Aplikasi KBK dan KTSP SMP

Posted on 29 April 2008. Filed under: Makalah |

Kini banyak orang bertanya, apakah para guru mengenal kemampuan siswa dan latar belakang budaya dengan baik? Pertanyaan ini mengemuka lantaran di lingkungan pasar atau di lingkungan barak militer, misalnya sangat berbeda pendekatan pengajarannya. Di Papua di pinggir pantai, di kota besar atau di puncak gunung sangat berbeda budayanya. Oleh karena itu, aplikasi kurikulum berbasis kompetensi dan kurikulum tingkat satuan pendidikan dalam pembelajaran memerlukan pemahaman budaya siswa. Dalam hal ini, disiplin ilmu tertentu dan disiplin sikap guru untuk menyiasati dapat membantu guru membuat silabus yang menunjang kreativitas siswa. Berikut ini makalah penting yang disampaikan oleh Agustinus Sudir Inu Menggolo dalam seminar di Jakarta.

APLIKASI KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
DAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
DALAM PEMBELAJARAN SMP KELAS VII

A. Batasan Kurikulum

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan pembelajaran, dan cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Depdiknas , 2004). Kurikulum 2004 yang merupakan perubahan dari kurikulum sebelumnya, karena kurikulum 1994 dinilai sudah tidak relevan dengan perkembangan dan tuntutan zaman, selanjutnya dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Isi KBK lebih mengedepankan kompetensi peserta didik agar setelah lulus dari pendidikan dasar, peserta didik memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjut-nya atau terjun ke dunia kerja.

Dalam rangka pelaksanaan KBK ini, Dirjen Dikdasmen menerbitkan Buku Pedoman Pengembangan Silabus sebagai acuan dan untuk membantu sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan untuk mengembangkan silabus dan sistem penilaian. Setiap silabus mata mata pelajaran mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator (rumusan tujuan pembelajaran), materi pokok, pengalaman belajar, alokasi waktu, dan sumber bahan pelajaran. Standar kompetensi adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa dalam suatu mata pelajaran, sedangkan kompetensi dasar adalah kemampuan minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki oleh siswa (Depdiknas, 2004).

B. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Dalam waktu dua tahun, sosialisasi KBK dan Sistem Penialainnya memang belum cukup. Kebingungan dan kegamangan masih tampak dirasakan oleh guru dan kelompok MGMP tentang KBK dan Sistem Penilaiannya. Keadaan ini makin “diperparah” dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Nomor 22 dan 23 Tahun 2006. Namun kalau diamati, antara KBK dan KTSP perbedaannya tidak terlalu jauh, justru KTSP lebih sederhana dan memberikan keleluasaan guru untuk berimprovisasi dalam praktik kegiatan belajar dan mengajar. Visi Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KSTP) masih mengedepankan kompetensi siswa yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah atau sekolah tertentu. Di bawah ini adalah contoh perbedaan spesifik antara KBK dan KTSP yang dijabarkan dalam silabus:

A Silabus KBK

  • Mata Pelajaran: Bahasa dan Sastra Indonesia
  • Sekolah: SMP Mardi Yuana Depok
  • Kelas/Semester: VII/1
  • Standar Kompetensi: Mampu mendengarkan dan memahami ragam wacana lisan melalui menanggapi isi berita dan menyampaikan isi wawancara.

KOMPETENSI DASAR

MATERI POKOK

STRATEGI PEMBELAJARAN

ALOKASI WAKTU

BAHAN

T. MUKA

PENGALAMAN BELAJAR

Mendengarkan dan memahami isi wawan-cara dengan naras-umber.

Isi wawan-cara dengan nara sum-ber

-Bahasa

lisan

-Isi wawan-

cara

-Penugasan

-Mendengarkan wawancara di TV.

-Memberi tanggapan.

-menulis isi wawancara

-Menyampaikan isi wawancara secara

lisan.

4 x 40 ‘

TV

Sumber:
Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama, Dirjen Dikdasmen, Agustus 2004

Catatan:

  1. Komponen indikator tidak dirumuskan.
  2. Format model lama mencakup KD, Hasil Belajar, Indikator Pencapaian Belajar Kontribusi Terhadap Pengembangan Life Skill, Metode, dan Evaluasi.
  3. Format silabus pembelajaran dari waktu ke waktu makin disempurnakan dalam kegiatan-kegiatan sanggar MGMP.

B Silabus KTSP

Nama Sekolah     : SMP Mardi Yuana Depok

Kelas/Semester  : VII-1

Tahun pelajaran  : 2006/2007

Kemampuan Berbahasa   : Mendengarkan

Standar Kompetensi          : Memahami wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita.

KOMPETENSI DASAR

INDIKATOR

PENGALAMAN BELAJAR

PENILAIAN

ALOKASI WAKTU

SUMBER BELAJAR

Menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat. 1. Mampu menuliskan pokok berita yang diperdengarkan.

2. Mampu menuliskan isi berita ke dalam beberapa kalimat.

3. Mampu memberikan tanggapan mengenai isi berita.

1. Mendengarkan berita yang di-tampilkan oleh guru dari rekam-an berita atau dibacakan oleh guru.

2. Menuliskan pokok-pokok berita yang didengar.

3. Menuliskan berita ke dalam beberapa kalimat.

4. Memberikan tanggapan mengenai berita yang didengar.

Tes lisan dan tertulis

4 jam

Berita koran

Radio/Tape Recorder

TV

Sumber: Sanggar MGMP Bahasa dan Sastra Indonesia SMP se-Kota Depok

Catatan: Silabus KTSP lebih sederhana dan mudah.

C. Aplikasi KBK dan KTSP dalam Pembelajaran

Dibandingkan dengan KTSP, KBK masih memerlukan pemetaan dan pengkla-sifikasian standar kompetensi sebelum membuat silabus. Materi mana yang termasuk kompetensi mendengarkan, berbicara, membaca, ataupun menulis. Ditambah lagi harus dengan mempertimbangkan dan mencantumkan karakteristik peserta didik, yang mencakup perkembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Adapun dalam KTSP, pemetaan dan klasifikasi standar kompetensi yang mencakup kompetensi mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis sudah tertera pada rambu-rambu kurikulum dengan sangat jelas. Pertimbangan dan pencantuman karakteristik peserta didik pun secara implisit tidak dicantumkan dalam silabus tersebut. Meskipun tidak perlu mencantumkan karakteristik peserta didik, guru tetap mempertimbangkan aspek-aspek yang dibutuhkan oleh siswa tersebut (Simpson dalam Taksonomi Bloom, 1989).

Dalam mempersiapkan kegiatan belajar dan mengajar, guru harus menyiapkan empat perangkat awal, yaitu: (1) program tahunan, (2) program semester, (3) silabus, dan (4) rencana pelaksanaan pembelajaran (RRP). RRP ini adalah pen-jabaran silabus yang didesain lebih sederhana, lengkap, dan operasional dalam satu tatap muka (2 jam pelajaran).

Tahapan yang kedua adalah pelaksanaan kegiatan belajar dan mengajar di kelas ataupun di luar kelas atau yang lebih dikenal dengan pengelolaan pembelajaran. Ada dua kegiatan pokok dalam proses belajar mengajar, yaitu: kegiatan menyampaikan materi dan kegiatan pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas yang efektif dan efisien akan sangat menunjang keberhasilan proses belajar dan mengajar. Dan tahap yang ketiga adalah evaluasi. Meskipun evaluasi juga harus dilakukan saat proses belajar dan mengajar berlangsung. Di bawah ini akan diuraikan tentang perbedaan sistem evaluasi kurikulum sebelum KBK, KBK, KSTP, kelebihan, dan kekurangan masing-masing sistem penilaian kurikulum tersebut:

ASPEK

KURIKULUM 1994

KBK

KSTP

Penilaian
  1. Terpadu, hanya ada satu nilai matpel bahasa Indonesia.
  2. Nilai proses tidak menentukan hasil akhir.
  3. Nilai akhir berupa RTUH dan NU    menjadi penentu naik/tidak naik
  4. Nilai mati adalah 5 ke bawah.
  5. Remedial dilakukan untuk se- luruh materi.
  6. Soal dalam bentuk PG dan jawaban singkat masih dominan.
  7. Pembuatan skor nilai relatif mudah dan sederhana.
  8. Analisis butir soal merupakan bagian akhir dari kegiatan evaluasi ini.
  1. Nilai kebahasaan mencakup lima KD.
  2. Nilai sastra mencakup lima KD.
  3. Nilai proses dan nilai akhir sama pentingnya.
  4. Ditetapkan SKBM.
  5. Remedial dilakukan pada kom-petensi yang kurang saja.
  6. Nilai tugas terstruktur dan tugas tidak terstruktur dapat dijadikan sebagai nilai tambah.
  7. Diperlukan tabel penilaian proses.
  8. Nilai praktik lebih dominan.
  9. Pembuatan skor nilai relatif lebih kompleks.
  10. Analisis butir soal merupakan bagian akhir dari kegiatan evaluasi ini.
  1. Nilai kebahasaan dan sastra tidak dipisah-pisah.
  2. Nilai proses dan nilai akhir sama pentingnya.
  3. Ditetapkan SKBM.
  4. Remedial dilakukan pada kompetensi yang kurang saja.
  5. Nilai tugas ter- struktur dan tugas tidak terstruktur dapat dijadikan sebagai nilai tambah
  6. Nilai pengembang- an diri dan pengembangan potensi menjadi penentu naik/ tidaknya siswa.
  7. Diperlukan tabel penilaian proses.
  8. Nilai praktik lebih dominan.
  9. Pembuatan skor nilai relatif lebih kompleks.
  10. Analisis butir soal merupakan bagian akhir dari kegiatan evaluasi ini.
Kelebihan
  1. Tidak rumit
  2. Perencanaan target materi dan waktu ulangan mudah dan jelas.
  3. Nilai pengamatan perilaku siswa jelas dan tinggal memilih A, B, C, atau D.
  1. Kompetensi dasar yang dinilai jelas.
  2. Semua kegiatan pembelajaran ada nilai proses.
  3. Nilai pembiasaan dirumuskan dengan kalimat- kalimat yang jelas dan operasional.
  1. Kompetensi dasar yang dinilai jelas.
  2. Semua kegiatan pembelajaran ada nilai proses.
  3. Tidak ada ujian blok, yang ada adalah pekan ulangan.
Kekurangan
  1. Nilai belum mencerminkan kemampuan keterampilan berbahasa.
  2. Remedial belum menjamin ketuntasan belajar.
  1. Rumit
  2. Menyita waktu
  3. Tidak semua kompetensi dapat diuji secara tertulis
  4. Membingungkan
  5. Penilaian pengamatan terbatas.
  1. Rumit
  2. Menyita waktu
  3. Tidak semua kompetensi dapat diuji secara tertulis
  4. Membingungkan
  5. Penilaian pegembangan diri dan potensi terbatas.

D. Keuntungan dan Hambatan Pelaksanaan KBK dan KTSP yang Dirasakan oleh Guru Mata Pelajaran

Bagi tenaga pendidik yang profesional dan memiliki keinginan untuk maju dan dinamis dalam menyikapi perkembangan teknologi dan tuntutan masyarakat, aplikasi KBK dan KTSP dapat dijadikan sebagai pembelajaran yang lebih menyenangkan. Hal tersebut dapat dilihat dari:

  1. Pengembangan KBK dan KTSP cenderung menggunakan metode kontekstual, yaitu mengaitkan materi dengan kondisi nyata di masyarakat (belajar melalui pengalaman). Peserta didik yang memiliki kemampuan lebih dalam kecakapan dan keterampilan tertentu dapat dipraktikkan langsung. Contoh bermain peran menjadi penyiar TV, reporter, dan presenter. Peserta dapat belajar sendiri di rumah karena fasilitas media tersebut tersedia di rumah atau di sekolah. Peserta didik yang tadinya tertutup pun akhirnya mau mencoba tanpa rasa takut. Tugas guru pun semakin mudah. Metode pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran bahasa Indonesia ini masih dikembangkan menjadi beberapa komponen, misalnya

    kosntruktivisme, masyarakat belajar, penemuan, pemodelan, refleksi, dan portofolio.

  2. Kebiasaan belajar yang berupa teori-teori bahasa dan sastra sudah mulai ditinggalkan. Pembelajaran bahasa dan sastra dikembalikan pada hakikat bahasa sebagai sarana komunikasi. Sebelum KBK dan KTSP, pelajaran sastra hanya berisi nama-nama sastrawan beserta karya-karyanya, aliran-aliran sastra, dan unsur-unsur instrinsik/ ekstrinsik sastra. Akibatnya peserta didik tidak mampu menulis cerpen, tidak mampu mendongeng, dan takut dengan puisi. Setelah diberi kebebasan dalam kegiatan mengapresiasi sastra, ternyata siswa mampu menulis cerpen orisional berlembar-lembar, mampu mendongeng yang dapat menghibur teman-temannya, dan dapat menulis puisi-puisi cinta sampai beberapa judul. Karena banyak pada penilaian kegiatan pragmatis, praktis tidak ada peserta didik yang nilainya jelek atau kurang.
  3. Pekerjaan guru berupa koreksi hasil kerja siswa sedikit berkurang, karena banyak pencapaian kelulusan melalui praktik. Kegiatan guru banyak terkonsentrasi pada persiapan pembelajaran, pembuatan format nilai, tabel penilaian proses, remidial, dan lain-lain. Dari empat keterampilan berbahasa, kompetensi menulis lebih banyak menyita perhatian dan konsentrasi guru.
  4. Pelaksanaan KBK dan KTSP cenderung lebih banyak menggunakan media sebagai sumber bahan belajar. Sekolah yang didukung dengan fasilitas belajar yang lebih lengkap semakin memanjakan dan memudahkan guru dan peserta didik. Hal ini tentu sangat memudahkan guru dalam mengoptimalkan pencapaian tujuan pembelajaran. Belajar tanpa alat/media dan belajar dengan alat/ media, hasilnya pasti berbeda.

Tentunya masih banyak kemudahan-kemudahan yang disuguhkan oleh KBK dan KTSP ini. Namun juga tidak menutup kemungkinan adanya beberapa hambatan yang menjadi kendala berhasil tidaknya pelaksanaan KBK dan KTSP ini. Hal itu dapat ditunjukkan pada:
1)

  1. Kebingungan para guru yang sudah merasa cocok dengan Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, dan Kurikulum 1994. Pendidik cenderung konservatif dan pendidik lansia cenderung tersiksa dengan KBK dan KTSP ini.
  2. Sikap apriori terhadap kebijakan pemerintah menyangkut pemberlakuan KBK dan KTSP, desentralisasi pendidikan, otonomi penyelenggara pendidikan, dan munculnya permasalahan lain. Contohnya UN sebagai standar kelulusan, Ulangan Umum Bersama, Penerimaan Siswa Baru, penyeragaman Buku Laporan Pendidikan, “pemaksaan” pemuatan mata pelajaran tertentu di daerah yang kurang cocok dan tidak diikuti dengan alternatif penggantinya.
  3. Ada beberapa materi yang klasifikasi kompetensi dasarnya tumpang tindih dan kabur. Misalnya membuat dialog dengan memperhatikan penulisan kata ganti orang. Dalam membuat dialog tersebut ada unsur kompetensi berbicara dan menulis.
  4. Ada beberapa istilah yang dinilai lucu dan ambigu. Misalnya bentuk evaluasi, diganti dengan jenis tagihan, menyimak diganti mendengarkan.
  5. Banyak guru yang belum paham betul dengan konsep KBK dan KTSP ini, bahkan pengawas sebagai narasumber pun tidak bisa memberikan solusi kesulitan guru. Pendapat antar pengawas yang satu dengan yang lain, guru yang satu dengan guru yang lain, kadang versi jawabanya berbeda.
  6. Instrumen evaluasinya pun masih sering diperdebatkan, mulai dari penulisan soal yang benar, cara menilai, dan menuangkan dalam buku laporan pendidikan.
  7. Sumber daya manusia yang sudah termakan usia dan kurang profesional, mahalnya pendidikan, gaji di bawah UMR, dan kebijakan tidak populer dari yayasan penyelenggara pendidikan.
  8. Sarana dan prasarana yang jauh dari memadahi atau peraturan sudah diberlakukan, sarana penunjangnya belum ada/disediakan.

Permasalahan di atas merupakan hal yang wajar, mengingat KBK apalagi KTSP dan produk-produk yang mendukung pelaksanaan kurikulum ini umurnya belum lama. Hal yang paling penting dalam menyikapi hambatan ini adalah adanya upaya sosialisasi KTSP yang terprogram, jelas, baku, dan sistematis. Dan yang tidak kalah penting adalah adanya kesadaran para guru, etikat baik, dan kemauan untuk maju supaya keberhasilan pendidikan dapat direalisasikan.

E. Pemilihan Buku Teks

Perubahan kurikulum berdampak pada penggunaan buku teks yang bisa berupa buku paket, buku acuan pokok, dan buku suplemen bagi siswa dan guru. Sebenarnya tidak ada buku teks yang paling baik. Keberhasilan KBM tidak mutlak bergantung dari buku teks yang dipilih atau digunakan, semua kembali pada guru. Namun, paling tidak guru dapat memilihkan buku yang lebih cocok, memberi kemudahan, berkualitas, dan sesuai dengan kurikulum yang digunakan bagi peserta didik (Guntur dan Jago Tarigan, 1986).

Komitmen pemerintah melalui Dinas Pendidikan Provinsi dan Kota/Kabupaten dalam membangun dan memajukan pendidikan dapat dilihat dalam kegiatan pembentukan tim yang bertugas menganalisis buku paket, buku acuan pokok, dan buku suplemen yang layak digunakan oleh sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan. Bagi guru yang kesulitan memilih buku pegangan, guru dapat memilih buku-buku teks pelajaran bahasa Indonesia yang direkomendasikan oleh pemerintah tersebut. Meskipun demikian tidak serta merta, bahwa pemerintah mewajibkan guru harus menggunakan buku yang telah ditetapkan, otonomi tetap pada guru. Setiap insan pendidikan menyadari bahwa buku teks memilki kelebihan-kelebihan dan keterbatasan-keterbatasan (Guntur dan Jago Tarigan, 1986).

Ada beberapa kriteria pemilihan buku teks yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan guru sebelum memutuskan buku yang akan digunakan:
1) Kualitas isi dan kelayakan (mencerminkan sudut pandang yang tangguh, konsep jelas, dan modern)
2) Bahasa atau linguistik (sesuai kaidah, tidak diskriminatif, dan komunikatif)
3) Azas kebermanfaatan dan pendidikan nilai
4) Keberagaman (subjectmatter, sarana evaluasi, gambar, grafik, tabel, dan tugas)
5) Kondisi fisik buku yang baik dan dilengkapi dengan buku kerja atau kaset.
6) Sistematis dan menunjang disiplin ilmu lain yang diperlukan oleh siswa.
(Guntur dan Jago Tarigan, 1986).

Hal-hal nonteknis yang perlu diperhatikan dan diwaspadai dalam pemilihan buku teks:
1) Tidak terprovokasi oleh hasutan penjual buku dengan iming-iming potongan harga dan bonus.
2) Kemasan buku (gambar, warna, sampul, judul, dan atribut lain).
3) Diharapkan guru mempelajari isi buku sebelum memutuskan untuk membeli dan menggunakannya, bila perlu meminta pertimbangan dengan guru bahasa Indonesia lainnya.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

8 Tanggapan to “Aplikasi KBK dan KTSP SMP”

RSS Feed for {johnherf} Comments RSS Feed

(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
(Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
Oleh Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

thanks a lot for providing the writing, it helps me much.

thanks 4 your helping.

SISTEM INFORMASI KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSINYA DONG!!!!!

menurut saya sih lebih baik kita mengacu pada satu kurikulum yang dianggap baik, dan di lanjutkan hingga siswa dapat benar-benar menguasai materi

kalau sebentar -sebentar ganti kurikulum, itu akan membuat kita semaikin bingung..

bagus sekali dengan adanya aplikasi-aplikasi kbk dan ktsp karena banyak orang yang bingung mengenai itu.terima kasih

1. ada yang saya mau tanyakan, apakah ada teori bahasa (aliran linguistik) yang mendasari dalam KBK dan KTSP?

2. kalau ada, tolong sebutkan dan jelaskan apa teori bahasa yang dianut?

It’s good report but there is no model of KTSP analizing


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 308 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: