Pertimbangan Naskah Layak Terbit

Posted on 16 Mei 2007. Filed under: Karangan Khas |

   Pengarang pada era 1970-an saya sebut sebagai pengarang tradisional. Pengarang serbamanual. Pengarang berorientasi pada ilmu dan pengetahuan saja. Irama kerja pun cenderung berasaskan pada substansi semata. Penghargaan karya intelektual sangat tinggi. Oleh karena itu, jenis naskah yang hendak diterbitkan cukup lama bertahan di meja redaksi penerbit. Bahkan saking lamanya, naskah setahun ada di penerbit barulah bisa muncul di toko-toko buku. Tim redaksi bekerja ekstrahati-hati. Jadi, ada rekomendasi bahwa naskah boleh selesai untuk diterbitkan dalam hitungan bulan dan tahun. Pengarang pun kondisinya tanpa tuntutan apa pun dari penerbit, bahkan pengarang pada saat ini sangat berkuasa. Sebagaimana adagium pembeli bak seorang raja, pengarang ialah raja.

   Ide dan gagasan pengarang mahal harganya dan tinggi tingkat pengakuan di masyarakat luas. Setali tiga angpao dengan pengarang, guru pada era 1970-an cukup memadai dengan tingkat perhatian dan rasa hormat murid yang tinggi. Sopan santun dan rasa hormat terhadap orang yang lebih tua dalam usia sungguh-sungguh tulus dan ikhlas.  

   Zaman berubah. Orientasi berubah. Permintaan semakin sedikit, daya beli menurun drastis. Hukum ekonomi mulai ketat berlaku di kalangan penerbit. Dulu idealisme masih setinggi langit, sekarang idealisme tetap ada, meski ada tambahannya, seperti pepatah lama dari Julian Benda: untuk membangun moral saja, sejumlah dana tetap diperlukan. Oleh karena itu, muncul perbedaan yang mencolok, fantastis. Kini perbedaan era 1990-an dengan era 2000-an tampak sungguh nyata.

   Jangan kaget, pengarang jempolan saat ini juga penjual ulung. Naskah sejak awal sudah dipersyaratkan untuk dikirim berspasi dua, minimal program word document, dan naskah dikirim via imel. Penerimaan naskah pun cukup terkendali dengan telepon dari seorang sekretaris redaksi. Pertimbangan naskah diterima biasanya berlangsung sampai tiga bulan. Namun, penerimaan dan penolakan naskah, kini dipercepat. Singkat dan jelas. Naskah diterima artinya kelengkapan naskah yang diminta oleh penerbit sudah dipenuhi. 

   Pengarang sudah mengikuti langkah-langkah kebijakan redaksi penerbit. Kalau naskah ditolak, pihak penerbit dapat menyampaikan informasi penolakan dengan segera via telepon genggam, imel atau surat-menyurat singkat (SMS). Pertimbangan naskah layak terbit cenderung saat ini berorientasi pada selera pasar. Market share atau target pasar pembaca buku kini jadi pertimbangan utama. Jumlah daya serap pembaca sudah dapat diprediksi sejak awal.

   Pengarang juga wajib bertanggung jawab, meski naskah sudah dibukukan. Pengarang wajib ikut serta aktif memasarkan buku hingga mencapai cetak ulang. Prinsip cetak ulang berkaitan dengan ide dan gagasan pengarang yang dapat direvisi atau diperbaiki total lantaran respons positif pembaca atau penerbit menerima informasi demi perbaikan buku. Pengarang pada era information and communication technology atau ICT sulit tinggal diam berpangku tangan hanya menunggu laporan eksemplar yang dicetak dan royalti dari penerbit! 

   Saya punya contoh bahwa tren pengarang ikut jualan buku pada pemusik Element. Grup Element ikutan promosi besar-besaran bukunya. Habis-habisan untuk menuju keberhasilan bagian penjualan buku.

Cinta Terakhir Lebih Indah dari Cinta Pertama 

   Bagi penerbit yang memiliki manajemen teratur, pengarang akan memperoleh keuntungan ganda. Pertama, buku yang dicetak ulang sesuai dengan jumlah eksemplar buku. Artinya, pengarang berhak mendapatkan royalti, kalau sistem royalti yang menjadi kebijakan. Kedua, buku yang dicetak ulang sebagai peluang pengarang memperbaiki naskah menjadi edisi revisi. Jadi, ide dan gagasan yang luhur lagi mulia semakin berkembang dan bertumbuh subur di Indonesia.***

Make a Comment

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 319 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: