Terinspirasi Desain Ruang Shalat

Posted on 11 Oktober 2007. Filed under: Resensi |

Sejauh-jauh perjalanan hidup, tetap bertitik tolak kembali ke rumah. Pulang ke kampung halaman sebagai tradisi kembali ke khitah bermakna pula kembali ke tempat kelahiran. Sekeras-keras perjuangan hidup, tetap berpijak kembali ke asal, tempat ia tinggal pada awal kelahiran. Rumah menyediakan kenyamanan hidup bagi penghuni yang senantiasa memiliki ruang khusus untuk berkhusyuk diri; saat ia berunjuk diri untuk maju menghadap ke hadirat Ilahi. Bagaimanakah desain ruang sebagai cermin ketulusan hati yang berhasil diwujudkan? Di manakah desain ruang yang menawarkan keheningan dan kenyamanan diri untuk menghadap keilahian?

Perjuangan hidup memerlukan ruang bertumpu dalam keheningan doa. Ruang bermakna sebagai tempat undur diri dari serbaneka pergulatan hidup keseharian. Dalam kesemarakan pergulatan hidup keduniawian serbaneka atribut diri dilepas bebas di ruang tak bersekat. Di dalam ruang berdesain untuk memenuhi kebutuhan spiritual. Ruang itu berada di dalam hati. Cerminan hati di tempat ia tinggal.

Desain tempat tinggal yang disebut ruang shalat memiliki serbaneka bentuk dan jenis. Perjuangan utama kepemilikan ruang tak bersekat ini demi kekhusyukan beribadah. Saat ini semakin banyak saja, keluarga yang melengkapi tempat tinggal dengan ruang shalat. Entah shalat wajib entah shalat sunnah yang bertumpu pada kegiatan membaca kitab suci Alquran, belajar mengaji, belajar ilmu agama, mendaraskan zikir, menjadi kian nyaman dan hening disertai doa-doa.

Di antara kegalauan hati kemilau dunia, seseorang wajib introspeksi sejenak. Ruang shalat di rumah seperti menjadi pengendali “saat beribadah” di rumah. Seni meraih kekhusyukan tersedia sebagai sumber inspirasi. Ruang-ruang terbaik ditata penuh pesona: mengagumi kebesaran Ilahi. Ruang sebagai tempat kenyamanan hati memanggil ingatan kembali kodrat kemanusiaannya.

Ruang shalat dengan penataan yang apik dan ciamik berpendar matahari kian menambah kekhusyukan doa. Cahaya yang meredup dan menerangi ruang pun jadi mendekat ke alam. Kenyamanan di kala bersila, menyepi di ruang panggung, begitu itulah mencari keheningan di ruang shalat diwujudkan.

Menurut Rahmia Wulandari, sarjana teknik, 27 tahun, sesungguhnya, tempat untuk ibadah bisa di mana saja. Namun, ketika seseorang butuh suasana yang mendukung kualitas ibadah tersebut, maka ruang shalat adalah tempat yang paling tepat. (halaman 5) “Di ruang khusus tersebut, seseorang bisa menghabiskan malam-malamnya dalam alunan doa yang panjang tanpa khawatir terganggu oleh kebisingan dunia,” tegas gadis kelahiran Balikpapan, 20/1.

Lulusan arsitektur Universitas Indonesia ini jurnalis dari tabloid Rumah, 2004—2007. Selain itu, ia editor Serial Rumah. Karyanya berjuluk “Ruang Shalat di Rumah” edisi spesial Rp24.500,00, 64 halaman, ukuran buku 21 x 27,5 sentimeter yang diterbitkan oleh PT Prima Infosarana Media, Jakarta menampilkan serbaneka desain ruang shalat. Buku ini bukan hanya mampu menawarkan inspirasi ruang yang sakral, melainkan juga buku yang memenuhi unsur kepenuhan hidup yang akrab dengan kekhusyukan doa. Sebuah buku yang menciptakan serbaneka desain dengan tema favorit keluarga Indonesia.***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 357 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: