Produk Lokal yang Mendunia

Posted on 23 Mei 2008. Filed under: Advertorial |

Dhea AnandaSepuluh tema menghiasi wajah “gaya hidup masa kini” di bawah tajuk “Hobi jadi Bisnis Mendunia” persembahan Ni Ketut Aryshanti, Pemenang I Lomba UKM-Femina 2008. Adapun dua dari kesembilan tajuk yang mengisi sampul femina, majalah wanita mingguan (22–28 Mei) di antaranya, “Desi Anwar: Tuduhan Keji itu Risiko Pekerjaan” dan “Dhea Ananda: Sulitnya Menjadi Dewasa”. Namun, ada keunikan lain bahwa ternyata dari serbaneka judul yang terpampang pada sampul tanpa ulasan liputan khas. Padahal, pemimpin redaksinya mengapresiasi produk lokal yang sungguh diperhitungkan di pasaran internasional, menjadi komoditas mahal, bahkan luarbiasa mahal. Berikut ini resumenya.

Dipastikan banyak di antara Anda seperti saya, hobi minum kopi di warung kopi impor, tulis Petty S. Fatimah, Pemimpin Redaksi sembari merekomendasikan Liputan Khas untuk dibaca. Lantas, ia pun menambahkan, membayar mahal untuk kenikmatan secangkir kopi-(nya) ternyata berasal dari negeri sendiri. Java coffee, juga berbagai jenis teh, melanglang buana ke negeri lain sebelum kembali ke Indonesia dalam berbagai produk jadi. “Kami berharap apresiasi kita terhadap produk-produk lokal menjadi fair. Produk lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tulis Petty S. Fatimah penuh harap.

Pada isi pernyataan “Liputan Khas” yang ditulis oleh Tina Savitri terungkap sejumlah fakta bahwa toko-toko atau kios-kios buah di Indonesia nyaris 75% buah-buahan yang dijual merupakan buah impor. Liputan yang bertajuk “Mengapa Harus Beli yang Impor?” (halaman 38–42) ini menjelaskan, buah-buahan lokal, seperti jambu air, jambu biji, pisang, pepaya, kedondong, sawo, kesemek, salak, jadi terkesan minder berdampingan dengan buah-buah impor. Kenapa ya kita kok senang betul pada segala sesuatu yang berbau impor? Ia pun bertanya. Pertanyaan lain pun muncul, bagaimana pula nasib produk pertanian lokal kita di tengah serbuan berbagai pangan impor?

Linda Ibrahim, Sosiolog menuturkan, ada tiga hal yang menjadi pilar pembangunan bangsa, yakni masyarakat, pasar, dan (kebijakan) negara. “Pada bangsa kita ketiga faktor itu masih lemah,” ujarnya.

Meski 60 tahun lebih merdeka, Linda Ibrahim menambahkan, bangsa kita masih lemah secara jati diri, atau dengan kata lain, masih kurang percaya diri di hadapan masyarakat dunia. Selera kita masih mudah didikte, terutama oleh pihak-pihak yang lebih powerful, termasuk dalam urusan makanan. “Kebijakan pasar bebas yang belum waktunya juga ikut menjadi penyebab jati diri bangsa kita tak kunjung kuat,” tambahnya.

Sementara itu, H.S. Dillon, pakar ekonomi pertanian senior menegaskan, keputusan pemerintah kita untuk menjadi anggota World Trade Organization atau WTO merupakan kebijakan yang ridiculous dan lebih banyak bersifat politis. Pasalnya, kondisi pasar kita benar-benar belum siap. Ketika negara kita akhirnya menjadi tempat sampah produk-produk impor, barulah kita kewalahan sendiri. “Jangan heran bila kondom bekas dari luar negeri pun bisa melenggang masuk dengan mudah ke Indonesia,” tegas pria berketurunan India ini.

Pada bagian lain dalam boks, Tina Savitri menulis bertajuk “Kopi Luwak Juara Dunia!” dan “Yang Tak Kalah Juara”, seperti rempah-rempah, beras, buah-buahan, teh, minyak sawit, kelapa dan produk olahan, ikan, sayur-sayuran, umbi-umbian, dan kacang-kacangan.

Ulasan produk lokal belum memadai manakala kesempatan berbagi pengalaman tidak dicantumkan. Oleh karena itu, Tina Savitri menyambangi Haryo Pramoe, 33 tahun, Chef yang bercita-cita ingin mengangkat masakan Indonesia ke kancah kuliner internasional. “Sebisa dan sebanyak mungkin saya menggunakan bahan-bahan asli Indonesia,” tegasnya. Sharing pengalaman dari Marini Zumarnis, 32 tahun, mengurai bahwa kecintaannya pada masakan Indonesia berasal dari keluarga. “Ayah saya orang MInang, dan ibu saya dari Bugis. Setiap kali ada pesta di rumah, Ibu selalu memasak sendiri, biasanya masakan-masakan daerah yang menjadi favorit keluarga. Dari Ibu saya mewarisi hobi memasak,” ujar Marini Zumarnis.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 310 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: