Mengenang Saridjah Niung Bintang Soedibyo

Posted on 10 Februari 2007. Filed under: Album |

Kalau saya mengingat Saridjah Niung Bintang Soedibyo, almarhumah yang akrab saya sapa Ibu Sud, semakin bangga dan puaslah hati ini manakala judul lagu Tanah Airku berkumandang. Alkisah, Ibu Sud bertandang ke negeri Paman Sam untuk keperluan perhelatan yang belum saya ketahui sampai saat ini. Di sana ia saksikan serbaneka ekspresi manusia plus serbaneka ekspresi kebebasan. Ia menyaksikan pemuda-pemudi saling bermesraan. Ada yang berciuman dan ada yang berpelukan. Semua itu berlangsung di sembarang tempat. Nah, peristiwa semacam itu rupanya begitu membekas dalam hati sanubari Ibu Sud. “Apa bagusnya negara Amerika Serikat,” cetusnya seraya menambahkan, “Enggak ada bagusnya negeri orang. Lebih bagus lagi Tanah Air. Tidak sebebas di negara itu.” 

Begitu itulah riwayat sekilas munculnya judul lagu “Tanah Airku”. Pendapat Ibu Sud saya dengarkan dan tuliskan dengan saksama, saat wawancara untuk majalah pendidikan Gelora sekitar tujuh tahun yang lalu. Ibu Sud begitu lantang bercerita dengan riang ria, bahkan saya terpana mendengar unek-unek yang disampaikan dengan detail. Lalu saya dijamunya dengan spesial di kawasan Cijantung Jakarta Timur, tempat tinggalnya seluas dua hektare. Saya datang bersama rekan Raymundus Masri Sarep Putra, Managing Editor Penerbit Indeks (2005-2006) dan Promotion Manager PT Grasindo (1994-1996). Pada saat itu, Ray, panggilan akrabnya (kini staf pengajar Universitas Indonusa Esa Unggul yang ditugaskan membantu dan mengembangkan jurusan Ilmu Komunikasi pada Universitas Multimedia Nusantara Jakarta) juga tertarik memanjat pohon kelapa untuk memetik sendiri buah kelapa di pohon miliki Ibu Sud. Begitu senang dan gembira melihat rekan saya memanjat pohon kelapa, lincah dan cepat geraknya, Ibu Sud terpingkal-pingkal sembari tertawa terbahak-bahak seraya berujar, kayak ketek (maksudnya mirip monyet) pandai memanjat pohon kelapa. Hahahahaha, kami pun nyaring bersamaan tertawa lepas. 

Kini lagu Tanah Airku terus berkumandang syahdu dengan suasana khusyuk mengikuti irama kenegaraan memeriahkan hari ulang tahun Republik Indonesia. Tiap tahun tiap hari tiap bulan bisa saja lagu ini berkumandang di seantero Nusantara. Menampakkan keindahan alam, kesuburan tanah, dan kelimpahan kekayaan alam. Namun, sayang Ibu Sud kini wafat (1994) dan belum muncul “Ibu Sud” lain yang mampu mencipta lagu dengan serbaneka kerakusan rakyat dan kerakusan bencana alam di negeri ini yang siap menelan rakyatnya. Bencana demi bencana terus deras melanda negeri gemah ripah loh jinawi tata tentram kerta raharja. Bumi yang saat ini kita pijak siap bergerak-gerak dahsyat, meluluhlantakkan alam dan manusia. Semoga saja tahun 2007 menjadi tonggak kemerdekaan dan harapan munculnya citra “Ibu Sud” baru dengan munculnya karya cipta lagu kenegaraan untuk masyarakat bangsa dan negara Republik Indonesia.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: