuah penelitian, seorang teman pernah menemukan dokumen tentang pergerakan kemerdekaan yang dipelopori oleh Perhimpunan Indonesia, wadah para mahasiswa Indonesia di Belanda masa itu, yang pada tahun 1926 dipimpin oleh Mohammad Hatta. Antara lain pada 1936 karena menanggapi situasi waktu itu Perhimpunan Indonesia mengadakan rapat tertutup pada malam hari tanggal 12-6-1936 di Hotel Rijnland, Leiden dimulai pukul 21.00. Dihadiri oleh sekitar 40 anggota yang rata-rata berusia 30-an tahun. Rapat dipimpin oleh Mas Soedario Moewaladi (yang dijuluki Moekim). Rapat ingin membentuk front persatuan politik nasional dari semua pihak kiri dan kanan nasional Indonesia. Perhimpunan Indonesia yang bersemboyan “Hindia lepas dari Belanda sekarang juga” (Indie los van Holland, Nu) harus memegang pimpinan supaya dapat mewujudkan konsentrasi semua kekuatan yang dapat bekerja sama mencapai Indonesia merdeka.(Sumber: ARA- Algemeen Rijkarchief, Den Haag, Mailrapport 619x/1936 CI No. 333640. Geheim). “Dokumen itu bersifat rahasia maka diberi tanda X bahkan kode nomor diikuti dengan kata geheim yang artinya “rahasia.” Aku seakan-akan dapat melihat sendiri para mahasiswa berapat di malam hari sebagaimana biasanya bila para mahasiswa membentuk kekuatan untuk melawan ketidakadilan,” tulis sang peneliti.

Masih diperlukan orang-orang yang mau bertualang mengejar sumber berita agar peristiwa masa lampau itu lebih jelas sosoknya. Penelitian seperti itu tidak mesti berlangsung di komunitas akademik, tetapi penelitian biasa yang dapat menjadi informasi lebih jelas bagi masyarakat. Lewat pelajaran sejarah perlu dibangikitkan para peneliti muda sehingga muncul orang seperti de Graaf yang praktis merekonstruksi seluruh sejarah Mataram.

Terbuka pada Fakta

Lewat sejarah, orang dididik untuk terbuka terhadap fakta. Sejarah yang dimanipulasi untuk kepentingan kultus individu atau kelompok akan ketahuan ketidakbenarannya. Karena kebenaran akan selalu membukakan diri. Berdasarkan informasi terbaru pasti banyak hal pada masa lalu yang terlihat kebenarannya. Candi Borobudur itu hebat, tetapi bagaimana orang zaman dulu mengangkat batu hingga ke puncak bukit untuk stupa? Dengan batang-batang pohon, batu-batu digelindingkan. Pasti banyak korban. Lewat kehebatan bangunan, seseorang bisa membaca adanya korban-korban manusia yang tragis dan dilupakan karena dianggap tidak membangun. Memang menerima fakta sejarah seringkali pahit rasanya. Namun, para murid bisa belajar tentang kesalahan-kesalahan masa lalu. Minimal mengasah hati nurani untuk peka terhadap masalah kemanusiaan. Misalnya, kasus Timor Timur. Ternyata integrasi yang dipaksakan membawa kesulitan di kemudian hari. Nama bangsa menjadi tercoreng dan banyak korban yang sebetulnya tidak diperlukan. Masalah integrasi bangsa yang dulu selalu dianggap beres ternyata timbul gejolak disintegrasi bangsa yang melahirkan kekerasan demi kekerasan. Kalau murid bisa diantarkan untuk bersikap terbuka, pelajaran sejarah telah membawa kesuksesan yang besar. Akan kemanakah negara kesatuan Republik Indonesia, banyak hal tergantung dari pemahaman orang akan sejarahnya? Setiap generasi akan menulis sejarah sendiri, maka tidak ada alasan bagi generasi muda untuk tidak terlibat dan berani menggali informasi dan data yang diperlukan bagi penyempurnaan sejarah.

Menulis Buku Sejarah

Lantas, bagaimana menyusun buku sejarah? Kalau buku sejarah membangkitkan minat pembaca untuk menggali sejarah, maka buku itu dapat menimbulkan rasa keingintahuan untuk mencari dan selalu mencari informasi — membuka wawasan murid akan kenyataan konkret di sekitarnya — niscaya buku yang ditulis memenuhi tujuan penulisan.

Naskah sejarah yang berwujud narasi atau cerita dipenuhi oleh informasi dan inspiratif. Sulitkah menyusun buku seperti itu, apalagi mesti didamaikan dengan tuntutan kurikulum sekolah. Namun, kalau bekal atau modal informasi memadai atau berlimpah niscaya kesulitan jadi enggan mengikutinya. Perlu ketekunan dan kesabaran luar biasa untuk terus-menerus membaca dan belajar serta meneliti. Namun, kenapa Anda belum berani mencoba?

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “Menulis Sejarah, Jauhkan Pengandaian”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

tdk bagus sama sekali
tdk rapi

apa bahasa latin nya :
sejarah adalah guru dari kehidupan.
mohon di balas secepatnya.
please..
hehe. thx b4


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: