Memahami Konsep Dasar Perpustakaan Digital

Posted on 14 Februari 2008. Filed under: Resensi |

Pertentangan antara media elektronik dan media cetak begitu menyita waktu, tenaga dan biaya. Manakala pertentangan kerap muncul, ternyata muncul lagi pertentangan lain antara media cetak (koran, televisi, film) dan media portal (situs web). Akar masalah pertentangan muncul manakala sistem lama bergeser ke sistem baru, tatanan lama berubah total ke tatanan baru. Model lama berganti menjadi model baru. Yang lama usang yang baru begitu merangsang. Rangsangan ini melingkupi juga tatkala perpustakaan model lama mencoba masuk ke model perpustakaan digital. Ramai-ramai orang mau peduli bahwa perpustakaan digital mampu menyelesaikan banyak masalah, entah bagi pustakawan entah bagi pengakses awam. Sejauhmana jawaban kemudahan akses atas perpustakaan digital yang cocok dengan keadaan perpustakaan nasional, Putu Laxman Pendit menjabarkan lengkap dalam peluncuran buku barunya. 

Membaca digital yang berkembang saat ini, disandingkan dengan membaca melalui kertas sebagai bahan dasar tetap tak dapat lenyap begitu saja, demikian Blasius Sudarsono, pembicara pada peluncuran buku Perpustakaan Digital, Kamis 14/2 di Perpustakaan Nasional RI. “Saya tertarik membaca dengan kertas,” ujar Blasius Sudarsono seraya mempertanyakan kenapa ia tertarik. “Saya lebih lama berkecimpung di perpustakaan.”

clip_image002Menurut Blasius Sudarsono, Pustakawan Utama Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta, buku “Perpustakaan Digital” karya Putu clip_image004Laxman Pendit, 49 tahun, lebih tepat sebagai Hadiah Valentine. Selain itu, katanya, buku ini menjelaskan perpustakaan digital yang mendasar. Memahami pengetahuan tentang perpustakaan digital. Di Indonesia, perpustakaan Indonesia bermula pada 1971. Oleh karena itu, buku ini memahami hal-hal mendasar. Namun, sayang belum ada indeks. Akan tetapi, Putu kata Blasius ibarat ‘menyemen benih pohon pengetahuan’. Bagaimana perkembangannya, itulah yang mesti diteruskan kepada Putu, demikian Blasius Sudarsono mengurai pandangannya sebagai pembicara seraya menutup dengan dua pertanyaan. Pertama, berkenankah Saudara Putu meningkatkan perpustakaan digital itu? Kedua, maukah kita pustakawan Indonesia meneruskan?

Putu Laxman Pendit dilahirkan di Jakarta, 3 September 1959. Ia penulis buku ini, seorang peneliti, mantan dosen Sekolah Tinggi Publisistik (kini Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta), penulis bidang informasi dan perpustakaan. Ia menyampaikan terima kasih kepada Perpustakaan Nasional, seraya menanggapi Blasius Sudarsono bahwa ia tidak sengaja kenapa memilih tanggal empat belas yang bertepatan dengan Hari Valentine. “Saya malah lupa hari ini Valentine,” ujar peraih gelar doktor filsafat dari RMIT University di Melbourne Australia pada tahun 2000. Menurut Putu, buku ini selesai dicetak tadi malam (Rabu 13/2/08). Oleh karena itu, ada beberapa halangan, seperti ketika saya pindahkan judul di komputer, malah error.

Buku Perpustakaan Digital diperuntukkan untuk teman-teman pustakawan dan menambah kepustakaan Indonesia. Pada umumnya masyarakat Indonesia kalau mendengar kata perpustakaan persepsinya selalu abu-abu dan gelap. Namun, baru ditambah kata digital menjadi Perpustakaan Digital, ternyata seperti mendapat perintah mirip Bandung Bondowoso. Tiba-tiba harus selesai semalam, kata Putu yang meraih gelar Master of Arts dari Loughborough University of Technology di Inggris pada 1988. Ia menggarisbawahi kegamangan pada sebagian besar orang pada konsep-konsep dasar pada kata “perpustakaan”.

Istilah Perpustakaan Digital bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Mendadak muncul di tengah-tengah kita. Ada hal-hal baru. Buku ini dapat dibaca cepat dari A sampai Z. Memang seharusnya dilengkapi indeks. “Ada indeks tapi tidak tercetak,” tukas dosen jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (1989—2005). Ia menggambarkan proses pencetakannya hanya semalam diselesaikan. “Saya minta maaf,” ujar Kepala Laboratorium Komputer Sastra (1990) yang menjanjikan bahwa indeks akan disampaikan secara online yang dapat diunduh (download).

Buku ini menyambut Konferensi Pertemuan Organisasi-Organisasi yang mumpuni di bidang digital. Pertemuan yang lebih besar, menurut Joko Santoso, moderator berlangsung sekitar Mei atau Juni 2008 yang berkaitan dengan Perpustakaan Digital. “Ini kesempatan kita bahwa perhatian dunia kepada Indonesia begitu tinggi,” kata Putu Laxman Pendit, Kepala Pusat Komputer dan Pengolahan Data Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1993).

Buku ini memerlukan masa eksperimen sepuluh tahun. Konseptual Perpustakaan Digital, kata Putu Laxman Pendit memiliki kecerdasan sosial (cerdas bersama-sama), kebebasan atau kemerdekaan informasi, hak asasi dan demokrasi (tidak boleh ada yang terhalangi untuk mempunyai pengetahuan yang berbasis pada etos atau humanistic ethos), kehormatan dan kebersamaan.

clip_image006Putu Laxman Pendit menyampaikan pesan bahwa perpustakaan digital memiliki anggota. Ada sebuah infrastruktur. Basis. Masih menjadi, masih being. Yang terpenting, katanya, perpustakaan digital menghimpun pengetahuan untuk kepentingan bersama. Benih perpustakaan digital ini berlangsung pada 1900-an dari universitas. “Adalah percuma membangun perpustakaan digital tanpa mengetahui konsep dasar,” tegas Putu konsultan untuk pengembangan sistem informasi di Pusat Layanan Informasi, Dewan Perwakilan Rakyat, RI.

Bedah buku dan peluncuran “Perpustakaan Digital: Dari A sampai Z” di Auditorium Perpustakaan Nasional RI Jalan Salemba Raya Nomor 28A Jakarta Pusat berlangsung pukul 9.00—11.00 WIB. Bertindak sebagai moderator, Joko Santoso, Kepala Subbidang Otomasi, Perpustakaan Nasional RI. Hadir pustakawan, profesional teknologi informatika, dan pemerhati masalah perpustakaan yang mencapai seratus orang. Ukuran buku 17,5 x 26 cm, v + 308 halaman dengan harga promo delapan puluh ribu rupiah.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

7 Tanggapan to “Memahami Konsep Dasar Perpustakaan Digital”

RSS Feed for {johnherf} Comments RSS Feed

Aplikasi Digital Library adalah program aplikasi pengelolaan perpustakaan dengan melibatkan pengelolaan database informasi pada perpustakaan. Dengan program ini akan memudahkan petugas/pengelola dalam menjalankan aktivitasnya yang ada hubungannya dengan layanan perpustakaan serta pengguna/anggota perpustakaan untuk menjelajahi segala isi dan fasilitas perpustakaan seperti mencari informasi tentang buku, ebook, katalog buku, download, dan menyalin buku.
Pengembangan dari Aplikasi Digital Library
yakni untuk mengelola pengetahuan/konten multimedia pembelajaran yang dapat diakses seluruh warga sekolah, memfasilitasi penyediaan referensi ilmu pengetahuan terkini (internet based content) sekaligus memfasilitasi pertukaran konten dan atau pakar dengan sekolah lain. Kunjungi kami di http://www.edu-media.org

Pak Putu, saya ingin memiliki buku Perpustakaan Digital karya Bapak. Saya cari di toko buku belum ketemu. Dimana saya bisa mendapatkannya? terima kasih

dampak daripada globalisasi menimbulkan ketidak merataanya akses informasi antara ibu kota dan daerah, ironisnya belum juga merata lembaga informasi, perpustakaan, pusat dokumentasi yang ada, para ahli informasi di sibukkan dengan digital library yang tercipta dari sipat gengsi antar bangsa…

dampak daripada globalisasi menimbulkan ketidak merataanya akses informasi antara ibu kota dan daerah, ironisnya belum juga merata lembaga informasi, perpustakaan, pusat dokumentasi yang ada, para ahli informasi di sibukkan dengan digital library yang tercipta dari sipat gengsi antar bangsa…

pak, saya mau tanya, fitur-fitur yang ada di perpustakaan digital apa-apa saja ya pak??
mohon balasannya ya pak..

: Pertanyaan Mbak Putri belum dapat saya jawab. Fitur-fitur apa saja saya pun belum tahu seperti apa yg Mbak Putri maksudkan. Siplah.

Salam sehat,
Djony Herfan

Saya kan pak lagi ngrjain tugas akhir. Jdi bahan saya kurang tentang fitur-fitur pak.
maksud saya pak fitur-fitur yang ada di e-library secara keseluruhan bukan fitur-fitur yang sering dipakai pada universitas yang telah memakai e-library.
maaf ya pak klo saya menggangu kesibukan bapk.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 357 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: