Peluang Kreatif Mainan dan Permainan Tradisional

Posted on 18 Juli 2007. Filed under: Hiburan |

This post was published to johnherf dot-wordpress dotcom at 14:18:30 18/07/2007

Peluang Kreatif Mainan dan Permainan Tradisional

 

 Category            Hiburan 

Mainan dan permainan tradisional masyarakat bangsa dan negara Republik Indonesia sangat melimpah. Melimpahnya mainan dan permainan tradisional ini membuat serbaneka perlindungan dan revitalisasi produk permainan tradisional semakin penting. Aneh rasanya saat mainan dan permainan tradisional khas budaya Indonesia menjadi asing manakala mainan dan permainan tradisional semakin menjauh kehadirannya lantaran kian terlupakan. Untuk itu, Profesor Doktor Edi Setyawati menyampaikan materi berjuluk “Mainan dan Permainan Tradisional: ke Arah Peluang Pengembangannya” pada lokakarya Pekan Produk Budaya Indonesia di Ruang Merak Balai Sidang Jakarta, Kamis 12/7 pukul 11.00 WIB. 

Mainan dan Permainan

Pertama perlu disepakati peristilahan yang hendak digunakan. Kata “mainan” dapat kita gunakan untuk apa yang dalam bahasa Inggris disebut “toys”, yang mengacu pada benda-benda yang dibuat main, seperti boneka, kereta-keretaan, dan sebangsanya, sedangkan kata “permainan” dapat kita gunakan untuk apa yang dalam bahasa Inggris disebut “games”, yaitu pola tindakan bermain yang mengandung aturan tertentu, yang pada umumnya mempunyai unsur kompetisi, kontes atau pertandingan. Sudah barang tentu kebanyakan permainan itu memerlukan alat-alat tertentu yang berupa benda juga, yang harus lebih dahulu disiapkan atau dibuat. Perbedaan antara mainan dan permainan adalah bahwa mainan pada umumnya dinikmati secara soliter, sedangkan permainan selalu memerlukan ‘lawan bermain’, baik satu lawan satu maupun kelompok lawan kelompok. 

Sengaja dibedakan antara “menyiapkan” dan “membuat” benda-benda, baik sebagai mainan maupun untuk digunakan dalam permainan. Dalam hal “menyiapkan”, benda(-benda) yang perlu disiapkan itu dapat begitu saja diambil dari lingkungan alam sekitar, sedangkan dalam konteks lain benda(-benda) harus lebih dahulu dibuat sesuai dengan kebutuhan mainan atau permainan. Adapun pembuatnya itu dapat anak-anak yang hendak bermain itu sendiri, tetapi sering pula pembuat itu perlu seorang yang mempunyai kemahiran ‘profesional’ tertentu. 

Peruntukan mainan atau alat permainan dapat dibedakan menurut kelompok umur, yang secara garis besar adalah: balita, anak, remaja, dan dewasa. Mainan dan permainan yang baik tentulah yang di samping menyenangkan juga sekaligus mempunyai efek melatih budi (untuk jujur dan adil), menguatkan rasa sosial, dan dalam permainan-permainan tertentu juga melatih kebugaran dan ketrampilan raga. Mainan bagi balita berfiingsi terutama untuk mengembangkan daya eksplorasi dan daya imaginasinya. Dapat disebutkan misalnya peranan bola dan boneka dalam memenuhi fungsi itu. Adapun balita belum dapat diharapkan untuk membuat mainan atau alat permainannya sendiri. Maka di sinilah terdapat peluang produsen benda-benda mainan untuk mengisi kebutuhan pasar. 

Dalam mengembangkan mainan dan permainan Indonesia kita semua, baik pengguna maupun produsen, perlu menggali “warisan budaya” sarana bermain yang sudah ada pada berbagai suku bangsa yang ada. Dapat diacu antara lain sebuah himpunan yang diterbitkan oleh Direktorat Pemuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1998, berjudul Permainan Tradisional Indonesia.

Dalam buku itu dirangkum khasanah permainan dari seluruh 27 provinsi yang ada pada waktu itu. Dalam penyimakan berbagai permainan di berbagai daerah, pada berbagai suku bangsa itu, dapat dimunculkan sejumlah kelompok permainan sejenis. Kelompok adu ketahanan raga dapat dicontohkan oleh berbagai kontes dari berbagai daerah, yang di samping ‘adu tubuh’ (misalnya kaki, betis, kepala) juga beberapa menggunakan akt yang perlu disiapkan terlebih dahulu, seperti pemukul dari kayu, pencambuk dari rotan, dan sebagainya.  

Kelompok permainan lain adalah yang bersifat balapan, dengan variasi-variasi:

(a) dengan menggunakan kaki saja;

(b) menggunakan kaki beserta alat tertentu (seperti tempurung kelapa, egrang, dll.);

(c) di samping itu terdapat sejumlah balapan yang menggunakan sarana berupa binatang dan atau suatu jenis ‘kendaraan’. Sebagai contoh golongan permainan jenis yang terakhir itu dapat disebutkan balapan berkuda di NTT dan karapan sapi di Madura.  

Di samping kedua jenis permainan itu terdapat lagi jenis sabung dan pertandingan (satu lawan satu maupun antar-kelompok), dengan alat-alat yang dapat digunakan berupa bola, galah, batu, dll.). Sejumlah permainan yang termasuk jenis-jenis yang disebutkan di atas sering pula digolongkan sebagai “olah raga tradisional”. Sepak takraw, misalnya, sudah diangkat menjadi salah satu nomor dalam acara-acara olah raga. Dalam hal suatu ekspresi budaya tradisional dijadikan “olah raga nasional” (bahkan bisa regional, seperti ASEAN), maka tata-aturannya pun haras dibakukan, sudah tentu dengan pada batas tertentu meninggalkan kekhasan-kekhasan tradisi atau aliran (contoh pada pencak-silat). 

Permasalahan Bahan Baku

Dalam banyak contoh permainan anak-anak pada berbagai suku bangsa itu didapatkan bahwa bahan yang dipakai bermain itu didapat dari bahan-bahan alami yang ada di sekitar tempat hunian, yang anak-anak tinggal memungut saja. Itu bisa berupa daun, bunga, buah, kayu, bambu, tempurung, dll. Maka di sinilah terdapat permasalahan yang berkenaan dengan kelestarian sumber daya genetik, khususnya yang dari tanam-tanaman. Masalah buat yang mau menggunakannya untuk bermaian adalah: adakah lingkungan alamnya masih lestari dan tetap dapat menyediakan bahan-bahan itu. Terkait dengan contoh ini adalah permainan sumbar sum pada anak-anak Jawa, khususnya anak-anak perempuan, sekarang ini konon sudah tak dikenal lagi di Surakarta, dan pohon sawo kecik, yang biji dari buahnya dipakai untuk permainan itu, sekarang sudah sulit dijumpai, dan para penjual di pasar juga sudah tak ada lagi yang jualan sawo kecik. Permainan pada suku-suku bangsa lain juga menyebutkan penggunaan buah mangga muda sebagai alat; juga biji-bijian tertentu untuk menyumpit atau bermain ketapel. Maka di sini terdapat permasalahan dari sudut lain, yaitu adanya manfaat ekonomik yang sebenarnya dapat dikembangkan dari bahan-bahan tanaman itu, sehingga penggunaannya untuk mainan atau alat permainan jadi dapat dilihat sebagai ‘saingan’ bagi pemanfaatan ekonomiknya.

Dalam hubungan ini dapat misalnya dianjurkan agar orang menghindari pemakaian bunga, buah, dan bagian-bagian lain dari tumbuhan yang berguna dan bernilai ekonomik untuk bermain. Tantangannya adalah pengembangan riset untuk memproduksi alat-alat bermain dari bahan sintetis pengganti bahan-bahan alami. Namun kerugiannya adalah, bahwa anak seolah-olah lalu dijauhkan dari peluang bereksplorasi dan berkreasi di dalam lingkungan huniannya, meskipun mungkin saja lingkunagn itu sendiri pun sudah di sana-sini terancam kelestariannya. ‘Kemajuan’ produksi manufaktur pun di sana-sini ‘menyaingi’ si anak. Kalau semula batok kelapa, setelah daging kelapanya dimanfaatkan, menjadi ‘limbah’ yang bebas dipungut dan dipakai oleh si anak untuk bermain, maka kini sampai potongan-potongan yang kecil pun dapat dimanfaatkan dalam upaya ekonomik dengan membuat darinya berbagai benda bias dan benda pakai (misalnya pada tas, untuk bros, kalung, dll.). 

Mempersiapkan ‘Lapangan’

Kalau kita berniat untuk tetap menghidupkan berbagai permainan tradisional, bahkan juga mempertukarkarmya antarsuku bangsa, maka niat itu perlu disertai upaya meyakinkan para perancang tataruang perkotaan dan tataruang pedesaan untuk senantiasa menyediakan ruang nyata untuk itu. 

Di samping ruang-ruang nyata untuk melaksanakan permainan-permainan itu, perlu pula diciptakan ‘lapangan1 usaha untuk memproduksi mainan maupun alat-alat permainan yang bersumber dari tradisi berbagai suku bangsa itu, untuk ‘dikonsumsi’ secara lintas budaya. Tetapi kesaling-kenalan antarbudaya dalam hal bermain ini tentulah tak dapat terjadi dengan sendirinya, melainkan harus dilandasi suatu strategi ‘penciptaan kesadaran budaya’. Dalam hubungan ini, maka sinergi antara dunia industri dan dunia media massa mutlak diperlukan, keduanya dengan bekal wawasan budaya yang cukup. 

Namun tak boleh pula dilupakan, bahwa di luar yang sudah mapan atau dimapankan itu, baik melalui industri maupun media massa, senantiasa perlu disisakan peluang kreatif bagi si anak atau remaja untuk merancang dan membuat sendiri alat-alat bermainnya. Dunia bermain adalah dunia yang tak ada titik berhentinya!***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “Peluang Kreatif Mainan dan Permainan Tradisional”

RSS Feed for {johnherf} Comments RSS Feed

Tidak cepat membosankan, menyenangkan, ada kerjasama, dan persahabatan. Walau kadang ada ego yang muncul dan sedikit menimbulkan pertengkaran (konflik).

Rasa lelah. Yang kemudian disambut dengan siraman air sungai yang jernih dan bersih, dilanjutkan dengan makan dan dongengan dari orang tua, kemudian belajar lalu tidur.

Begitulah kenangan yang selalu muncul saat -pada masa lalu- aku masih mengenal permainan tradisional. Tak bisa cepat dilupakan. Di sana ada ikatan batin, rasa cinta, dan kebersamaan. Kemandirian dan tanggung jawab. Dan tak bisa dibohongi tetntu saja ada kecurangan, dan kenakalan. Ini yang menambah warna dan uniknya permainan tradisional.

Jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Saya jarang sekali menemukan anak-anak kecil bermain mainan tradisional. Mereka sudah menjadi “korban” industri. Oh, sangat disayangkan sekali.

Padahal jika mau merasakan, permianan tradisional itu benar-benar mengasyikan. Semoga permainan tradisional tidak musnah secara total. Andaiakan waktu dapat diputar ulang, aku akan merindukan cahaya bulan purnama dengan bernyanyi dan menari riang bersama teman-teman. Tertawa dan bersenda gurau.

Pak, kembangakan terus artikel ini. Setidaknya, jika permainan tradisional mulai menghilang, masih ada arsip yang dapat dijadikan sebagai rujukan atau sekadar untuk mengenang.

ada gak permainan buat balita yang bisa dimainkan secara seru…..

ada macam2 permainannya?? yang tidak biasa dilakukan sama anak-anak jaman sekarang

nuhun

tolong kirimi contoh permainan dan cara bermainnya makasih


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 308 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: