Banjir yang Membawa Nestapa

Posted on 6 Februari 2007. Filed under: Unek-Unek |

Tiba-tiba saja SMS masuk dengan isi pernyataan:

Aula gereja Salvator menjadi posko banjir bagi sebagian warga Petamburan, mereka sangat membutuhkan:

a. susu bayi, 0-6 bulan, dan susu untuk balita;

b.makanan bayi;

c. pampers bayi;

d. obat tetes mata;

e. gula, kopi;

f. obat demam, diare;

g. tikar;

h. bacaan anak

bagi Anda yang berminat menyumbang, bisa menghubungi Yesy 0813 17323325 atau langsung saja ke aula gereja Salvator, dengan Tarto (Koordinator Posko). Thx.

Di pihak lain, Pamusuk Eneste, Editor Senior rajin mengirim perkembangan kereta rel listrik yang biasa memperlancar perjalanan  dirinya dengan rute antara Bintaro dan Palmerah. Berikut ini SMS-nya.

KRL yang jalan cuma yang oranye;
Baru berangkat dari Palmerah pukul 12.40.

Aneh, KRL yang berangkat dari Palmerah pukul 12.40 itu sampai sekarang belum kembali ke Palmerah. Sudah hampir 2 jam. 

Tampaknya, KRL jalan sekali dua jam. Soalnya, KRL yang jalan cuma satu: warna oranye.

Dia jalan sekitar 1 jam ke Serpong, dan dari Serpong ke Palmerah 1 jam lagi.

Di tengah-tengah kencangnya kiriman perjalanan kereta rel listrik, mas Pam panggilan akrabnya melanjutkan SMS yang lain, begini:

Ingat Roland Marcus Sutrisno?
Saya dengar dari seorang teman, rumahnya kebanjiran.
Dia mengungsi ke mesjid.

Ingat Pak Sumardi, pengarang Bahasa Indonesia Sekolah Dasar? Kata Ade Tri, redaktur Matabaca rumah Pak Mardi juga kebanjiran.

Mas Pam masih belum cukup puas mengirimkan unek-unek Banjir yang Membawa Nestapa, lalu ia berkirim kabar lagi, berikut ini isi pernyataannya.

Tampaknya, banjir rada sulit surut di Jabodetabek  karena Laut Jawa sedang penuh-penuhnya alias pasang. 

Untung Djony sudah hengkang dari Pondok Pinang ya. Kalau tidak, barangkali kebanjiran juga ya.

Bagaimana kabar Mbak Rosa dan Mas Hadiwarman di Pondok Pinang?

Kini tibalah saatnya saya menjawab,

Ya betul, mas Pam, ada juga yang bilang begitu kepada saya. “Untung Djony sudah pindah, kalau enggak nanti ikutan repot.”

Mbak Rosa (Rosalia Putuhena, bagian keuangan Universitas Multimedia Nusantara) dan Mas Hadiwarman (pensiunan bagian percetakan Gramedia) kebanjiran, itu karena tanggul Ikatan Koperasi Pegawai Negeri di Bintaro jebol. Jadi, luapan air masuk ke Pondok Pinang.

Kalau banjir rada sulit surut di Jabodetabek memang itu karena Laut Jawa sedang penuh-penuhnya alias pasang, sedangkan di daratan sedang penuh-penuhnya air lantaran hujan semakin tak kenal waktu. Jadi, air laut dan air darat sulit bersatu akibatnya “banjir kian membawa nestapa”.

“Wah kasihan ya, kita ikut prihatin,” ujar mas Pam penuh nestapa sembari menutup dialog petang menjelang tutup jam kerja.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “Banjir yang Membawa Nestapa”

RSS Feed for Forum Inovatif Pekerja Media Comments RSS Feed

[…] indonesia Sekolah Dasar? Kata Ade Tri, redaktur Matabaca rumah Pak mardi juga kebanjiran.https://johnherf.wordpress.com/2007/02/06/banjir-yang-membawa-nestapa/Selamat Datang di Website Bappeda LabuhanbatuLingkungan Kantor Sekrtariat Negara Republik indonesia […]

[…] indonesia Sekolah Dasar? Kata Ade Tri, redaktur Matabaca rumah Pak mardi juga kebanjiran.https://johnherf.wordpress.com/2007/02/06/banjir-yang-membawa-nestapa/Direktorat Pembinaan SMADan dua dari atlit karate ini, sudah mewakili indonesia pada kejuaraan […]


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: