: Telaah Kritis Fenomena PDS HB Jassin
Fungsi sosial media efektif manakala respons masyarakat terhadap pemberitaan melahirkan reaksi. Tanpa media yang memberi data dan fakta memadai, respons masyarakat tersembunyi. Dalam fenomena Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin peran media menunjukkan daya pengaruh yang jitu. Elemen masyarakat dari segala lapisan dan golongan bergerak pada tujuan: “Selamatkan PDS HB Jassin!” sebelum ajal menjemput menjadi “RIP PDS HB Jassin”. Adakah peluang memperbaiki pusat dokumentasi sastra terbesar di Tanah Air itu? Mampukah data dan dokumentasi diselamatkan oleh masyarakat bangsa dan Negara RI, sebelum tergerus habis?
PDS HB Jassin menyimpan dokumentasi sastra terlengkap di Tanah Air. Dalam kenyataannya, data dan fakta kekayaan masyarakat bangsa dan Negara RI ini belum terekspose oleh media massa secara masif. Meski sejak 1976 kian membawa manfaat bagi masyarakat. Sejak itu, masyarakat memaknai dengan memanfaatkan lembaga sastra PDS HB Jassin. Dalam tempo singkat opini masyarakat terbentuk berupa mitos bahwa sastra lengkap tersedia di PDS HB Jassin. Namun, masyarakat yang membentuk komunitas sastra dan intelektual muda justru semakin nihil.Dalam kurun waktu puluhan tahun semakin dirasakan bahwa PDS HB Jassin mengalami kesulitan keuangan untuk operasionalisasi sehari-hari. Gangguan muncul bukan dari pencinta sastra yang mengunjungi PDS HB Jassin, melainkan kesulitan dana operasional yang menyebabkan lembaga ini sedianya ditutup. Lembaga satu-satunya sebagai pusat koleksi karya sastra di Indonesia ini berlokasi di belakang Planetarium, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.
Proses komunikasi berhasil mewujudkan aksi koin untuk PDS HB Jassin sebagai respons pesan yang disampaikan oleh media. Tanpa respons media, sekian lama PDS HB Jassin seolah-olah tanpa dana. Sejak 1976 tahun demi tahun PDS HB Jassin tetap kesulitan mendanai operasionalisasi lembaga. Fenomena PDS HB Jassin sebagai pusat dokumentasi terpenting di negara ini perlu diwujudkan melalui perkembangan dokumentasi termutakhir. Proses komunikasi tak berjalan efektif manakala kesulitan dana tanpa pesan efektif melalui media. Media massa bukan suatu utopia manakala menggerakkan masyarakat untuk peduli terhadap PDS HB Jassin.***




















kita harus peduli terhadap karya-karya sastra pak, selama ini energi kita terkuras untuk sepakbola yang tidak membawa hasil apa-apa, kecuali tawuran
Budisastro
31 Maret 2011