Maklumat Pembelian Hak Cipta

Komitmen Pemerintah RI sudah bulat. Membeli karya asli berupa naskah yang diedarkan via internet. Pelaksanaannya sudah dimulai. Bahan pelajaran dapat diunduh, lalu disebarluaskan kepada komunitas pendidikan se-Tanah Air. Bahan dasarnya hanya memerlukan sejumlah rupiah yang disebut sangat “murah” bagi masyarakat bangsa dan negara RI. Namun, apa pengaruhnya bagi penerbit buku pelajaran di Indonesia?

Melalui Ikatan Penerbit Indonesia atau Ikapi respons atas pembelian hak cipta mulai bergulir. Penerbit memberi reaksi yang mengherankan manakala Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Soedibjo mencanangkan buku murah yang dipatok seharga tujuh ribu lima ratus rupiah per eksemplar. Pamusuk Eneste berkomentar manalah mungkin harga buku semurah itu? Reaksi senada muncul dari kalangan penerbit dalam keanggotaan Ikapi.

Sehubungan dengan penilaian buku pelajaran dari Badan Standar Nasional Pendidikan atau BSNP dan Pusat Perbukuan (Pusbuk), Setia Dharma Madjid, Ketua Umum Ikapi mengimbau. Pertama, pengurus pusat Ikapi mengizinkan penerbit anggotanya mengikuti penilaian yang dilakukan oleh BSNP dan Pusbuk. Kedua, pengurus pusat Ikapi mengimbau dan menyarankan penerbit anggotanya agar tidak menjual hak cipta kepada pemerintah (jika buku-bukunya lulus penilaian BSNP dan Pusbuk).

Imbauan ini diambil sebagai kebijakan pengurus pusat Ikapi. Berdasarkan hasil masukan, kata Ketua Umum Ikapi bahwa Ikapi sebagai asosiasi merasa perlu mengambil sikap. Ikapi setuju pemerintah membeli hak cipta buku pelajaran untuk di-upload di internet. Namun, Ikapi keberatan jika naskah buku pelajaran yang dibeli oleh Pemerintah RI dapat diperbanyak oleh siapa saja untuk tujuan komersil.

Menurut Setia Dharma Madjid, jika penerbit menyerahkan naskah untuk dibeli hak ciptanya oleh Pemerintah RI, artinya siapa saja dapat mencetak dan menjual naskah itu (setelah mendapat izin dari pemerintah). “Penerbit akan kehilangan daya saing atau nilai tambah yang selama ini dimiliki,” tulis Setia Dharma Madjid pada Maklumat tentang Pembelian Hak Cipta melalui Penerbit, Kamis 8/5 seraya menambahkan, kebijakan pemerintah mengganggu perkembangan dan kelangsungan hidup industri buku, khususnya buku pelajaran.

Maklumat yang ditandangani oleh pengurus pusat dan sekretaris umum itu dikirim kepada Ikapi daerah atau perwakilan dan dewan pimpinan pusat  kepada direktur penerbit buku pelajaran. Ia menggarisbawahi peraturan pemerintah Nomor 2 Tahun 2008 tentang naskah yang hak ciptanya sudah dibeli oleh pemerintah boleh digandakan untuk kepentingan komersil.***

Hati ”Mama”

 Ibu, izinkan aku memanggilmu mama

mama mengenal benar anakmu

mama tahu rasa dan asa anakmu……”Mutiara Hitam”

mama mengerti itu semua

Mama……

Andai mata manusia bukan lagi kaca mata kuda

Jikalau telinga belum tuli oleh bising kerasnya hidup

Mama bersuara bagi yang tak bersuara

Mama petualang misteri hidup yang tertirai

Mama……

Ketika aku membaca suaramu dengan hatiku

Aku hanya menangis dan berpikir:

andai aku miliarder

andai aku berkuasa

Kuraih kembali humanisme yang tergadai

Karena ternyata hanya uang dan kuasa nakhodai hidup negeri ini

Mama, aku hanya dapat berdoa

umur panjang untukmu, mama

Mama tanamkan hatimu kepada dua orang saja

Entah siapa mereka

Mereka akan tanamkan kepada empat orang …..

dan 2000 tahun kemudian

Mutiara Hitam menjadi mutiara dunia di atas tanah leluhurnya

atau justru ”Mutiara Hitam” tinggal cerita (lenyap).

     Jogjakarta, Jumat 16/3/06, pukul 00.00 WIB oleh Yermias Ignatius Degei

DSC04596

Situasi anak usia dini yang ada di Kelompok Bermain Fajar Papua, menurut Ibu Widarmi (12/03) — yang terletak di daerah terpencil tepi danau Sentani yang indah menawan dengan kesunyiannya di Kabupaten Jayapura — keadaan kesehatan dan gizi “mutiara hitam” ini belum baik. Di antara mereka masih banyak anak yang ingusan, rambut kotor, perut buncit dan badan gatal-gatal.

Makanan yang tersedia sehari-harinya untuk mereka masih terbatas dan yang sering dikonsumsi anak-anak adalah ubi, talas, pisang dan papeda. Minuman sehari-hari air putih tanpa gula dan tentu anak-anak ini tidak pernah minum susu. Minum susu dianggap barang mewah. Padahal di Papua mempunyai lahan yang sangat luas dan sebagian besar masih menjadi lahan tidur dan tanah Papua pasti lebih mudah untuk tempat ternak sapi dibandingkan ternak sapi di wilayah Jawa. Mutiara hitam belum tahu cara beternak sapi perah. Dari turun temurun mutiara hitam hanya mengetahui ternak hewan babi dan anjing. Sayang sekali tanah Papua yang sangat luas tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Seandainya ada yang membantu memberi modal hewan sapi perah kepada mutiara hitam dan sekaligus mendidiknya bagaimana beternak sapi perah dan mengelola susunya pastilah anak-anak mutiara hitam ini dapat menikmati susu dan mereka dapat tumbuh menjadi lebih baik. Karena ternak sapi memerlukan proses yang lama, sedangkan anak usia dini mendesak kebutuhannya. Maka anak-anak mutiara hitam ini sangat memerlukan bantuan susu bubuk atau memprioritaskan pengadaan susu bubuk yang murah atau terjangkau oleh warga mutiara hitam.***

Aplikasi KBK dan KTSP SMP

Kini banyak orang bertanya, apakah para guru mengenal kemampuan siswa dan latar belakang budaya dengan baik? Pertanyaan ini mengemuka lantaran di lingkungan pasar atau di lingkungan barak militer, misalnya sangat berbeda pendekatan pengajarannya. Di Papua di pinggir pantai, di kota besar atau di puncak gunung sangat berbeda budayanya. Oleh karena itu, aplikasi kurikulum berbasis kompetensi dan kurikulum tingkat satuan pendidikan dalam pembelajaran memerlukan pemahaman budaya siswa. Dalam hal ini, disiplin ilmu tertentu dan disiplin sikap guru untuk menyiasati dapat membantu guru membuat silabus yang menunjang kreativitas siswa. Berikut ini makalah penting yang disampaikan oleh Agustinus Sudir Inu Menggolo dalam seminar di Jakarta.

APLIKASI KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
DAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
DALAM PEMBELAJARAN SMP KELAS VII

A. Batasan Kurikulum

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan pembelajaran, dan cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Depdiknas , 2004). Kurikulum 2004 yang merupakan perubahan dari kurikulum sebelumnya, karena kurikulum 1994 dinilai sudah tidak relevan dengan perkembangan dan tuntutan zaman, selanjutnya dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Isi KBK lebih mengedepankan kompetensi peserta didik agar setelah lulus dari pendidikan dasar, peserta didik memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjut-nya atau terjun ke dunia kerja.

Dalam rangka pelaksanaan KBK ini, Dirjen Dikdasmen menerbitkan Buku Pedoman Pengembangan Silabus sebagai acuan dan untuk membantu sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan untuk mengembangkan silabus dan sistem penilaian. Setiap silabus mata mata pelajaran mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator (rumusan tujuan pembelajaran), materi pokok, pengalaman belajar, alokasi waktu, dan sumber bahan pelajaran. Standar kompetensi adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa dalam suatu mata pelajaran, sedangkan kompetensi dasar adalah kemampuan minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki oleh siswa (Depdiknas, 2004).

B. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Dalam waktu dua tahun, sosialisasi KBK dan Sistem Penialainnya memang belum cukup. Kebingungan dan kegamangan masih tampak dirasakan oleh guru dan kelompok MGMP tentang KBK dan Sistem Penilaiannya. Keadaan ini makin “diperparah” dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Nomor 22 dan 23 Tahun 2006. Namun kalau diamati, antara KBK dan KTSP perbedaannya tidak terlalu jauh, justru KTSP lebih sederhana dan memberikan keleluasaan guru untuk berimprovisasi dalam praktik kegiatan belajar dan mengajar. Visi Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KSTP) masih mengedepankan kompetensi siswa yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah atau sekolah tertentu. Di bawah ini adalah contoh perbedaan spesifik antara KBK dan KTSP yang dijabarkan dalam silabus:

A Silabus KBK

  • Mata Pelajaran: Bahasa dan Sastra Indonesia
  • Sekolah: SMP Mardi Yuana Depok
  • Kelas/Semester: VII/1
  • Standar Kompetensi: Mampu mendengarkan dan memahami ragam wacana lisan melalui menanggapi isi berita dan menyampaikan isi wawancara.

KOMPETENSI DASAR

MATERI POKOK

STRATEGI PEMBELAJARAN

ALOKASI WAKTU

BAHAN

T. MUKA

PENGALAMAN BELAJAR

Mendengarkan dan memahami isi wawan-cara dengan naras-umber.

Isi wawan-cara dengan nara sum-ber

-Bahasa

lisan

-Isi wawan-

cara

-Penugasan

-Mendengarkan wawancara di TV.

-Memberi tanggapan.

-menulis isi wawancara

-Menyampaikan isi wawancara secara

lisan.

4 x 40 ‘

TV

Sumber:
Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama, Dirjen Dikdasmen, Agustus 2004

Catatan:

  1. Komponen indikator tidak dirumuskan.
  2. Format model lama mencakup KD, Hasil Belajar, Indikator Pencapaian Belajar Kontribusi Terhadap Pengembangan Life Skill, Metode, dan Evaluasi.
  3. Format silabus pembelajaran dari waktu ke waktu makin disempurnakan dalam kegiatan-kegiatan sanggar MGMP.

B Silabus KTSP

Nama Sekolah     : SMP Mardi Yuana Depok

Kelas/Semester  : VII-1

Tahun pelajaran  : 2006/2007

Kemampuan Berbahasa   : Mendengarkan

Standar Kompetensi          : Memahami wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita.

KOMPETENSI DASAR

INDIKATOR

PENGALAMAN BELAJAR

PENILAIAN

ALOKASI WAKTU

SUMBER BELAJAR

Menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat. 1. Mampu menuliskan pokok berita yang diperdengarkan.

2. Mampu menuliskan isi berita ke dalam beberapa kalimat.

3. Mampu memberikan tanggapan mengenai isi berita.

1. Mendengarkan berita yang di-tampilkan oleh guru dari rekam-an berita atau dibacakan oleh guru.

2. Menuliskan pokok-pokok berita yang didengar.

3. Menuliskan berita ke dalam beberapa kalimat.

4. Memberikan tanggapan mengenai berita yang didengar.

Tes lisan dan tertulis

4 jam

Berita koran

Radio/Tape Recorder

TV

Sumber: Sanggar MGMP Bahasa dan Sastra Indonesia SMP se-Kota Depok

Catatan: Silabus KTSP lebih sederhana dan mudah.

C. Aplikasi KBK dan KTSP dalam Pembelajaran

Dibandingkan dengan KTSP, KBK masih memerlukan pemetaan dan pengkla-sifikasian standar kompetensi sebelum membuat silabus. Materi mana yang termasuk kompetensi mendengarkan, berbicara, membaca, ataupun menulis. Ditambah lagi harus dengan mempertimbangkan dan mencantumkan karakteristik peserta didik, yang mencakup perkembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Adapun dalam KTSP, pemetaan dan klasifikasi standar kompetensi yang mencakup kompetensi mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis sudah tertera pada rambu-rambu kurikulum dengan sangat jelas. Pertimbangan dan pencantuman karakteristik peserta didik pun secara implisit tidak dicantumkan dalam silabus tersebut. Meskipun tidak perlu mencantumkan karakteristik peserta didik, guru tetap mempertimbangkan aspek-aspek yang dibutuhkan oleh siswa tersebut (Simpson dalam Taksonomi Bloom, 1989).

Dalam mempersiapkan kegiatan belajar dan mengajar, guru harus menyiapkan empat perangkat awal, yaitu: (1) program tahunan, (2) program semester, (3) silabus, dan (4) rencana pelaksanaan pembelajaran (RRP). RRP ini adalah pen-jabaran silabus yang didesain lebih sederhana, lengkap, dan operasional dalam satu tatap muka (2 jam pelajaran).

Tahapan yang kedua adalah pelaksanaan kegiatan belajar dan mengajar di kelas ataupun di luar kelas atau yang lebih dikenal dengan pengelolaan pembelajaran. Ada dua kegiatan pokok dalam proses belajar mengajar, yaitu: kegiatan menyampaikan materi dan kegiatan pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas yang efektif dan efisien akan sangat menunjang keberhasilan proses belajar dan mengajar. Dan tahap yang ketiga adalah evaluasi. Meskipun evaluasi juga harus dilakukan saat proses belajar dan mengajar berlangsung. Di bawah ini akan diuraikan tentang perbedaan sistem evaluasi kurikulum sebelum KBK, KBK, KSTP, kelebihan, dan kekurangan masing-masing sistem penilaian kurikulum tersebut:

ASPEK

KURIKULUM 1994

KBK

KSTP

Penilaian
  1. Terpadu, hanya ada satu nilai matpel bahasa Indonesia.
  2. Nilai proses tidak menentukan hasil akhir.
  3. Nilai akhir berupa RTUH dan NU    menjadi penentu naik/tidak naik
  4. Nilai mati adalah 5 ke bawah.
  5. Remedial dilakukan untuk se- luruh materi.
  6. Soal dalam bentuk PG dan jawaban singkat masih dominan.
  7. Pembuatan skor nilai relatif mudah dan sederhana.
  8. Analisis butir soal merupakan bagian akhir dari kegiatan evaluasi ini.
  1. Nilai kebahasaan mencakup lima KD.
  2. Nilai sastra mencakup lima KD.
  3. Nilai proses dan nilai akhir sama pentingnya.
  4. Ditetapkan SKBM.
  5. Remedial dilakukan pada kom-petensi yang kurang saja.
  6. Nilai tugas terstruktur dan tugas tidak terstruktur dapat dijadikan sebagai nilai tambah.
  7. Diperlukan tabel penilaian proses.
  8. Nilai praktik lebih dominan.
  9. Pembuatan skor nilai relatif lebih kompleks.
  10. Analisis butir soal merupakan bagian akhir dari kegiatan evaluasi ini.
  1. Nilai kebahasaan dan sastra tidak dipisah-pisah.
  2. Nilai proses dan nilai akhir sama pentingnya.
  3. Ditetapkan SKBM.
  4. Remedial dilakukan pada kompetensi yang kurang saja.
  5. Nilai tugas ter- struktur dan tugas tidak terstruktur dapat dijadikan sebagai nilai tambah
  6. Nilai pengembang- an diri dan pengembangan potensi menjadi penentu naik/ tidaknya siswa.
  7. Diperlukan tabel penilaian proses.
  8. Nilai praktik lebih dominan.
  9. Pembuatan skor nilai relatif lebih kompleks.
  10. Analisis butir soal merupakan bagian akhir dari kegiatan evaluasi ini.
Kelebihan
  1. Tidak rumit
  2. Perencanaan target materi dan waktu ulangan mudah dan jelas.
  3. Nilai pengamatan perilaku siswa jelas dan tinggal memilih A, B, C, atau D.
  1. Kompetensi dasar yang dinilai jelas.
  2. Semua kegiatan pembelajaran ada nilai proses.
  3. Nilai pembiasaan dirumuskan dengan kalimat- kalimat yang jelas dan operasional.
  1. Kompetensi dasar yang dinilai jelas.
  2. Semua kegiatan pembelajaran ada nilai proses.
  3. Tidak ada ujian blok, yang ada adalah pekan ulangan.
Kekurangan
  1. Nilai belum mencerminkan kemampuan keterampilan berbahasa.
  2. Remedial belum menjamin ketuntasan belajar.
  1. Rumit
  2. Menyita waktu
  3. Tidak semua kompetensi dapat diuji secara tertulis
  4. Membingungkan
  5. Penilaian pengamatan terbatas.
  1. Rumit
  2. Menyita waktu
  3. Tidak semua kompetensi dapat diuji secara tertulis
  4. Membingungkan
  5. Penilaian pegembangan diri dan potensi terbatas.

D. Keuntungan dan Hambatan Pelaksanaan KBK dan KTSP yang Dirasakan oleh Guru Mata Pelajaran

Bagi tenaga pendidik yang profesional dan memiliki keinginan untuk maju dan dinamis dalam menyikapi perkembangan teknologi dan tuntutan masyarakat, aplikasi KBK dan KTSP dapat dijadikan sebagai pembelajaran yang lebih menyenangkan. Hal tersebut dapat dilihat dari:

  1. Pengembangan KBK dan KTSP cenderung menggunakan metode kontekstual, yaitu mengaitkan materi dengan kondisi nyata di masyarakat (belajar melalui pengalaman). Peserta didik yang memiliki kemampuan lebih dalam kecakapan dan keterampilan tertentu dapat dipraktikkan langsung. Contoh bermain peran menjadi penyiar TV, reporter, dan presenter. Peserta dapat belajar sendiri di rumah karena fasilitas media tersebut tersedia di rumah atau di sekolah. Peserta didik yang tadinya tertutup pun akhirnya mau mencoba tanpa rasa takut. Tugas guru pun semakin mudah. Metode pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran bahasa Indonesia ini masih dikembangkan menjadi beberapa komponen, misalnya

    kosntruktivisme, masyarakat belajar, penemuan, pemodelan, refleksi, dan portofolio.

  2. Kebiasaan belajar yang berupa teori-teori bahasa dan sastra sudah mulai ditinggalkan. Pembelajaran bahasa dan sastra dikembalikan pada hakikat bahasa sebagai sarana komunikasi. Sebelum KBK dan KTSP, pelajaran sastra hanya berisi nama-nama sastrawan beserta karya-karyanya, aliran-aliran sastra, dan unsur-unsur instrinsik/ ekstrinsik sastra. Akibatnya peserta didik tidak mampu menulis cerpen, tidak mampu mendongeng, dan takut dengan puisi. Setelah diberi kebebasan dalam kegiatan mengapresiasi sastra, ternyata siswa mampu menulis cerpen orisional berlembar-lembar, mampu mendongeng yang dapat menghibur teman-temannya, dan dapat menulis puisi-puisi cinta sampai beberapa judul. Karena banyak pada penilaian kegiatan pragmatis, praktis tidak ada peserta didik yang nilainya jelek atau kurang.
  3. Pekerjaan guru berupa koreksi hasil kerja siswa sedikit berkurang, karena banyak pencapaian kelulusan melalui praktik. Kegiatan guru banyak terkonsentrasi pada persiapan pembelajaran, pembuatan format nilai, tabel penilaian proses, remidial, dan lain-lain. Dari empat keterampilan berbahasa, kompetensi menulis lebih banyak menyita perhatian dan konsentrasi guru.
  4. Pelaksanaan KBK dan KTSP cenderung lebih banyak menggunakan media sebagai sumber bahan belajar. Sekolah yang didukung dengan fasilitas belajar yang lebih lengkap semakin memanjakan dan memudahkan guru dan peserta didik. Hal ini tentu sangat memudahkan guru dalam mengoptimalkan pencapaian tujuan pembelajaran. Belajar tanpa alat/media dan belajar dengan alat/ media, hasilnya pasti berbeda.

Tentunya masih banyak kemudahan-kemudahan yang disuguhkan oleh KBK dan KTSP ini. Namun juga tidak menutup kemungkinan adanya beberapa hambatan yang menjadi kendala berhasil tidaknya pelaksanaan KBK dan KTSP ini. Hal itu dapat ditunjukkan pada:
1)

  1. Kebingungan para guru yang sudah merasa cocok dengan Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, dan Kurikulum 1994. Pendidik cenderung konservatif dan pendidik lansia cenderung tersiksa dengan KBK dan KTSP ini.
  2. Sikap apriori terhadap kebijakan pemerintah menyangkut pemberlakuan KBK dan KTSP, desentralisasi pendidikan, otonomi penyelenggara pendidikan, dan munculnya permasalahan lain. Contohnya UN sebagai standar kelulusan, Ulangan Umum Bersama, Penerimaan Siswa Baru, penyeragaman Buku Laporan Pendidikan, “pemaksaan” pemuatan mata pelajaran tertentu di daerah yang kurang cocok dan tidak diikuti dengan alternatif penggantinya.
  3. Ada beberapa materi yang klasifikasi kompetensi dasarnya tumpang tindih dan kabur. Misalnya membuat dialog dengan memperhatikan penulisan kata ganti orang. Dalam membuat dialog tersebut ada unsur kompetensi berbicara dan menulis.
  4. Ada beberapa istilah yang dinilai lucu dan ambigu. Misalnya bentuk evaluasi, diganti dengan jenis tagihan, menyimak diganti mendengarkan.
  5. Banyak guru yang belum paham betul dengan konsep KBK dan KTSP ini, bahkan pengawas sebagai narasumber pun tidak bisa memberikan solusi kesulitan guru. Pendapat antar pengawas yang satu dengan yang lain, guru yang satu dengan guru yang lain, kadang versi jawabanya berbeda.
  6. Instrumen evaluasinya pun masih sering diperdebatkan, mulai dari penulisan soal yang benar, cara menilai, dan menuangkan dalam buku laporan pendidikan.
  7. Sumber daya manusia yang sudah termakan usia dan kurang profesional, mahalnya pendidikan, gaji di bawah UMR, dan kebijakan tidak populer dari yayasan penyelenggara pendidikan.
  8. Sarana dan prasarana yang jauh dari memadahi atau peraturan sudah diberlakukan, sarana penunjangnya belum ada/disediakan.

Permasalahan di atas merupakan hal yang wajar, mengingat KBK apalagi KTSP dan produk-produk yang mendukung pelaksanaan kurikulum ini umurnya belum lama. Hal yang paling penting dalam menyikapi hambatan ini adalah adanya upaya sosialisasi KTSP yang terprogram, jelas, baku, dan sistematis. Dan yang tidak kalah penting adalah adanya kesadaran para guru, etikat baik, dan kemauan untuk maju supaya keberhasilan pendidikan dapat direalisasikan.

E. Pemilihan Buku Teks

Perubahan kurikulum berdampak pada penggunaan buku teks yang bisa berupa buku paket, buku acuan pokok, dan buku suplemen bagi siswa dan guru. Sebenarnya tidak ada buku teks yang paling baik. Keberhasilan KBM tidak mutlak bergantung dari buku teks yang dipilih atau digunakan, semua kembali pada guru. Namun, paling tidak guru dapat memilihkan buku yang lebih cocok, memberi kemudahan, berkualitas, dan sesuai dengan kurikulum yang digunakan bagi peserta didik (Guntur dan Jago Tarigan, 1986).

Komitmen pemerintah melalui Dinas Pendidikan Provinsi dan Kota/Kabupaten dalam membangun dan memajukan pendidikan dapat dilihat dalam kegiatan pembentukan tim yang bertugas menganalisis buku paket, buku acuan pokok, dan buku suplemen yang layak digunakan oleh sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan. Bagi guru yang kesulitan memilih buku pegangan, guru dapat memilih buku-buku teks pelajaran bahasa Indonesia yang direkomendasikan oleh pemerintah tersebut. Meskipun demikian tidak serta merta, bahwa pemerintah mewajibkan guru harus menggunakan buku yang telah ditetapkan, otonomi tetap pada guru. Setiap insan pendidikan menyadari bahwa buku teks memilki kelebihan-kelebihan dan keterbatasan-keterbatasan (Guntur dan Jago Tarigan, 1986).

Ada beberapa kriteria pemilihan buku teks yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan guru sebelum memutuskan buku yang akan digunakan:
1) Kualitas isi dan kelayakan (mencerminkan sudut pandang yang tangguh, konsep jelas, dan modern)
2) Bahasa atau linguistik (sesuai kaidah, tidak diskriminatif, dan komunikatif)
3) Azas kebermanfaatan dan pendidikan nilai
4) Keberagaman (subjectmatter, sarana evaluasi, gambar, grafik, tabel, dan tugas)
5) Kondisi fisik buku yang baik dan dilengkapi dengan buku kerja atau kaset.
6) Sistematis dan menunjang disiplin ilmu lain yang diperlukan oleh siswa.
(Guntur dan Jago Tarigan, 1986).

Hal-hal nonteknis yang perlu diperhatikan dan diwaspadai dalam pemilihan buku teks:
1) Tidak terprovokasi oleh hasutan penjual buku dengan iming-iming potongan harga dan bonus.
2) Kemasan buku (gambar, warna, sampul, judul, dan atribut lain).
3) Diharapkan guru mempelajari isi buku sebelum memutuskan untuk membeli dan menggunakannya, bila perlu meminta pertimbangan dengan guru bahasa Indonesia lainnya.

Rahasia Esensi Perubahan Berpikir

Apa yang Anda dapatkan dari pelatihan atau lokakarya The Secret of Mindset? Pertanyaan ini belum mendapat jawaban memuaskan dari sebagian besar peserta yang menerima selembar isi pernyataan. Jawaban atas pertanyaan memang memerlukan waktu yang memadai. Ketika alam pikiran peserta tengah menjelahi diri untuk mencari jawaban, Ir. Adi W. Gunawan, M.Pd.,C.Ht. sudah mengajukan lima kunci sukses. Sejauhmana rahasia esensi perubahan berpikir mengantar kesuksesan bagi seseorang? 

Sampai dengan April 2008, Adi, panggilannya menulis 12 buku. Ia produktif. Kedua belas bukunya terlaris. Tulisannya menampakkan kepedulian tinggi pada persoalan pendidikan, kemampuan otak, kecerdasan, pemaksimalan potensi diri untuk mencapai derajat maksimal. Adi kerap menjadi pembicara atau pelatih (trainer) di bidang pendidikan dan pengembangan diri.

Pada sesi lokakarya atau workshop “Rahasia Esensi Perubahan Berpikir” (The Secret of Mindset), Jumat 25/4 pukul 14.00—16.30 WIB di Jakarta, Adi menyatakan rasa terima kasih yang mendalam terhadap Gramedia. Pasalnya, seorang kawan lama, katanya, pernah berkomentar bahwa setelah melihat jadwal roadshow seminar yang diselenggarakan di 12 kota, Adi dianggap sebagai orang top. Apalagi untuk acara Sabtu, 26 April 2008 , pukul 9.00–17.00 di hotel Santika Premiere, Jakarta, panitia terpaksa menutup pendaftaran peserta yang berminat ikut lokakarya itu.

Pertanyaan-pertanyaan lain yang mengemuka pada lokakarya di antaranya apakah definisi mindset, apakah Anda merasa sulit untuk berubah, sulit untuk sukses? Pertanyaan ini mendapat porsi panjang lebar bahwa cara kerja pikiran, esensi perubahan berpikir (mind set), motivasi, terapi, transformasi diri holistik pada level pikiran sadar, pikiran bawah sadar, mental atau emosi dan spiritual, dan spiritualitas seseorang dapat dilatih jika ia ingin berubah secara cepat dan permanen. Adi mengaku bahwa ia bukan motivator, melainkan seorang terapis. Untuk itu, ia menggarisbawahi lima kunci bagi seseorang yang sukses. Pertama, mengetahui apa yang ia inginkan. Kedua, yakin. Ketiga, bersyukur. Keempat, pasrah. Kelima, doa.

Pada bagian lain, Adi menyampaikan terapi bahwa bila muncul masalah yang berhubungan dengan hardware (fisik otak), maka teknologi mutakhir Brain Wave I dapat mendeteksi kerusakan otak dan ketidakseimbangan antara otak kiri dan kanan. Dengan teknologi Brain Wave I, ia mampu mensinkronkan kedua belahan otak, secara permanen, hanya dalam waktu 12 menit. Hal ini sangat sulit dicapai ketika menggunakan teknik biasa, seperti meditasi, taichi, chi kung, atau musik dengan binaural beat. Brain Wave I sangat baik untuk terapi kesulitan konsentrasi, penderita dyslexia ADD (attention deficit disorder), daya ingat lemah, dan meningkatkan vibrasi medan energi tubuh.

Pada bagian mental, emosi, psikis atau software pikiran, menurut Adi, hal itu bergantung pada kondisi seseorang, Untuk itu, ia menggunakan teknik hypnosis dan hypnotherapy, EFT, SMC, NLP, dan Energy Therapy. Serbaneka kasus yang ditangani Adi — yang berhubungan dengan aspek mental — berkaitan dengan emosi, psikis atau software pikiran, antara lain fobia, trauma atau luka batin ( bayi sejak dalam kandungan, usia tiga bulan sudah dapat diprogram. “Usia tiga bulan, bagi orang tua yang bermasalah dapat membuat luka batin bagi si bayi,” ujar Adi,), tidak percaya diri, kesulitan diet, takut berbicara di depan umum, gagap atau kesulitan bicara, konflik diri (inner conflict), takut sukses bahkan takut gagal, insomnia, kecemasan, stres, depresi, pencapaian prestasi hidup rendah, kegagalan hidup (padahal, ia telah mencoba segala cara), meningkatkan penghasilan, menemukan benda yang hilang (ia memperagakan pada seseorang yang kehilangan kunci, padahal sang kunci berada di depan mata), meng-upgrade atau memperbarui serbaneka program negatif di masa kecil, meng-install program baru yang mendukung keberhasilan hidup, memotivasi atau empowerment, kebiasaan buruk, dan sejumlah permasalahan seksual.

Sejauh-jauh mata memandang saat ini di toko buku Gramedia memang tampak jejeran atau display serbaneka buku pengembangan diri. Di antara jejeran buku itu, buku karangan Adi tampak jelas terbaca judul dan potret diri. Pada sampul buku Adi tampak kekhasan yang menampilkan potret diri berukuran close up dengan mimik Adi yang penuh percaya diri. “Saya harus mengatakan dengan jujur apa yang telah terjadi dengan hidup saya. Cerita ini yang selama ini tidak diketahui publik. Jujur pencapaian saya saat ini masih belum apa-apa. Ini barulah awal dari perjalanan panjang hidup saya seperti yang saya tulis di buku impian saya (1995). Masih banyak yang harus saya kerjakan, untuk diri saya dan juga untuk masyarakat. Saya mengatakan bahwa ini masih awal karena saya masih terus berproses, jatuh bangun, mengembangkan diri saya. Saya bisa seperti sekarang ini sebenarnya bukan karena saya hebat atau pintar. Saya bisa seperti sekarang ini karena saya dibesarkan oleh Gramedia. Lebih jujur lagi saya katakan bahwa saya sebenarnya nunut nama besar Gramedia,” tutur Adi di hadapan peserta yang sangat antusias menyimak kata per kata dari seorang terapis jempolan. Ia pun menambahkan, “Saya ingat sekali saat pertama kali Gramedia memperkenalkan saya ke publik, melalui seminar Born to be a Genius yang diselenggarakan di Jakarta, di hotel Santika, 24 Oktober 2002. Dalam seminar ini saya dipasangkan dengan Arief Rahman, pakar pendidikan, dan dimoderatori oleh Marissa Haque. Seminar ini yang pertama bagi saya yang diekspose ke publik. Ini awal dari karier saya sebagai pembicara publik di Indonesia.”

Produktivitas Adi sebagai penulis buku diakui sebagai akumulasi atas persiapan atau komitmen diri terhadap buku. Dahulu, katanya, saya mencantumkan serbaneka teks bertuliskan “Saya pasti bisa” di pelbagai tempat di rumah, seperti di kulkas, di kamar mandi, di cermin, di tempat ia biasa merapikan rambut dan berkemas diri. Selain itu, ia sudah membaca habis serial “Trio Detektif” dan “Lima Sekawan” hingga “Berpikir dan Berjiwa Besar” karya Dale Carnegie. Saat ini ada ribuan buku tersusun rapi di rak bukunya yang apik dan ciamik.

Penulis yang produktif senantiasa mendapat dukungan penuh dari tim penerbit. Apalagi buku yang diterbitkan mendapat respons yang tinggi dari pembacanya, selain buku yang ditulis dapat Adi revisi, buku itu juga menjadi contoh teladan baik. Dengan demikian, tujuan penulisan tercapai. “Saya mendapat sangat banyak dukungan dari kawan-kawan di Gramedia mengenai buku apa yang sebaiknya saya tulis, gaya penulisan, konten, kritik, saran, dan dorongan untuk semakin produktif.,” tegas Adi mantap.

Berlalunya waktu cepat sekali, bermula dari satu buku “Born to be a Genius” (Maret 2003), berlanjut ke “Genius Learning Strategy” (Oktober 2003). Kemudian Adi meluncurkan “Manage Your Mind for Success,” “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian 2″, “Hypnosis: The Art of Subconscious Communication”, “Hypnotherapy: The Art of Subconcsious Restructuring”, “Becoming a Money Magnet” (2007), “Cara Jenius Menguasai Tabel Perkalian”, “5 Principle to Turn Your Dreams Into Reality”. Yang terbaru “The Secret of Mindset” (200 8) dengan roadshow seminar di 12 kota besar di Indonesia. “Setahu saya, baru kali ini ada buku yang di-road-show-kan di 12 kota, dengan durasi seminar mulai pagi jam 9.00 sampai sore jam 17.00,” ucap Adi mengakhiri lokakarya khusus bagi komunitas karyawan Kompas Gramedia.

Adi W. Gunawan menikahi mantan kekasihnya waktu di SMA, Stephanie Rosaline C. S.E. Ayah dari tiga putri: Dyah Ayu Kusumawardani G., Dyah Ayu Kumalasari G., dan Dyah Ayu Permatasari G. ini menambahkan, “Saya sungguh merasa senang, bahagia, haru, dan sungguh berterima kasih kepada Gramedia, penerbit, toko buku, atas semua dukungan yang telah diberikan kepada saya. Tanpa dukungan yang begitu luar biasa, saya tidak akan bisa seperti sekarang ini.”

Background pendidikan dan pelatihan

  1. SMAK Santo Yusuf, Malang;
  2. S1 Teknik Elektro STTS, Surabaya;
  3. Master Trainer Accelerated Learning dari The Accelerated Learning Institute  &  Training Center, Las Vegas Amerika;
  4. Diploma Pendidikan Anak Dini Usia dari Modern Montessori International London;
  5. Magister Pendidikan (S2) dari Universitas Negeri Surabaya (IKIP). Lulusan terbaik dari total 1.772 lulusan dengan menyandang IPK tertinggi (cum laude) saat diwisuda April 2006;
  6. Certified Hypno