Sosis, Kornet, Nuggets: Kelezatan Makanan Limbah Tulang-belulang

Posted on 22 Januari 2007. Filed under: Unek-Unek |

Pengantar 

Makanan sosis, kornet, dan nuggets nikmat dan lezat. Makan untuk sarapan, teman makan siang atau malam sama nikmat dan lezatnya. Nikmatilah kelezatan olahan limbah makanan tulang-belulang ini selama belum ada larangan resmi dari Pemerintah RI. Isi pernyataan ini memang akan menimbulkan pertanyaan lanjutan, dan inilah membuat saya terkejut. Ketiga makanan itu ternyata merupakan makanan sehari-hari yang praktis dengan citarasa yang mengundang selera semua umur penikmat. Mengapa mesti ada larangan terhadap ketiga jenis makanan yang enak dan lezat, selama efek negatifnya belum ditemukan? Simaklah isi pernyataan berikut ini.

Sebenarnya pemerintah harus mulai memperkuat agroindustri  perunggasan tradisional peternakan itik sebagai penyeimbang. Kelembagaan peternakan rakyat ini sebenarnya sudah amat kuat. Hanya alokasi modal dan fasilitas lain tidak pernah tertuju ke mereka, sebab mereka bukan penguasaha yang punya kapling dalam Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia. Jika para peternak itik yang sudah massal pun tak tersentuh perhatian pemerintah, ayam kampung lebih tak terperhatikan lagi. Rakyat memang harus tabah dalam menerima Petaka
Sodom dan Gomora
modern berupa wabah flu burung, demikian isi pernyataan F. Rahardi, wartawan, penyair, penulis artikel “Petaka Sodom dan Gomora”, Kompas, Jumat 19/1.

Rakyat AS tidak menyantap bagian lain dari ayam, kecuali daging dada. Kulit, daging paha, daging sayap, hati, ampela, tabu disantap. Apalagi kepala, leher, pantat, dan ceker. Agroindustri unggas modern sebenarnya telah menentang alam, sekaligus menentang hukum Allah, katanya. Itulah yang harus diubah, bukan hanya restrukturisasi menyangkut pembagian kapling.

Kini, tampaknya konsumen kurang jeli melihat (atau tidak menduga) sosis (sapi dan ayam), nuggets (ayam), dan kornet (sapi), yang dikonsumsi, sebenarnya bukan dari daging, tetapi limbah tulang-belulang. Limbah rumah pemotongan hewan dan rumah pemotongan ayam selalu menghasilkan limbah berupa tulang keras, tulang rawan, sumsum, urat, dan sedikit daging yang masih melekat. “Tulang kerasnya dipisahkan dan disebut meat and bone meal. Ini merupakan bahan campuran industri pakan ternak, termasuk uanggas,” kata F. Rahardi seraya menambahkan, “produk inilah yang semula menjadi bahan campuran industri sosis, kornet, dan nuggets. Padahal, semua itu harus dibuang. Namun, limbah ini dibuang ke negara RRC, India, dan Indonesia. Untuk sarana pembuangan, kota-kota besar di negara berkembang siap dengan restoran cepat saji dan pasar swalayan. Ibu-ibu pasti tak pernah membayangkan, bahan utama produk itu bukan daging, tetapi limbah saat memungut sosis ayam dan nuggets,” kata F. Rahardi.

Bagi saya informasi itu penting sekali mendapat perhatian yang layak dan sepantasnya diketahui oleh publik. Selanjutnya perlu ada yang menanggapi atau melengkapi dengan data yang akurat. Oleh karena itu, saya akan terus memantau dan mengikuti informasi lanjutan dari tulisan F. Rahardi. Nanti juga akan ada reaksi besar yang menghebohkan terhadap informasi ini,” ujar Pamusuk Eneste, 55 tahun, Editor Senior menanggapi tulisan F. Rahardi, saat saya menanyakan komentar atas  tulisan itu. Ia pun menambahkan, saya kira tulisan F. Rahardi dalam rubrik Bahasa Kompas dengan judul Selingkuh. Rupanya ada dua tulisan F. Rahardi yang dimuat dengan rubrik berbeda pada Jumat itu, yakni Opini dengan Bahasa. “Nantilah saya baca lebih tenang Petaka
Sodom dan Gomora
itu,” komentar Pamusuk Eneste.

Sementara itu, menurut Djodi Herman, 31 tahun, Manajer Yamaha Motor Kencana Semarang, sebetulnya judul tulisan itu membuat orang kurang tertarik. Dikiranya soal keagamaan melulu. Mungkin diganti oleh redaktur opini Kompas untuk mencegah dampak negatif dari artikel itu. Kalau judulnya menjadi Sosis, Kornet, dan Nuggets Makanan Limbah yang Lezat, tentu akan memukul industri olahan makanan di Indonesia. “Saya langsung telepon ke istri di rumah yang selalu menghidangkan sosis, kornet, dan nuggets untuk menghentikan makanan itu bagi anak-anak di rumah,” ujar Djodi dari Jakarta mantap seraya menambahkan, “belum tahu pengganti makanan sehari-harinya.”***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

5 Tanggapan to “Sosis, Kornet, Nuggets: Kelezatan Makanan Limbah Tulang-belulang”

RSS Feed for {johnherf} Comments RSS Feed

gapapa tau. limbah tulang belulang juga kan diolah dulu… biasanya dijadikan tepung tulang. lagipula bahan buangan itu ditambahkan dalam jumlah yang sedikit, hanya beberapa % dari jumlah daging yang digunakan. cobalah anda kunjungi pabrik JAPFA Santori!! biar tau proses pengolahan sosis dan nugget..higienis kooooooo….

Saya setuju dengan ulasan F. Rahardi tentang Sodom dan Gomora.
Bocah ini biasanya menulis dengan data data yang valid da akurat.
Dan sebagai bekas seorang wakil pemimpin radaksi/wakil pemimpin umum majalah pertanian Trubus, dia mengetahui seluk beluk peternakan dengan pasti

gimana caranya kita bisa dapetin kalsium dari tulang2 tsb,

Apakah ke3 makanan tersebut 100 presen terbuat dr tulang? atau hanya campuran aja? meskipun dari tulang, tetep ada zat gizinya kan?

“Kini, tampaknya konsumen kurang jeli melihat (atau tidak menduga) sosis (sapi dan ayam), nuggets (ayam), dan kornet (sapi), yang dikonsumsi, sebenarnya bukan dari daging, tetapi limbah tulang-belulang”

Ulasan OMONG KOSONG dan tanpa bukti yang jelas. Penulis tidak pernah melihat langsung proses pembuatan kornet dan sosis di pabrik produksinya. oleh karena itu saya sangat menyanggah dan menantang penulis untuk membuktikan tulisanya.
Tulisan yang membodohi konsumen.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 357 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: