Banjir yang Mengabaikan Manajemen Air

Posted on 5 Februari 2007. Filed under: Unek-Unek |

Manajemen drainase, kali, sungai, dan air yang mengalir di tempat kita kurang baik salurannya. Saya ambil sebagai contoh, kata Pamusuk Eneste, 55 tahun, Editor Senior, kalau di kawasan Bintaro Jaya Jakarta Selatan setiap bulan secara berkala, dasar sungai selalu dikeruk sehingga air mengalir dengan lancar. Kebetulan pengembang memerhatikan pembuatan saluran air, mulai dari saluran yang berukuran kecil sampai dengan ukuran membesar yang membentuk perut air, itu selalu dibersihkan dan dikeruk. “Apakah di tempat lain secara berkala dikeruk kotorannya, saya yakin enggak begitu. Kalau pengembang perumahan yang baik secara berkala selalu membersihkan saluran air menjelang musim penghujan,” tegas Pamusuk.

Saya juga melihat manajemen air itu mirip dengan manajemen orang. Kalau seseorang secara berkala dimonitor pekerjaannya, apa yang dihasilkan dan apa yang dikerjakan, niscaya tampak hal-hal yang bisa segera diperbaiki dan dikembangkan menjadi lebih baik. Kalau alpa memantau yang terjadi tentulah berupa ketidaktahuan atas apa yang akan dihasilkan atau apa yang tengah dikerjakan. Demikian pula kalau kita mengabaikan manajemen air dengan baik, niscaya energi negatif air mencari tempat yang cocok untuk disinggahi.

Mas Pam, demikian saya menyapa Pamusuk Eneste mengamini saja penjelasan itu. Ia pun menambahkan di tempat kita ini tidak ada kebiasaan memerhatikan apa yang sebaiknya kita kerjakan dengan baik. Jadinya, banjir di mana-mana muncul merata. Kalau pengembang perumahan yang baik memberi perhatian pada saluran air, membersihkan secara berkala menjelang musim hujan, akibatnya saluran air mengalir lancar. Tanpa hambatan. Kalau tidak begitu, air akan meluap keluar pembatas dan meluber mencari tempat yang biasanya disinggahi. Contoh pengembang yang negatif adalah perumahan di Kelapa Gading. Asal perumahan itu mulanya adalah rawa-rawa. Tempat ini sebagai penyerapan air, sekarang berubah jadi perumahan. Meski infrastruktur berubah, air tidak mengalami perubahan. Manajemen air kurang diperhatikan. Jadi, air tetap datang ke tempat semula saat ia menjadi tempat penyerapan. Pengembang hanya memerhatikan pembangunan fisik gedung. Akibatnya, air tetap datang ke tempat semula dari tempat ia berasal. Banjir di kawasan Kelapa Gading sulit dihindarkan.

“Saya pernah mengalami waktu banjir mampir sedada di Puri Kartika, Ciledug, wah repot dan malu saya terhadap anak saya,” ujar mas Pam, yang kini bermukim di Mertilang IX Bintaro Jaya Jakarta Selatan seraya menambahkan, “kayaknya kita sebagai orang tua enggak mampu memberikan rasa aman dan nyaman kalau rumah kita kebanjiran.”***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: