Menyunting Naskah Sastra

Posted on 30 Januari 2008. Filed under: Opini |

Kini orang sering bertanya, perlukah naskah sastra disunting? Perlukah novel dan cerita pendek disunting? Perlukah naskah puisi dan drama yang hendak diterbitkan jadi buku disunting? Pertanyaan ini menarik bagi seorang editor senior yang kemudian menuliskan melalui majalah Matabaca (16/8/07). “Pertanyaan itu wajar muncul mengingat sastrawan memiliki tameng ampuh bernama licentia poetica (‘kebebasan pengarang’) yang tak bisa diganggu gugat,” tulis mas Pam, panggilan akrab ayah seorang anak, yang mengarang buku Bibliografi Sastra Indonesia: Cerpen, Drama, Novel, Puisi, Antologi, Umum seraya menggarisbawahi, jadi, masih adakah peluang bagi penyunting naskah/editor untuk “memperbaiki” atau “meluruskan” naskah seorang sastrawan? Masih adakah ruang yang tersisa buat penyunting naskah/editor sastra?

Licentia Poetica

Pamusuk Eneste (Foto johnherf) Sepengalaman saya sebagai editor naskah sastra, memang ada hal-hal yang tak bisa diubah dalam sebuah naskah sastra. Jadi, apa yang dituliskan pengarang mestinya seperti itulah yang harus tercetak dalam buku. Perhatikan baris-baris Chairil Anwar dalam Aku Ini Binatang Jalang (1986) berikut ini:

(1a) 3 x 4 m, terlalu sempit buat meniup nyawa! (sajak “Sebuah Kamar”),

(2a) Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945 dan Di uratmu di uratku kapal-kapal kita

bertolak & berlabuh (sajak “Persetujuan dengan Bung Karno”),

(3a) Aku dan Tuti + Greet + Amoi … hati terlantar (sajak “Tuti Artic”), dan

(4a) di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin (sajak “Yang Terampas dan yang Putus”)

Baris-baris itu tentulah tidak mungkin kita sunting menjadi, misalnya,

(1b) tiga kali empat meter, terlalu sempit buat meniup nyawa!

(2b) Dari mulai tanggal 17 Agustus 1945 dan Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh,

(3b) Aku dan Tuti tambah Greet tambah Amoi … hati terlantar, dan

(4b) di Karet, di Karet (daerahku yang akan datang) sampai juga deru dingin.

Apa pun alasannya, baris-baris Chairil itu haruslah tetap seperti versi

(1a)–(4a) dan tak mungkin diubah menjadi versi (1b)—(4b). Pasalnya, Chairil Anwar memang menuliskannya seperti versi pertama.

Inilah salah satu wilayah kebebasan pengarang (licentia poetica) itu dan penyunting naskah/editor sastra harus menghormatinya. Lagi pula, kita tidak bisa lagi berdiskusi dengan Chairil Anwar mengenai penggunaan tgl, y.a.d., &, dan + dalam sajak-sajaknya. Jadi, apa yang dituliskan Chairil tetaplah kita cetak seperti itu.

Namun, itu tidak berarti bahwa naskah pengarang yang masih hidup boleh kita sunting seenaknya. Bagi pengarang yang masih hidup pun tetap berlaku licentia poetica itu. Perhatikanlah, misalnya, sajak-sajak Dorothea Rosa Herliany dalam Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999). Sajak-sajak dalam buku ini tergolong sangat ekstrem dari segi ejaan. Sapardi Djoko Damono malah menyebutnya “penyimpangan ejaan yang tampaknya dilakukan dengan sengaja”.

Bayangkan! Dalam mayoritas teks sajak-sajaknya, Dorothea selalu menggunakan huruf kecil, kecuali untuk kata-kata yang mengacu ke Tuhan seperti pada baris (1) mekar jadi bacin di ketiakNya, (2) tatapanMu masih jauh, dan (3) di kalbuMu yang tak pernah meronta, serta penyebutan beberapa nama, seperti (4) Chairil Anwar dan (5) Ophelia.

Dengan kata lain, kaidah ejaan yang termaktub dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dilanggar habis oleh Dorothea. Mengapa? Bagi Dorothea tak ada huruf kapital setelah titik! Setelah titik semuanya huruf kecil. Lantas, menurut kaidah ejaan, kata ulang ditandai dengan tanda sambung (-). Bagi Dorothea tak berlaku aturan itu. Jangan heran jika Dorothea dalam sajak-sajaknya menulis kitabkitab (bukan kitab-kitab), pohonpohon (bukan pohon-pohon), hurufhuruf (bukan huruf-huruf), terbatukbatuk (bukan terbatuk-batuk), berdesakdesakan (bukan berdesak-desakan), dan lain-lain. Jangan kaget pula bila kita menemukan kata-kata berikut dalam sajak-sajak Dorothea: mimpiburuk (satu kata), beratustahun (satu kata), entahapa (satu kata), segeserdemisegeser (satu kata), langitlangitketakutan (satu kata), dan lain-lain.

Ini pun masih termasuk ranah pengarang yang tak boleh diganggu-gugat penyunting naskah/editor sastra. Ya, inilah licentia poetica itu! Semacam “paspor” bagi pengarang untuk melampaui kaidah ejaan.

Begitu pula kalau Nh. Dini memakai kata kue, kueh, dan kuih dalam cerita kenangan Padang Ilalang di Belakang Rumah (1987); itu pun masih termasuk wilayah pengarang yang tak boleh disunting. Menurut Nh. Dini, ketiga penganan itu ada di Semarang meskipun kebanyakan dari kita — barangkali — hanya mengenal kata kue.

Jadi, para penyunting naskah/editor sastra (dan para pembaca) perlu menghormati pendirian Dini itu.

Idem dito bila Darmanto Jatman lebih menyukai isteri daripada istri. Meski Kamus Besar Bahasa Indonesia menyarankan pemakaian istri (tanpa e), Darmanto tetaplah lebih sreg dengan isteri (dengan e). Itulah sebabnya, judul kumpulan sajak Darmanto bukan Istri, melainkan Isteri (1997).

Ejaan dan Kebenaran Fakta

Kalau semuanya dikembalikan pada licentia poetica, apakah masih ada hal yang perlu “diluruskan” atau disunting oleh penyunting naskah/editor sastra?

j0422127 Tentu saja masih ada. Seorang pengarang/sastrawan tetaplah manusia biasa. Ia bukan malaikat, bukan dewa, bukan Tuhan. Jadi, tetap saja terbuka peluang bagi pengarang untuk melakukan kesalahan atau kekeliruan (salah kaprah, salah tulis, salah tik, dan sebagainya).

Jika pengarang memakai kata merubah dan dirubah, misalnya, dalam naskahnya, penyunting naskah/editor dapat menyuntingnya menjadi mengubah dan diubah. Ini bukan soal licentia poetica. Mungkin saja si pengarang selama ini salah paham. Dia kira yang benar adalah merubah dan dirubah alih-alih mengubah dan diubah. Begitu pula kalau pengarang menggunakan berpetualangan dalam karyanya; penyunting naskah dapat “meluruskannya” menjadi bertualang.

Hal serupa berlaku kalau pengarang menuliskan kata-kata sayapun (satu kata), dimanapun (satu kata), di cium (dua kata), disini (satu kata), dan dipungkiri, misalnya, penyunting naskah dapat “meluruskannya” menjadi saya pun, di mana pun, dicium, di sini, dan dimungkiri. Barangkali saja ini tidak disengaja. Siapa tahu pengarang memang tak paham betul ejaan kata-kata itu.

Lantas kalau ada pengarang yang menulis abad ke-VII (dengan ke-), penyunting naskah dapat menyuntingnya menjadi abad ke-7. Sebaliknya pun berlaku, jika pengarang menulis abad 9 (tanpa ke-), penyunting dapat mengubahnya menjadi abad ke-9.

Ingatan pengarang pun tak sepenuhnya dapat diandalkan. Namanya juga manusia biasa. Jadi, kalau pengarang menyebutkan dalam teksnya Kerusuhan Mei 1997, pastilah penyunting naskah/editor perlu “meluruskannya” menjadi Kerusuhan Mei 1998. Kalau ada pengarang yang menulis Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 7 Agustus 1945, penyunting naskah/editor pun dapat “meluruskannya” menjadi 17 Agustus 1945.

Begitu pula kalau nama resmi Gus Dur ditulis Abdul Rachman Wahid atau Abdulrachman Wahid, penyunting naskah/editor boleh mengubahnya menjadi Abdurrahman Wahid (dua kata dan dobel r pada kata pertama).

Ini berlaku bagi penulisan nama-nama lain yang tidak benar; penyunting naskah dapat membetulkannya. Misalnya, pengarang menuliskan Penerbit Jambatan (nama sebuah penerbit di Jakarta); penyunting naskah/editor dapat mengubahnya menjadi Penerbit Djambatan.

Ada pula gejala unik di kalangan sastrawan Indonesia (dan wartawan media cetak). Kerap kali kita menemukan sebuah kota di Swiss ditulis dengan Geneva, padahal cukup ditulis dengan Jenewa. Barangkali ada pengarang yang menganggap bahwa Geneva lebih keren daripada Jenewa meski mengacu ke kota yang sama. Namun, anggapan itu sebetulnya tak masuk akal. Sesungguhnya, Geneva itu cuma versi Inggris, sedangkan Jenewa versi Indonesia.

Kasus Nh. Dini

Dari contoh-contoh di atas dapat disimpulkan dua hal. Pertama, ada hal-hal yang tak bisa disunting oleh penyunting naskah/editor sastra, terutama bila menyangkut gaya pengarang dan licentia poetica. Kedua, ada pula hal-hal yang bisa “diluruskan” atau “diperbaiki” oleh penyunting naskah/editor, khususnya yang berkaitan dengan ejaan dan kebenaran fakta.

j0422409 Prinsip ini haruslah dipahami betul oleh seorang penyunting naskah/editor sastra, kemudian diterapkan untuk menangani karya sastra pengarang yang sudah meninggal maupun yang masih hidup.

Namun, pemahaman prinsip ini saja belumlah cukup. Penyunting naskah/editor sastra masih perlu memerhatikan satu hal lagi, yaitu konsultasi. Para penyunting naskah/editor sastra perlulah selalu berkonsultasi pada pengarang (yang masih hidup) sebelum mulai menyunting naskah. Jadi, jangan langsung coret sini coret sana sebelum bertemu (berkonsultasi) dengan pengarang. Jika sulit bertemu secara langsung (tatap muka), konsultasi tentu dapat dilakukan lewat telepon atau surat-menyurat.

Konsultasi ini penting agar tidak terjadi kasus seperti yang menimpa Nh. Dini berikut. Pada tahun 1980 Dini pernah kecewa terhadap majalah-wanita Kartini. Pasalnya, Dini diminta menulis cerpen di majalah itu dan Dini pun memenuhinya. Entah kenapa, dedikasi (persembahan) cerpen itu tak dimuat. Sejak itu, Dini tak pernah lagi mengirim cerpen ke majalah Kartini.

Pernah pula Dini kesal terhadap sebuah penerbit yang menerbitkan novelnya Orang-Orang Tran (1985). Kenapa? Dini merasa bahwa penyunting naskah/editor penerbit itu telah mengacak-acak kalimat novel itu. Kalimat yang panjang disunting (dipotong-potong) menjadi dua atau tiga kalimat dan kalimat yang pendek-pendek disatukan menjadi kalimat panjang. Semua pengubahan itu dilakukan tanpa persetujuan Dini!

Pada akhirnya, Dini patah arang dengan penerbit itu. “Seniman harus diberi kebebasan mutlak untuk menentukan karyanya. Semua perubahan yang bersangkutan dengan buah ciptanya harus diberitahukan, harus dimintakan pendapatnya,” kata Dini (lihat Proses Kreatif, 1982: 121).

Tentu tak ada penerbit yang ingin diboikot pengarang sekaliber Nh. Dini hanya karena keteledoran penyunting naskah/editor.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Menyunting Naskah Sastra”

RSS Feed for {johnherf} Comments RSS Feed

Om..
Masukan yang sangat berguna untuk seorang new bie seperti saya . :D


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 310 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: